16 Desember 2009

Masa Kecil yang Terindah

Resensi 'Masa Kanak-kanak' dalam harian Kaltim PostSAMARINDA – Masa kecil atau masa kanak-kanak adalah masa-masa yang terindah dalam hidup. Masa penuh kenangan. Sangat sulit dilupakan, karena sangat berkesan. Namun sangat jarang dari kita dapat menuliskan masa kanak-kanak itu. Sementara Jona Oberski dengan gamblang mendeskripsikan kembali masa sejuta kenangan itu dalam buku bertitel Kinderjaren atau Masa Kanak-Kanak.

Seolah-olah Jona Oberski memutar kembali lembaran masa kecilnya sewaktu Perang Dunia II. Baik semasa ia berada di kamp konsentrasi Westerbork (Belanda) maupun ketika berada di Bergen Belsen (Jerman).

Karyanya yang cukup monumental ini, Kinderjaren sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa dan diterbitkan di Kanda, Denmark, Jerman, Inggris, Finlandia, Prancis, Yunani, Hungaria, Israel, Italia, Jepang, Kroasia, Norwegia, Polandia, Spanyol, Amerika Serikat, Swedia dan termasuk Indonesia.

Gaya bahasanya sederhana, mudah dicerna dan sangat deskriptif. Seolah pembaca diajak ke suasana masa kecil di sebuah tempat seperti dalam cerita buku ini.

Penulisnya dapat menyelami perasaan bahagia kanak-kanak yang periang, sangat mendambakan ayah dan ibu seperti seharusnya. Beberapa alenia dibuka dengan kalimat langsung, layaknya seseorang yang tengah bercerita tentang kehidupan di masa kecil. "Kali ini di kamp berbeda keadaannya," ujar ibuku di Puncak Putih halaman 32. "Jangan kaget, semua baik-baik saja, aku di sini bersamamu" dalam Kekeliruan halaman 14. Buku setebal 92 halaman terbitan Pena Wormer Jakarta (2009) ini cukup kaya informasi.

Dalam kata pengantarnya, Dr Lilie Suratminto, Pengajar Bahasa dan Sejarah Sosial Budaya Belanda Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia menyebutkan, penceritaan buku ini bersifat autobiografis. Kendati nama bocah dari awal hingga akhir cerita tak disebutkan, namun dilakukan secara kronologis yang terdiri dari 21 tema dalam 5 bab. Menggunakan bahasa anak usia 8 tahun dengan kalimat pendek-pendek, Ibu berkata... Aku berkata... Aku berseru... Aku berteriak... Aku berujar... ditulis polos. (ar)

Dimuat dalam harian Kaltim Post, Rabu, 2 Desember 2009

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

02 Desember 2009

Resensi 'Tribun Kaltim': Masa Kanak-kanak (Kinderjaren)

Resensi 'Masa Kanak-kanak dalam harian Tribun Kaltim
MASA Kanak-kanak (Kinderjarden) adalah novela karangan fisikawan dan penulis Amsterdam Jona Oberski (1938) yang ditulis berdasarkan ingatan dan pengalaman dia semasa kecil di kamp konsentrasi Westerbork (Belanda) dan Bergen-Belsen (Jerman) sewaktu Perang Dunia II. Oberski dari awal sampai akhir berhasil menciptakan suatu dunia sebagaimana dilihat oleh seorang anak.

Dari usia 3 hingga 8 tahun, Oberski bersama orangtuanya hidup di dalam kamp konsentrasi Jerman. Kedua orangtuanya meninggal di sana. Oberski menuliskan kisah seorang bocah tanpa nama yang harus menghadapi beleid anti-Yahudi Nazi yang menakutkan.

Westerbork adalah kamp konsentrasi yang dibangun Belanda pada 1939 untuk menampung pengungsi-pengungsi Yahudi dari Jerman. Ia menceritakan bagaimana orangtuanya berusaha bertahan dan melindunginya dari berbagai tragedi yang terjadi di sekitar mereka.

Bergen-Belsen lantas menjadi titik pusat buku ini. Di sana si bocah kesulitan memahami hukum bertahan hidup. Misalnya, saat ia dan anak-anak lainnya harus membersihkan kuali dengan jari mereka, atau dia harus bergeming saat orangtuanya bercinta untuk terakhir kali.

Pengkisahan dalam buku yang bersifat autobiografis, dilakukan secara kronologis yang terdiri dari 21 tema dibagi dalam lima bab dengan menggunakan bahasa anak usia 8 tahun, dengan kalimat yang pendek-pendek. Gaya bahasa sederhana dalam pengkisahan tersebut membuat emosi pembaca teraduk-aduk. Kita menjadi gemas, geram, sedih, dan terharu. Buku ini bisa didapat di Toko Buku Gramedia.(*)

Dimuat dalam harian Tribun Kaltim, Sabtu, 17 Oktober 2009

Masa Kanak-kanak tersedia di toko buku Gramedia.

20 November 2009

Sentuhan Batin Seorang Anak

Resensi 'Masa Kanak-kanak' dalam harian Lampung PostJudul: Masa Kanak-kanak
Penulis: Jona Oberski
Penerjemah: Laurens Sipahelut
Penerbit: Pena Wormer, Jakarta, 2009
Tebal: x + 86 Halaman

Dunia batin seseorang dapat berbicara tentang beragaman hal, baik hal personal-transendental, sosial dan budaya, bahkan politik sampai filsafat. Berbagai macam perasaan itu akan hadir "menyentuh" manakala terajut dalam cerita yang menyuguhkan berbagai kemungkinan; di sana dapat ditemukan kualitas cita rasa estetik dari realitas yang diolah lewat kemahiran berbahasa.

Seorang Jona Oberski sangat apik dalam menuangkan cerita masa kanak-kanaknya. Akan tetapi apa yang disajikan Jona sangat kontras dengan dunia anak pada umumnya, di mana sebuah masa kanak-kanak sebagai masa yang sangat menyenangkan, suatu masa yang sangat indah untuk dikenang. Justru apa yang ditampilkan Jona sebaliknya, ia menceritakan pengalaman masa kanak-kanaknya menjelang akhir Perang Dunia II. Terlahir pada 20 Maret 1938 di Amsterdam, kedua orang tuanya adalah pengungsi Yahudi dari Jerman.
Usia 3 sampai 8 tahun Jona kecil bersama orang tuanya hidup di dalam kamp konsentrasi Jerman, hingga akhirnya dalam kehidupan yang penuh dengan penderitaan kedua orang tuanya meninggal dunia. Tentu kebahagiaan dan kerukunan bocah laki-laki dalam kisah hidupnya berubah dengan tiba-tiba; dari kehidupan kanak-kanak yang penuh dengan kehangatan kasih-sayang kedua orang tua menjadi masa suram penuh konflik.
Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis dan masa depan anak. Perlakuan salah yang diterima anak sebagai "korban perang" harus dijalani oleh seorang anak dengan berbagai dampak dan ketakpastian. Masalah psikologis, dari trauma hingga merasa tidak berguna merupakan fakta yang menunjukkan pelanggaran terhadap perlakuan kepada anak.
Buku Masa Kanak-kanak pun hadir di hadapan pembaca lebih merupakan sebuah buku yang bersifat autobiografi dengan menggunakan sudut pandang dan bahasa seorang anak berusia 8 tahun, meski nama si aku lirik dari awal hingga akhir cerita tidak disebutkan, hal ini menurut Dr. Lilie Suratminto, selaku penulis pengantar dalam buku ini, penyajian Jona menggunakan bahasa anak usia 8 tahun, dengan kalimat pendek-pendek: Ibu berkata, aku berkata, aku berseru, aku berteriak, aku berujar, penuh dengan kepolosan tanpa pretensi dan apa adanya.
Beberapa catatan sebagai penagas dalam buku ini seperti ada sebuah kisah yang "melompat", di mana tidak dituliskan oleh Jona, di dalam masa-masa sulit dan sakit, apa yang terjadi selama dua minggu bocah kecil tersebut tertidur lelap. Apa pun yang terjadi pada dirinya selama itu misalnya pipis, lapar, dan lain-lain, tidak disadari. Hal ini disebabkan ibunya telah memberikan pil tidur kepadanya.
Sebagaimana novela, terlebih dalam bahasa anak-anak, pengkisahan Jona membuat emosi pembaca teraduk-aduk, kita membacanya menjadi gemas, geram, sedih, dan haru semuanya menjadi satu dalam menyikapi situasi pada waktu itu. Keadaan demikian dapat menimbulkan traumatis bagi korban kekejaman yang masih hidup, yang telah ditinggalkan oleh orang tua dan saudara-saudara yang dikasihinya.
Begitu tragisnya nasib yang dialami, ternyata hal ini juga berlaku pada Anne Frank, penulis buku harian yang masyhur itu pernah mendekam di kamp konsentrasi Westerbork, yang dalam buku ini kamp konsentrasi Westerbork dikisahkan Jona sebagai asal mula ia merasakan getirnya masa kanak-kanak.
Tri Lestari Sustiyana,pembaca sastra, guru SMPN 3 Jatiagung, Lampung Selatan
Dimuat dalam harian Lampung Post, Minggu, 8 November 2009
Masa Kanak-kanak tersedia di toko buku Gramedia.

03 November 2009

Empat Mata dengan Henk Kraima

Henk Kraima (sumber: www.cpnb.nl) Pada 7 Oktober 2009, di Jakarta, berkat kerja sama dengan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dan dukungan Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI), pusat kebudayaan Belanda Erasmus Huis menyelenggarakan seminar dan diskusi panel bertajuk Kenapa Penampilan Buku Harus Baik.

Panel beranggotakan Henk Kraima (ketua Stichting De Best Verzorgde Boeken atau Yayasan Desain Buku Belanda Terbaik), Dharma Hutauruk (penerbit Erlangga), Sulaiman Budiman (Store Manager Toko Buku Gramedia), dan Hermawan Tanzil (desainer grafis). Sementara panelis terdiri dari kalangan penerbit (termasuk Pena Wormer), desainer grafis, dan pemerhati desain grafis buku.

Selesai diskusi, masih di Erasmus Huis, berlangsung acara pembukaan Pameran Desain Buku Belanda Terbaik. Pameran tersebut, yang diselenggarakan Erasmus Huis bekerja sama dengan Yayasan Desain Buku Belanda Terbaik, berlangsung dari 8 Oktober s/d 12 November 2009.

Berikut obrolan ringan dengan Henk Kraima untuk mengenalnya lebih jauh.

Bisa dijelaskan sedikit mengenai Yayasan Desain Buku Belanda Terbaik?
Ini adalah suatu yayasan yang didirikan kalangan penerbit, toko buku, desainer grafis, dan percetakan [di Belanda]. Tujuannya adalah meningkatkan animo terhadap desain grafis buku serta merangsang kualitas desain dengan saban tahun memilih dan mempertunjukkan 33 buku berdesain terbaik.

Belanda punya reputasi tinggi di dunia desain buku. Faktor apa saja yang berada di balik ini?
Pendidikan berkualitas yang diselenggarakan sejumlah perguruan tinggi; penerbit yang mengapresiasi desain; desainer yang berwawasan internasional.

Sampul buku yang baik mesti...menyentuh hati.

Saya paling tidak tahan melihat sampul buku yang...mirip dengan tetangganya. (jawaban Kraima dalam bahasa Inggris: looks like its neighbour.)

Desain sampul terfavorit sepanjang masa versi Anda pribadi?
Sampul Metropolitan World Atlas (sedang dipamerkan di Erasmus Huis Jakarta) karya desainer grafis Joost Grootens.

Apa kira-kira dampak e-book terhadap dunia desain buku?Peraturan perundang-undangan yang mengatur dunia digital akan berpengaruh pada desain cetak. Pasal, desain buku yang baik senantiasa berinteraksi dengan tren desain penting lainnya.

Masyarakat Belanda gemar membaca buku. Mitos atau fakta?
Fakta. Belanda masuk peringkat 10 besar dalam setiap kategori perbukuan internasional: jumlah toko buku terbanyak per jiwa penduduk, perpustakaan umum, judul baru buku, dsb.

Buku terakhir yang Anda baca?What I talk about when I talk about running karangan Haruki Murakami.

Anda tinggal di Amsterdam. Bagi yang akan mengunjungi kota tersebut untuk pertama kali, pantangan dan anjuran apa yang bisa Anda sarankan?
Kunjungi museum Van Gogh dan ikuti tur wisata lintas kanal. Jangan sewa sepeda. Jangan beli narkoba.

Lagu (atau gubahan instrumental) apa yang menurut Anda paling mewakili Amsterdam?
Tulips from Amsterdam, yang dimainkan seorang pemain organ jalanan. Dan bagi yang bisa bahasa Prancis: Amsterdam oleh Jacques Brel. (pena wormer)




Jika ada pertanyaan langsung untuk Henk Kraima, silakan tuliskan sebagai komentar.

25 Oktober 2009

PD II dalam Layar Lebar Belanda

Yang menonton film Inglourious Basterds (2009) garapan Quentin Tarantino tentu paham bahwa kisahnya, tidak seperti The Reader (2008) atau Valkyrie (2009), merupakan kisah rekaan yang berlatar belakang Perang Dunia II.

Ketiga film tersebut adalah film Hollywood bertemakan Perang Dunia II. Sebagai negara yang mengalami langsung kengerian dan pelbagai akibat dari perang tersebut, Belanda sepertinya tidak mau kalah dengan Paman Sam kalau sudah menyangkut produksi film yang berlatar belakang masa itu. Sineas Negeri Kincir Angin itu ingin memastikan bahwa Belanda pada khususnya dan dunia pada umumnya tidak melupakan konflik terakbar dalam sejarah manusia tersebut.

Berikut adalah film-film Belanda yang bertemakan Perang Dunia II. Hampir semua diadaptasi dari karya sastra Belanda, dan mayoritas mengangkat gerakan perlawanan Belanda terhadap Jerman.


Soldaat van Oranje (Soldier of Orange) (1977)

neerlandsfilmdoek.nlFilm garapan sutradara kondang Paul Verhoeven yang diangkat berdasarkan buku Erik Hazelhoff Roelfzema berjudul Het hol van de ratelslang (1970) ini mengisahkan kiprah seorang mahasiswa Belanda bernama Erik Lanshof (Rutger Hauer) dalam gerakan perlawanan mahasiswa. Film terbaik Belanda sepanjang masa versi filmwereld.net (2006).



Het meisje met het rode haar (The Girl with the Red Hair) (1981)

moviemeter.nlSutradara Ben Verbong mengangkat kisah pejuang perlawanan Belanda Hannie Schaft, seorang mahasiswi hukum, berdasarkan roman Theun de Vries Het meisje met het rode haar (1956). Satu hal penting yang dibahas dalam buku tapi tidak dalam film adalah bahwa Schaft anggota RVV, suatu kelompok perlawanan berhaluan komunis.



Het bittere kruid (Bitter Sweet) (1985)

Sara, seorang remaja Yahudi Belanda, secara perlahan mulai menyadari bahaya yang dihadapi dia dan keluarganya selama masa pendudukan negara itu oleh Jerman. Diangkat dari roman karya Marga Minco.



In de schaduw van de overwinning (Shadow of Victory) (1986)

moviemeter.nlMengisahkan dua anggota gerakan perlawanan Belanda yang mempunyai tujuan yang sama tapi berusaha mencapainya dengan cara masing-masing yang sangat berbeda. Berdasarkan cerita yang ditulis aktor, sutradara, dan penulis Belanda Edwin de Vries.



De aanslag (The Assault) (1986)

Film garapan Fons Rademakers yang pada 1987 menggondol penghargaan Oscar untuk Film Berbahasa Asing Terbaik ini berbeda dari pendahulunya dalam arti bahwa yang diangkat bukan peperangannya tapi mayat yang didapati di depan kediaman keluarga Steenwyk menyusul sebuah serangan bom. Seluruh keluarga, kecuali Anton Steenwyk (Derek de Lint), diangkut dan dieksekusi. Karena merasa bersalah, bertahun-tahun kemudian Anton melakukan penyidikan: siapa yang melakukan pengeboman, apa peranan tetangga, kenapa justru keluarga dia yang menjadi korban? Hasilnya, De aanslag, yang diangkat dari novel Harry Mulisch itu, menjadi lebih mirip cerita thriller ketimbang kisah perang.



De tweeling (Twin Sisters) (2002)

moviemeter.nlFilm besutan Ben Sombogaart yang diadaptasi dari novel karya penulis Tessa de Loo ini mengisahkan nasib Lotte dan Anna, dua saudara kembar, yang dipisahkan satu sama lain setelah dalam masa perang menjadi yatim piatu: Lotte (Thekla Reuten) bisa tumbuh berkembang bebas bersama orang tua angkatnya di Belanda, tapi Anna (Nadja Uhl) mengalami kebalikannya bersama orang tua angkatnya di Jerman. Saat bertemu kembali, mereka berusaha menjalin kembali hubungan mereka sebagai saudara.



Zwartboek (Black Book) (2006)

roland1975.nlKisah seorang penyanyi Yahudi Belanda yang pada masa Perang Dunia II membantu perlawanan Belanda dengan menyusup ke mabes Gestapo. Zwartboek bukan kisah nyata, tapi menurut Verhoeven sejumlah besar peristiwa benar terjadi. Pada 2008, publik Belanda menobatkan film garapan Paul Verhoeven ini sebagai film terbaik Belanda sepanjang masa. Penulis Belanda Laurens Abbink Spaink mengadaptasi naskah film yang ditulis Paul Verhoeven dan Gerard Soeteman itu menjadi sebuah novel. (berbagai sumber)

11 Oktober 2009

Empat Mata dengan Jona Oberski

Majalah berita Jerman Stern menulis: "Hampir tidak ada laporan autentik tentang pengalaman anak-anak di dalam kamp konsentrasi, tentang penderitaan mereka, dan tentang permainan-permainan mereka... Oberski telah mengalami suatu masa kanak-kanak yang hanya sedikit berhasil melewati dengan selamat... di Bergen-Belsen."
Masa Kanak-kanakJona Oberski lahir di Amsterdam, Belanda, pada 20 Maret 1938. Pada usia lima tahun, saat Perang Dunia II sedang berkecamuk, dia dan kedua orang tuanya diangkut ke kamp Westerbork di Belanda sebelum dibawa ke kamp Bergen-Belsen, Jerman. Oberski sintas dan ia pulang kembali ke Amsterdam, walaupun sebagai anak yatim piatu. Di sana dia menetap dengan keluarga angkat. Antara 1956 sampai dengan 1964 dia mendalami fisika di Universiteit van Amsterdam sampai strata tiga.

Kemudian, pada 1977, dia memutuskan untuk menulis pengalamannya di kamp konsentrasi yang ia tuangkan dalam novela berjudul Kinderjaren, yang selain di Belanda lantas diterbitkan di tujuh belas negara. Pada 2009, karya megah dalam genre sastra perang ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Pena Wormer dengan judul Masa Kanak-kanak.

Oberski menyebut bukunya tersebut, yang terdiri dari dua puluh satu bab singkat, sebagai "suatu cerita pendek". Novela itu ditulis berdasarkan ingatan dia sewaktu berusia lima sampai dengan tujuh tahun, dan pada usia tersebut seorang anak cenderung cepat lupa. Apakah isi novela menggambarkan kejadian-kejadian sebenarnya? "Mungkin ceritanya tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya," ujar Oberski, "tapi kemungkinannya sangat besar bahwa kejadiannya memang seperti itu..."

Berikut wawancara dengan Jona Oberski untuk mengenalnya secara lebih jauh.

Dalam Masa Kanak-kanak (Kinderjaren), Anda menggambarkan dunia kehidupan si bocah dengan begitu hidup. Ambil contoh, misalnya, suasana di dalam kamar utama rumah dalam bab berjudul Tukang pembersih kaca. Komentar Anda.Terima kasih atas komplimennya. Saya berusaha sebisa mungkin untuk membuatnya 'senyata' mungkin.

Apa sebetulnya tugas dari seorang penulis fiksi, apa sesungguhnya yang ingin dicapai olehnya?
Jika ada satu jawaban tunggal atas pertanyaan tersebut, sebaiknya kita berhenti saja membaca. Seorang penulis merasa terdorong untuk menceritakan sesuatu dan, harapannya, sesuatu tersebut bervariasi antarpenulis, dan antarbuku.

Mengapa peristiwa-peristiwa selama Perang Dunia II bisa sampai terjadi?
Dagang sapi di seantero Eropa. Nasionalisme. Ketidakcakapan kemanusiaan. Dan, sayangnya, Perang Dunia II tidak menjadi pembunuhan massal besar yang terakhir di muka bumi ini. Seluruh dunia masih diperhadapkan dengan pelbagai tantangan yang terkait dengan menopang penduduk berjumlah miliaran jiwa agar dapat hidup layak dan memungkinkan orang untuk sekaligus hidup dengan kemerdekaan maksimal.

Buku apa yang Anda baca?Buku terakhir yang saya baca (dalam bahasa Inggris) adalah Castorp (2004) karangan penulis Polandia Pawel Huelle, yang mengisahkan masa-masa kuliah si tokoh utama di Gdansk, sesuatu hal yang, bertahun-tahun sebelumnya, penulis Jerman Thomas Mann singgung sambil lalu dalam sebaris kalimat dalam bukunya The Magic Mountain (1912). Adegan yang paling saya suka dalam buku Huelle ini adalah debat dua laki-laki yang, dari dalam bathtub, berusaha meyakinkan Castorp tentang pendapat mereka.

Film apa yang Anda suka?Film terakhir yang saya sangat suka adalah Mr. Smith Goes To Washington garapan Frank Capra.

Warna iPod Anda?
Saya punya telepon genggam Samsung U800 berwarna keperakan yang saya pakai untuk memutar MP3, merekam catatan lisan, membuat foto dan video, dsb.

Pemanasan global hanya mitos?Bisa jadi penyetopan pemanasan global yang justru mitos.

Hidangan favorit Anda?
Keik berbahan almon giling, parutan kulit lemon, sari lemon, gula, dan telur yang dipanggang pada suhu 160°C selama kurang lebih 35 menit.

Andai kata Anda sedang bersantap malam dengan Einstein. Apa kira-kira topik obrolannya?
Apakah Einstein bisa menjelaskan kepada kita cara mengukur keganjilan yang dia dalilkan ada antara alam semesta kuantum dan gravitasi.

Pada tahun 3000...
Pada tahun 3000 secara sah dan meyakinkan akan terbukti bahwa pertumbuhan ekonomi adalah sesuatu yang sama sekali tidak relevan. A) Pada tahun 3000 masyarakat zaman itu akan menertawakan bagaimana kita menganggap diri kita begitu arif. B) Pada tahun 3000 tidak akan ada manusia lagi, jadi sebetulnya kita tidak bisa membayangkan mereka seperti apa. C) Pada tahun 3000 populasi manusia telah menipis dan masyarakat dunia yang berjumlah beberapa ratus juta jiwa telah belajar untuk hidup berdampingan secara saling menguntungkan. (pena wormer)

Jika ada pertanyaan langsung untuk Jona Oberski, silakan tuliskan sebagai komentar.
Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

04 Oktober 2009

Jonah Who Lived In the Whale (1993)

rottentomatoes.com
"Look to the sky, and never ever hate."
Novela Jona Oberski Kinderjaren (Masa Kanak-kanak, 2009) ternyata pernah diadaptasi ke layar lebar. Sesuai versi buku, film ini menyorot holokaus lewat mata seorang bocah Yahudi Belanda (dengan nama Jonah) yang bersama kedua orang tuanya dideportasi dari Amsterdam ke kamp konsentrasi Bergen-Belsen di Jerman. Di sana dia mencoba untuk tetap berpengharapan demi bisa sintas dari kekejaman kamp.

Film arahan Roberto Faenza ini pertama dirilis di Italia pada 1993 dan menggondol penghargaan UNICEF di Moskowa dan tiga penghargaan David di Donatello di Italia.

Di Amerika Serikat, Jonah Who Lived In the Whale dirilis dalam format DVD dengan judul Look to the Sky.


comingofagemovies.comJenis Film: Drama, Sejarah, Perang
Produser: Elda Ferri, Gianna Bellavia
Produksi: Jean Vigo International, French Productions, Focus Films
Durasi: 100 menit
Cast & Crew
Pemain:
Jenner Del Vecchio, Jean-Hugues Anglade, Juliet Aubrey
Sutradara: Roberto Faenza
Penulis: Roberto Faenza, Filippo Ottoni

Trailer


30 September 2009

International Acclaim for 'MASA KANAK-KANAK'

Masa Kanak-kanakMasa Kanak-kanak (Kinderjaren) adalah novela karangan fisikawan dan penulis asal Amsterdam Jona Oberski (1938) yang ditulis berdasarkan ingatan dan pengalaman dia semasa kecil di kamp konsentrasi Westerbork (Belanda) dan Bergen-Belsen (Jerman) sewaktu Perang Dunia II. Oberski dari awal sampai akhir berhasil menciptakan suatu dunia sebagaimana dilihat oleh seorang anak.

Terjemahan Kinderjaren telah diterbitkan di Kanada, Denmark, Jerman, Inggris, Finlandia, Prancis, Yunani, Hungaria, Israel, Italia, Jepang, Kroasia, Norwegia, Polandia, Spanyol, Amerika Serikat, dan Swedia.

Dengan kata pengantar Dr. Lilie Suratminto, Pengajar Bahasa dan Sejarah Sosial Budaya Belanda, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.


Belanda

Belanda


“Buku seperti MASA KANAK-KANAK menjadikan Anda berpikir tentang keadaan dunia, tentang keadilan dan ketidakadilan, tentang pertanyaan-pertanyaan universal – dan bukankah itu inti dari karya sastra bagus? Itulah mengapa Perang Dunia II tetap layak untuk diangkat, bagi semua generasi.”

--De Tijd



Austria

Austria


“Hanya sedikit laporan yang mengangkat nasib anak-anak Yahudi di dalam kamp dan gheto Reich Ketiga [...] (MASA KANAK-KANAK) merupakan dokumen tentang masa tersebut yang memiliki dampak dahsyat.”

--Salzburger Nachrichten



Finlandia

Finlandia


“Ternyata, pertanyaan penting susastra kamp konsentrasi bukanlah apa yang diceritakan, tapi bagaimana ia diceritakan. Zaman sekarang, masyarakat sudah mati rasa terhadap kisah pembunuhan massal, sementara kisah pengalaman pribadi masih mampu mengejutkan, mengguncang, dan menggugah mereka [...] (Oberski) terutama berhasil menyampaikan kekonkretan dari ingatan seorang bocah: pelbagai detail dan peristiwa kecil yang mungkin terkesan kurang signifikan bagi orang dewasa. Bahasanya [...] seperti kanak-kanak tapi tidak ‘kekanak-kanakan’.”

--Kansan Tahto



Italia

Italia


“Sebuah permata kecil yang berkilauan.”

--Sette Giorni Libro



Jerman

Jerman


“[...] kengerian dikisahkan secara subtil dan sedemikian rupa sehingga tidak membuat perasaan Anda merosot. Di dalamnya terkandung suatu kemurnian yang menjadikan Anda terkelu, suatu humanitas yang senantiasa menghantui Anda [...] Ini merupakan buku yang bermakna penting.”

--Die Zeit



“Hampir tidak ada laporan autentik mengenai pengalaman anak-anak di dalam kamp konsentrasi, mengenai penderitaan mereka dan permainan-permainan mereka [...] Oberski telah mengalami suatu masa kanak-kanak yang hanya sedikit berhasil melewati dengan selamat [...] di Bergen-Belsen.”

--Stern



(sumber: Liepman AG)

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

23 Agustus 2009

Empat Mata dengan Tonke Dragt

Tonke Dragt (foto: Mark Sassen)

Mengidolakan JRR Tolkien

Berkaitan peluncuran buku De brief voor de koning terjemahan bahasa Indonesia, Pustakaloka Kompas berkesempatan melakukan wawancara dengan penulisnya, Tonke Dragt. Wawancara jarak jauh ini difasilitasi Liesbeth ten Houten dari penerbit Leopold Belanda.
Berikut petikan wawancara tersebut:


Apa yang mendorong Bu Tonke untuk menulis buku cerita anak-anak, bukan buku cerita untuk dewasa atau yang lain?Tonke tidak melakukan pembedaan antara pembaca dewasa dan anak-anak. Ia sering memulai dengan suatu citra, dan suatu ilustrasi. Kebetulan tidak seperti buku orang dewasa, tetapi lebih seperti buku anak-anak berilustrasi. Tonke pernah berprofesi sebagai guru menggambar. Sebagian besar bukunya adalah untuk semua umur.

Apa yang menarik dari dunia anak-anak atau remaja menurut Bu Tonke sehingga banyak menulis buku cerita untuk kalangan anak-anak dan remaja ini? Apakah terkait dengan pengalaman masa lalu atau sebab yang lain?Tonke menulis buku tentang membuat pilihan, dan kemudian tokoh utamanya menjadi terlibat dalam petualangan. Yang ia tanyakan adalah “what happens if...”. Dan petualangan pun terjadi.

Apakah dorongan menulis buku cerita anak juga didorong oleh situasi eksternal atau kondisi buku cerita anak yang ada waktu itu di Belanda? Misalnya ingin memberi warna lain terhadap buku-buku cerita anak yang sudah ada waktu itu?Tidak, ia tidak berpikir ke arah sana. Ia menyukai cerita yang mengambil tempat di abad pertengahan, tetapi menulis buku tentang membuat pilihan dan akibat-akibat dari pilihan itu juga bisa menjadi buku fiksi ilmiah.

Apakah pengalaman masa kecil di Jakarta berpengaruh terhadap tulisan atau cerita-cerita yang dibuat Bu Tonke? Apakah ada buku yang ber-setting Jakarta atau Indonesia?Iya, masa remajanya di Indonesia amat sangat penting. Lingkungan tropis sering kali menjadi latar belakang, dan Tonke mulai bercerita dan membuat buku (bersama seorang teman) pada masa perang di kamp pengungsi di Indonesia. Di tempat pengungsian itu ia menjadi tahu bahwa ia pandai membuat cerita; di sana ia mulai menggunakan daya imajinasi. Di sana ia ternyata bisa membuat orang-orang lain melupakan keadaan susah yang dihadapi, rasa lapar mereka: semua cerita memiliki happy ending, penuh acara makan-makan besar, dan tokoh-tokohnya selalu bisa kabur melarikan diri.

Bagaimana pendapat Bu Tonke terhadap perkembangan buku cerita anak masa kini di Belanda?Bagus! Dan sungguh luar biasa bahwa efek Harry Potter menjadikan buku-buku tebal digandrungi!

Siapa pengarang buku idola dan paling dikagumi Bu Tonke?Banyak sekali, salah satunya JRR Tolkien, pengarang The Lord of the Rings.

Apa buku cerita anak paling disukai, paling hebat, menurut Bu Tonke?Sulit untuk mengatakannya. Tonke menyukai banyak sekali buku.

Hingga saat ini Surat untuk Raja sudah dicetak hingga berapa eksemplar?Di Belanda, sekitar 400.000 eksemplar.

Yang terakhir, obsesi yang belum terlaksana saat ini terutama berkaitan dengan buku yang ingin ditulis?Tonke ingin menulis dan menyelesaikan sekuel buku Aan de andere kant van de deur (The other side of the door). Saat ini 75 persen telah rampung dan semua ilustrasi telah siap. (WEN/Litbang Kompas)

Dikutip dari harian Kompas edisi Senin, 25 Februari 2008.

Surat untuk Raja (De brief voor de koning) tersedia di toko buku Gramedia.

05 Agustus 2009

Hai, kaWanku, Femina Meresensi 'Masa Kanak-kanak'!

Resensi 'Hai'

Hai edisi No. 28/XXXIII

Sejarah kelam yang dikisahkan dengan santun.
Ya, kekejaman Nazi Jerman, pada masa Perang Dunia ke II coba dimunculkan. Tapi, sudut pandang ceritanya diambil dari sisi petualangan seorang bocah.
Dari sana, kita dapat merasakan betapa getirnya kehidupan kala itu. Mencicipi kepedihan, sentuhan rasa iba mendalam, perjuangan pahit dan banyak lagi keterpurukan-keterpurukan dari sebuah bangsa.
Bahasanya khas anak-anak. Kalimat demi kalimat yang terangkat dalam ceritanya selalu singkat, padat dan mengena. Namun sayang, spasinya terlalu rapat dan font tulisannya kecil. Sehingga, dimaklum saja kalau bacanya nanti kita mesti sambil mengerutkan dahi. (edi)

7 / 10

Resensi 'kaWanku'

kaWanku edisi No. 51/2009

Kita semua pasti tahu siapa itu Hitler. Selama dia berkuasa, Hitler membangun beberapa kamp konsentrasi di berbagai negara untuk menyekap orang-orang Yahudi atau siapa pun yang menjadi musuhnya. Nah, pengarang buku ini, Jona Oberski, menceritakan pengalaman masa kecilnya saat dia tinggal di kamp konsentrasi Westerbork (Belanda) dan Bergen-Belsen (Jerman) pada masa Perang Dunia II. Lewat buku ini, kita diajak untuk melihat masa-masa kejam itu lewat mata seorang anak kecil.

Resensi 'Femina'

Femina edisi No. 29/XXXVII

Di saat dunia sedang memperingati 70 tahun pembebasan korban Holocaust, buku ini seperti menguak kembali tragedi kemanusiaan itu. Ditulis oleh Jona tentang masa kecilnya, saat berusia 3 tahun, bersama ayah ibunya diculik masuk ke kamp Westerbork, Belanda. Ia menceritakan tentang bagaimana kedua orang tuanya berusaha bertahan, dan melindunginya dari berbagai tragedi yang terjadi di sekitar mereka. Cerita haru dari kacamata seorang bocah.

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

06 Juli 2009

Masa Kanak-kanak: Sebuah Novela

Masa Kanak-kanakAtas permintaan Pena Wormer dan dalam rangka penerbitan Masa Kanak-kanak, edisi bahasa Indonesia novela Kinderjaren karangan fisikawan dan penulis Belanda Jona Oberski, Liepman AG, kantor agen penulis tersebut yang bermarkas di Zuerich, mengirimkan via pos sejumlah materi pers berbahasa Belanda dan Inggris ihwal Kinderjaren. Ini lantas digabung dengan uraian tentang Kinderjaren dalam Holocaust Literature. An Encyclopedia of Writers and Their Work, Vol. II (New York: Routledge Press, 2003) untuk memberi gambaran tentang salah satu karya megah dalam kategori sastra perang ini.

Jona Oberski (1938-)

Jona Oberski lahir pada 20 Maret 1938 di Amsterdam, Belanda. Dia anak tunggal pasangan Siegfried Oberski dan Margaretha Foerder; keduanya emigran Yahudi Jerman. Pada 1943, keluarga ini dideportasi ke Bergen-Belsen, Jerman. Ayah ibu Jona tidak selamat dari kamp kematian tersebut, akan tetapi Jona sintas dan kembali ke Amsterdam tempat dia dibesarkan oleh keluarga angkat. Antara 1956 sampai dengan 1964 dia mendalami matematika dan fisika di Universiteit van Amsterdam tempat dia menerima gelar doktor di bidang fisika sebelum berkarier sebagai seorang profesor. Dia menikah dan pasangan ini dikarunia tiga anak.

Pada 1978, seusai mengasisteni pujangga Belanda Judith Herzberg di suatu lokakarya kesusasteraan, Herzberg menyarankan dia untuk menulis tentang pengalamannya di zaman perang. Hasilnya adalah novela berjudul Kinderjaren (Masa Kanak-kanak, 2009). Karya kecil ini yang menggambarkan Holokaus secara gamblang telah diterbitkan di 17 negara –18 dengan Indonesia. Penulis ternama macam Harold Pinter, Heinrich Boell, Chaim Potok, Alan Sillitoe, dan Isaac Bashevis Singer menyanjung buku ini. Pinter menyebutkan kisah Oberski ini –yang menceritakan tentang Bergen-Belsen lewat mata seorang bocah Yahudi Belanda– sebagai “mencengangkan” yang, begitu menurut Pinter, “memberikan pemandangan yang mengerikan. Nada cerita senantiasa sederhana dan ringkas, tapi ia menggambarkan suatu dunia penuh keheranan dan derita.”

Masa Kanak-kanak

Unsur-unsur yang membangun kisah Oberski ini, yang terdiri dari dua puluh satu bab singkat yang dikelompokkan ke dalam lima bagian, sudah dikenal dengan cukup akrab. Seorang bocah tanpa nama harus merasakan beleid anti-Yahudi Nazi yang kian lama kian menakutkan. Pertama keluar keputusan itu bahwa warga keturunan Yahudi wajib menyematkan Bintang Kuning pada baju luar: “Tuh lihat,” ujar ibu si bocah, “sekarang kau mempunyai bintang indah yang sama seperti papi.” “Aku betul menyukainya,” batin si bocah, “tetapi aku lebih suka kalau tidak diberi bintang” (Masa Kanak-kanak, Jakarta: Pena Wormer, 2009, hlm. 26. Semua kutipan diambil dari edisi ini.). Ini disusul dengan kilasan-kilasan peristiwa deportasi; koper yang dikemas buru-buru, kamp transit Westerbork, gerbong kereta api yang penuh sesak, harapan tipis keluarga itu bahwa mereka sedang menuju Palestina. Bergen-Belsen lantas menjadi titik pusat buku ini. Di sana si bocah kesulitan memahami hukum bertahan hidup. Misal, saat dia dan anak-anak lain harus membersihkan kuali dengan jari mereka, atau saat dia harus bergeming saat orang tuanya diam-diam bercinta untuk terakhir kali. Setelah menyaksikan ayahnya yang sakit mengembuskan napas terakhir, dia kemudian mencari-carinya di “rumah ketel”:

Aku berjalan ke dalam dan melangkahi tubuh yang paling depan. Aku menaiki tumpukan itu dan memandang ke dalam bungkusan paling atas. Aku hanya bisa melihat sebuah lengan. Aku mulai membuka seprai itu. [...] Aku menarik lengan itu keluar. Tangan itu mirip dengan tangan ayahku. Aku menyentak seprai sampai aku bisa melihat bagian kepala. Kepala itu hitam karena jenggot. Aku turun dari tumpukan dan dari samping melihat sebuah tubuh. Hampir tidak ada cahaya yang menyinarinya. Aku memandangi bagian wajah. Sepasang mata itu berwarna hitam. Pipi kempot. Jenggot pendek, seperti punya ayahku. Hidungnya juga mirip. Aku memandangi kedua tangannya. Tangan itu mirip punya ayahku. Akan tetapi, tubuh itu sama sekali tidak mirip dengan punya ayahku (hlm. 62).
Penghuni Bergen-Belsen kemudian kembali dibawa pergi dengan kereta api, suatu perjalanan yang berakhir di Troebitz, tempat si bocah dan banyak Yahudi Belanda lainnya dibebaskan oleh tentara Rusia. Beberapa di antara mereka, termasuk ibu si bocah, yang mengalami guncangan berat psikologis, gugur tidak lama kemudian karena sakit atau murni karena kelelahan. Novela ini berakhir saat si bocah memulai kembali hidup bersama orang tua angkat di Amsterdam.

Oberski dengan gamblang menggambarkan betapa sulitnya bagi si anak di novela ini untuk beradaptasi dengan kehidupan barunya bersama orang tua angkatnya, yang telah membawanya kembali dari kegelapan: “Muntahan memenuhi mulutku. Aku hampir mati tercekik. Kemudian muntahan itu mengucur ke lantai. Muntahan itu memerciki tungkainya. Ujarnya: ‘Lihat sekarang. Silakan kau bersihkan. Kau bukan anak-anak lagi.’ Dia memberikan sehelai kain kepadaku. Aku mulai membersihkan” (hlm. 92). Pembaca mungkin lantas akan menerka bahwa adegan tersebut bersifat autobiografis, terutama karena Oberski mempersembahkan buku ini kepada orang tua angkatnya, “yang telah kubuat kerepotan membesarkanku.”

“Bagi saya buku ini utamanya bukan suatu karya susastra, tetapi ia juga jangan dianggap sebagai suatu buku biografi atau sejarah. Ia terutama merupakan ikhtiar bagi saya untuk menjelaskan apa yang saya maksudkan dalam percakapan-percakapan tentang masa lalu saya. Saya selalu berperasaan bahwa saya kurang bisa menjelaskan apa yang sebetulnya ingin saya utarakan. Saya bukan seseorang yang bisa menjalin pikiran dengan runut. Malah, saya [cenderung menjelaskan] asal-asalan saja. Dengan segala akibatnya: Anda tidak mengutarakan sesuatu dengan pas, Anda membuat kekeliruan, dan nasi pun menjadi bubur,” komentar Oberski.

Artefak kesusasteraan

Kisah Oberski berbeda dari kisah Anne Frank sebab Buku Harian Anne Frank merupakan dokumen aktual; karya Oberski merupakan artefak kesusasteraan (yang ditekankan dengan kata Novela di sampul depan buku). Oberski berterus terang bahwa dia memang telah memakai pengalaman-pengalamannya untuk menciptakan suatu karya fiksi, tidak seperti, misalnya, Binjamin Wilkomirski, yang karyanya yang bertajuk Fragments: Memories of a Wartime Childhood, yang pada 1995 diterbitkan pertama dalam bahasa aslinya, bahasa Jerman, dan lantas dalam waktu singkat diterjemahkan ke dalam 12 bahasa, pada 1999 ternyata terbukti palsu. Wilkomirski –nama asli Bruno Grosjean, seorang pemain klarinet asal Swiss yang selama perang tidak pernah meninggalkan negara itu– dan Oberski sama-sama menulis sebuah karya tipis tentang kekejian luar biasa yang dilihat lewat mata seorang anak. Pertanyaan apakah tulisan Oberski tentang masa kanak-kanaknya sebagai seorang anak Yahudi Belanda di kamp konsentrasi Nazi Bergen-Belsen adalah akurat hampir tidak relevan. Pendekatan fiksi telah memberikan Oberski lebih banyak ruang (dan teknik) daripada yang dapat ditawarkan oleh pendekatan realisme dokumenter. Kisah di Bergen-Belsen memakan relatif sedikit halaman di dalam buku ini, walaupun tempat tersebut senantiasa menjadi jantung novela ini. Yang lebih penting adalah bagaimana Oberski telah menghidupkan kembali pengalaman dia tersebut –setelah 30 tahun berlalu– dengan kembali menjadi dirinya sewaktu kecil.

Dia menulis memakai kalimat-kalimat singkat yang kita anggap adalah khas kanak-kanak. Hasilnya, dia mengontraskan gaya bahasa yang polos ini dengan kengerian yang berkembang di sekitar dia dan dengan begitu menghubungkan kejadian-kejadian Holokaus ke dunia seorang bocah yang berusia empat tahun di awal dan hampir delapan tahun di akhir buku.

Anak itu masih terlalu muda untuk bisa menyebutkan apa yang dia rasakan; sedang seperti apa suasana hatinya mesti disimpulkan dari persepsi indranya: “Udara di dalam hidungku dingin. Di bawah selimut juga dingin. Aku merapatkan diri kepada ibuku yang hangat dan udaranya yang hangat memasuki hidungku” (hlm. 15). Kepolosan yang mencuat dari Masa Kanak-kanak ini mengemukakan penderitaan akibat penindasan dengan cara yang lebih efektif daripada deskripsi langsung. Kejadian-kejadian pada waktu itu, yang dilihat lewat mata seorang anak, menjadi hidup kembali tanpa berkurang kadar kengeriannya.

Kejadian-kejadian diceritakan apa adanya, dalam arti bahwa hanya kulit luar yang disentuh, yang menjadikan novela ini suatu laporan pengamatan langsung. Oberski urung menguraikan sebab-sebab sebenarnya atau yang dipersepsikan dalam kalimat kompleks; dia sekadar merangkai fakta tok.

Dalam bahasa sederhana, dengan menggunakan kalimat-kalimat pendek, si bocah menceritakan apa yang dia dengar dan lihat. Tentang dunia perasaannya, rasa takutnya, khalayan-khalayannya, kita tidak membaca apa pun. Bahkan, informasi yang paling dasar diberikan secara tidak langsung, dan sering kali itu juga baru belakangan. Cara bertutur ini makin menguatkan karakter cerita yang bersahaja. Ketika si bocah dan ayahnya naik kapal penyeberang, ayahnya berujar kepada pengemudi kapal penyeberang bahwa putranya pandai berbahasa Belanda karena dia memang lahir di negara itu. “Kami sebisa mungkin berbicara dalam bahasa Belanda dengannya” (hlm. 25). Baru setelah membaca itu kita menjadi sadar bahwa mereka adalah suatu keluarga yang berasal dari luar Belanda. Namun, pendekatan yang lugas dan simpel ini bukan, seperti yang diduga, sebagai akibat dari sudut pandang yang dipakai: yaitu, dunia seorang anak. Seorang anak justru cenderung menjadikan suatu fakta lebih menjelimet daripada sebenarnya. Seorang anak cenderung menambahkan khayalan-khayalan pada suatu fakta dan senang memberikan aneka ragam penjelasan. Tidak, dalam Masa Kanak-kanak kita menyaksikan gambaran dunia dari seseorang yang telah mengalami banyak hal mengerikan, dan yang bisa mengangkat hal-hal tersebut hanya jika dia boleh menafikan semua perasaan yang membelenggu. Dia dengan sengaja menciptakan jarak di antara si bocah yang, sebagai seorang anak-anak, tidak menyadari kedahsyatan malapetaka, dan si orang dewasa yang di kemudian hari tidak bisa menyadarinya dan tidak bisa memahaminya lagi.

“Saya tidak bakal bisa menulis [buku ini] dengan cara lain. Pemakaian bentuk sudut pandang orang pertama (yaitu si bocah) tidak saya rencanakan di muka. Itu keluar begitu saja,” jelas Oberski. Akan tetapi, dia menampik bahwa menulis Kinderjaren menjadi suatu bentuk terapi. “Justru sebaliknya. Saya selalu meyakini bahwa: pertama saya harus mengatasi masa lalu, dalam arti bahwa saya bisa membahasnya. Tahu-tahu buku itu sudah jadi. Pikir saya: karena telah menulis semuanya, saya tidak perlu lagi berbicara tentangnya. Itu tentu saja bodoh. Lagian, sama naifnya untuk berpikir bahwa pengalaman-pengalaman itu bisa dilupakan.” (pena wormer)

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

22 Juni 2009

Masa Kanak-kanak

Masa Kanak-kanakJudul: Masa Kanak-kanak
Judul asli: Kinderjaren
Penulis: Jona Oberski
Pengalih bahasa: Laurens Sipahelut
Penyunting bahasa: Eko Sugiarto
Tebal: 96 hlm
Ukuran: 14 cm x 21 cm
ISBN: 978-979-15417-2-5
Harga: Rp 30.000

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) adalah novela karangan fisikawan dan penulis asal Amsterdam Jona Oberski (1938) yang ditulis berdasarkan ingatan dan pengalaman dia semasa kecil di kamp konsentrasi Westerbork (Belanda) dan Bergen-Belsen (Jerman) sewaktu Perang Dunia II. Oberski dari awal sampai akhir berhasil menciptakan suatu dunia sebagaimana dilihat oleh seorang anak.

Terjemahan Kinderjaren telah diterbitkan di Kanada, Denmark, Jerman, Inggris, Finlandia, Prancis, Yunani, Hungaria, Israel, Italia, Jepang, Kroasia, Norwegia, Polandia, Spanyol, Amerika Serikat, dan Swedia.

Dengan kata pengantar Dr. Lilie Suratminto, Pengajar Bahasa dan Sejarah Sosial Budaya Belanda, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

20 Mei 2009

Perang Dunia II: Kamp Konsentrasi

Masa Kanak-kanak Dalam rangka penerbitan Masa Kanak-kanak, edisi bahasa Indonesia buku Kinderjaren karangan fisikawan dan penulis Belanda Jona Oberski, maka berikut adalah uraian singkat tentang kamp konsentrasi semasa Perang Dunia II (1939-1945), termasuk Bergen-Belsen, tempat tokoh utama dalam novela ditahan.

31 Juli 1941. Berdasarkan arahan Adolf Hitler, pejabat Nazi Hermann Goering memerintahkan Jenderal SS Reinhard Heydrich untuk “selekas mungkin serahkan kepada saya suatu rencana umum tentang materi administratif dan langkah keuangan yang diperlukan untuk secara sukses menyelenggarakan Endloesung atas orang Yahudi.”

Endloesung, atau Solusi Pemungkas, adalah sebutan untuk rencana Nazi untuk mengatasi “masalah Yahudi” melalui relokasi sistematis dan, di kemudian hari, pemusnahan lewat genosida. Istilah Endloesung dicetuskan oleh Adolf Eichmann, seorang pejabat teras Nazi yang mengawasi kampanye genosida tersebut. Heinrich Himmler tampil sebagai arsitek utama rencana pembantaian ini, yang bakal memusnahkan tiga perempat orang Yahudi di Eropa. Nazi sengaja memakai istilah ‘Solusi Pemungkas’ untuk mengecoh dunia luas dari beleid pembunuhan massal tersebut.

20 Januari 1942. Lima belas pejabat teras partai Nazi dan pemerintah Jerman bertemu di suatu vila di pinggir Danau Wannsee, Berlin. Pertemuan tersebut, yang sekarang dikenal sebagai Konferensi Wannsee, diadakan oleh Heydrich, yang menjabat sebagai Kepala Deputi Ketua SS (Schutzstaffel alias eselon pelindung) Himmler. Mereka bertemu untuk membahas Solusi Pemungkas, yang di kemudian hari oleh dunia lebih dikenal dengan sebutan Holokaus.

Akan tetapi, Konferensi Wannsee bukan menandai start dari Solusi Pemungkas. Sesungguhnya regu-regu pembunuh (Einsatzgruppen) sudah mulai membantai orang Yahudi di wilayah Uni Soviet pendudukan Jerman semenjak Juni 1941. Alih-alih, Konferensi Wannsee adalah tempat Solusi Pemungkas secara resmi dibeberkan kepada kalangan elite bukan-Nazi yang akan membantu pengangkutan orang Yahudi dari seluruh wilayah Eropa pendudukan Jerman ke, pertama, pemukiman geto dan kemudian ke kamp konsentrasi tempat Nazi memusatkan orang Yahudi untuk memudahkan pengeksploitasian dan kemudian pemusnahan mereka.

Tidak seorang pun di antara mereka yang hadir di Wannsee yang mengajukan keberatan. Baru kali itu ada negara modern yang berkomitmen melakukan pembunuhan atas satu bangsa secara menyeluruh.

Di Wannsee, semua sepakat untuk memusnahkan semua orang Yahudi di Eropa. Semua sepakat bahwa cara yang paling tepat untuk melakukan hal itu dengan cepat adalah dengan menggunakan gas yang dilanjutkan dengan pengabuan. Alasannya: metode ini menimbulkan kematian secara paling tidak menyakitkan. Auschwitz, yang berlokasi di selatan Polandia, menjadi terkenal sebagai lokasi tempat hal ini dilangsungkan paling cepat dan efektif.

Lagi-lagi, eksperimen pembunuhan dengan menggunakan gas telah dilangsungkan sebelum Konferensi Wannsee, yaitu pada September 1941 di Auschwitz I, kamp utama Auschwitz. Enam ratus tahanan perang Uni Soviet dan 250 tahanan yang sakit atau lemah digiring ke dalam kamar gas eksperimental tempat Nazi menguji coba Zyklon B, gas yang lazim digunakan sebagai insektisida.

Nazi mengirim ribuan orang Yahudi ke kamp-kamp konsentrasi tempat banyak di antara mereka dibunuh atau bekerja sampai mati. Mereka hampir selalu diangkut dalam gerbong ternak atau gerbong barang yang tertutup; terkadang satu gerbong memuat 100 sampai 150 orang. Mereka yang pertama dideportasi berasal dari Polandia.

Kepada dunia luar Nazi mengaku bahwa kamp konsentrasi adalah kamp kerja. Oleh karena itu, mereka yang tiba di kamp konsentrasi dikecoh dan tidak percaya bahwa sebetulnya mereka sedang menjadi korban upaya pemusnahan. Begitu tiba, mayoritas tahanan dikirim langsung ke kamar gas; perempuan dan laki-laki dipisahkan. Di peron mereka sudah harus berbaris untuk seleksi. Yang paling kuat berdiri di barisan kerja paksa; yang lemah berdiri di barisan kamar gas. Mereka yang diseleksi untuk kerja paksa dicukur gundul dan pada lengan ditato sebuah nomor.

Banyak perempuan, terutama yang bukan-Yahudi, bekerja sebagai buruh kerja paksa di pabrik-pabrik di sekitar kamp. Salah satu tugas mereka adalah memilah-milah barang pribadi milik tahanan yang baru tiba.

Kamp dijaga oleh SS. Akan tetapi, banyak pengawas juga direkrut dari lingkungan sekitar. Mereka ditempatkan di pos-pos menara jaga dan diperintahkan untuk menembak setiap tahanan yang berusaha kabur. Perwira-perwira SS yang menyelenggarakan kamp memanfaatkan sejumlah tahanan untuk membantu menyeleksi tahanan yang baru tiba. Mereka ini disebut Kapo dan bisa dikenali dari seragam bergaris mereka yang khas. Para pesintas Auschwitz mengisahkan bahwa mereka dibantu oleh para Kapo ini, yang meminta mereka untuk mengaku umur mereka lebih tua dari sebenarnya, atau mengaku memiliki keahlian tertentu. Lewat bentuk perlawanan seperti ini para Kapo berhasil menyelamatkan sejumlah nyawa.

Westerbork, Belanda

Masyarakat Yahudi di Belanda secara sistematis dipusatkan di kamp transit Westerbork. Sebagian besar orang Yahudi yang dikirim ke Westerbork berada di sana hanya sebentar sebelum mereka dideportasi ke pusat-pusat pembantaian di timur.

Pada 15 Juli 1942, Jerman mulai mendeportasi hampir 100.000 orang Yahudi dari Westerbork: sekitar 60.000 ke Auschwitz, lebih dari 34.000 ke Sobibor, hampir 5.000 ke geto Theresienstadt, dan hampir 4.000 ke kamp konsentrasi Bergen-Belsen. Sebagian besar dari mereka yang dideportasi dibunuh begitu tiba di kamp.

Bergen-Belsen, Jerman

Bergen-Belsen adalah salah satu kamp konsentrasi Perang Dunia II terparah tempat sekitar 70.000 orang tewas dibunuh. Ia merupakan kamp konsentrasi terbesar di dalam Jerman dan berlokasi di negara bagian Nedersaksen, sekitar lima puluh kilometer sebelah utara Hannover dan sebelah barat-daya kota Bergen.

Kamp tersebut didirikan pada 1940 untuk menampung tawanan perang. Per 1941, sekitar 20.000 serdadu Rusia mengalami penyiksaan dan menemui ajal di sana. SS mengambil alih kamp pada 1943; Bergen-Belsen dikepalai oleh SS-Hauptsturmfuehrer Adolf Haas pada 1943/ 44 dan Josef Kramer pada 1944/ 45. Walaupun kamp tersebut tidak dilengkapi kamar gas, ribuan orang Yahudi, homoseks, Roma (Gipsi), dan Sinti mengalami penyiksaan dan kelaparan di sana.

Bergen-Belsen dilengkapi lima kamp yang beroperasi secara mandiri:
* Haeftlingslager (kamp tahanan) yang sampai Februari 1944 menampung sekitar 500 tahanan keturunan Yahudi yang ditugaskan membangun kamp.
* Sonderlager tempat ditampungnya orang keturunan Yahudi yang memegang dokumen-dokumen khusus, dan kebanyakan berasal dari Amerika Selatan. Dari 2.400 tahanan, 1.050 dibunuh di Auschwitz.
* Neutralenlager tempat ditampungnya sekitar 350 orang keturunan Yahudi dari negara netral.
* Sternenlager (kamp bintang Yahudi), kamp terbesar Bergen-Belsen. Sebanyak 4.100 tahanan sementara ditampung di sini pada Juli 1944.
* Ungarnlager, tempat ditampungnya 1.684 orang Yahudi asal Hungaria.

Per Maret 1944 Bergen-Belsen beralih fungsi menjadi kamp konsentrasi. Tempat tersebut dihuni oleh sejumlah besar orang Yahudi yang tidak mampu bekerja lagi, buruh kerja paksa, dan di kemudian hari juga tahanan yang dievakuasi dari kamp-kamp konsentrasi di wilayah timur. Situasi kelebihan penduduk memperparah angka kematian lantaran penyakit, malagizi, dan kelelahan; sekitar 35.000 orang wafat antara Januari dan April 1945 saja. Saat pembebasan Bergen-Belsen oleh pasukan Inggris pada 15 April 1945, mereka mendapati ribuan mayat tergeletak begitu saja. Waktu itu ada sekitar 60.000 pesintas, namun 13.000 meninggal pada hari-hari dan minggu-minggu setelahnya. Di sana juga ditemukan sejumlah kuburan massal.

Anne Frank dan kakaknya Margot termasuk di antara para korban. Mereka gugur tidak lama sebelum pembebasan pada Maret 1945; Anne karena tifus, Margot karena terjatuh dari tempat tidur di barak. (berbagai sumber)

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

13 Mei 2009

Nilai Janji yang Terucap

Resensi 'Surat untuk Raja' dalam harian KompasSebagai penggambar dan penulis, saya gemar membuat peta dan tulisan mengenai negeri-negeri yang saya karang atau, tepatnya, saya temukan. Barangkali karena saya menjadi bagian dari dua negara yang berbeda, yang dua-duanya saya cintai, namun yang di satu pun saya tidak pernah benar-benar merasa betah….

Demikian bunyi penggalan surat yang dikirimkan Tonke Dragt kepada pembaca di Indonesia terkait dengan peluncuran salah satu bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. De brief voor de koning, karya Tonke Dragt, yang terbit tahun 1962 akhirnya dapat dinikmati publik Indonesia. Penerbit Pena Wormer, yang mengkhususkan diri pada karya penulis Belanda, meluncurkan edisi bahasa Indonesia dengan judul Surat untuk Raja, awal Desember 2007.

Pada tahun 1963—setahun setelah penerbitannya—anugerah buku anak terbaik disabet Surat untuk Raja. Empat puluh tahun kemudian karya itu belum kehilangan geregetnya. Cetakan ke-19 terbit pada tahun 2002. Capaian tertinggi diraih dua tahun kemudian saat buku anak itu dinobatkan sebagai Buku Anak Terbaik di Belanda sepanjang lima puluh tahun terakhir (1955-2004). Suatu pencapaian yang luar biasa dari sebuah karya yang seolah tak lekang dimakan usia. Oplahnya tidak boleh dipandang sebelah mata: sejak 1962, jutaan eksemplar telah terjual dan berbagai toko buku di Belanda setiap tahun menjual lebih dari 15.000 buku.

Cerita dalam Surat untuk Raja berlatar waktu saat para ksatria masih berjaya. Tokoh utamanya adalah seorang pemuda berusia enam belas tahun bernama Tiuri, seorang calon ksatria yang harus menempuh ujian terakhir sebelum diangkat menjadi ksatria. Pada malam menjelang pengangkatan, bersama empat calon ksatria lainnya, Tiuri bertirakat dan menyepi di sebuah kapel di wilayah kerajaan Baginda Dagonaut. Dua puluh empat jam lamanya dia harus menahan kantuk, lapar, dan keinginan berinteraksi dengan orang lain.

Pada malam yang menentukan itu, dia mendengar ketukan di pintu kapel. Seorang lelaki tua misterius meminta pertolongannya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Ksatria Hitam Laskar Perisai Putih. Si lelaki tua menyerahkan surat dan mengatakan bahwa seekor kuda hitam akan membawa Tiuri menemui ksatria yang dimaksudkan. Mengikuti kata hatinya, Tiuri menafikan semua larangan dan mempertaruhkan nasibnya. Menembus gelapnya malam, calon ksatria itu berkuda mengantarkan surat.

Suatu tugas yang teramat berat dan penuh bahaya untuk dilaksanakan. Dalam sekejap dia menjadi barid, seorang pengantar surat. Jalan panjang ditempuh menuju Kerajaan Unawen. Dalam perjalanan Tiuri harus menghadapi Laskar Pusu Pengendara Merah dari negeri Eviellan yang sedang berperang dengan Kerajaan Unawen. Laskar itu berkepentingan mencegah surat itu sampai di tangan Raja Unawen. Tiuri juga harus berhadapan dengan ksatria yang tergabung dalam Pusu Ksatria Kelabu, yang menuntut balas kematian Ksatria Hitam laskar Perisai Putih. Nantinya terbukti bahwa Ksatria Kelabu berada di pihak yang sama seperti Tiuri, mereka membela kepentingan Raja Unawen. Para Ksatria Kelabu menuturkan bahwa Ksatria Hitam Perisai Putih yang terbunuh adalah Edwinem dari Forestera, ksatria Raja Unawen yang paling setia dan digdaya, yang gugur karena dijebak Laskar Pusu Pengendara Merah.

Di pertapaan Menaures, sang petapa memperkenalkannya pada Piak, penunjuk jalan di pegunungan. Pada Piak, Tiuri menemukan sosok seorang sahabat. Rintangan demi rintangan dilalui kedua pemuda dalam melaksanakan tugas mengantar surat rahasia itu.

Resensi 'Surat untuk Raja' dalam harian Kompas

Nilai kebajikan dalam kemasan sederhana

Kisah Tiuri yang berlatar negeri antah berantah dan bermain di masa yang mengingatkan orang pada Abad Pertengahan patut mendapat acungan jempol. Pendapat pemerhati buku anak di Belanda—yang menilai buku ini sebagai karya abadi yang memiliki semua hal yang semestinya dipenuhi sebuah buku anak yang baik—dapat dibenarkan. Setelah lebih dari dua puluh enam tahun, tidak ada satu nilai kebajikan yang diusung dalam cerita ini ketinggalan zaman.

Unsur fiksi yang dihadirkan menjadikan kejadian dalam cerita tetap terterima sampai saat ini. Dragt berhasil menggabungkan fantasi dan kenyataan, dunia yang diciptakannya terasa begitu nyata. Penggambaran latar tempatnya membuat pembacanya terseret dan mulai membayangkan keindahan hutan dan bengawan, pekatnya malam di hutan atau sulitnya perjalanan melalui pegunungan. Kepiawaiannya menggambar—dia membuat sendiri ilustrasi buku-bukunya—barangkali berperan dalam pembentukan gambaran latar yang memikat. Penggambaran latar bersifat universal sehingga memudahkan pembaca menghayatinya. Struktur cerita yang jelas dengan alur maju pastinya tidak akan menyulitkan pembaca muda menangkap benang merah kisah petualangan ini.

Buku ini mengusung nilai-nilai kebajikan dalam kemasan sederhana. Terkadang pesan yang penuh perenungan diungkap, bukan lewat tindakan heroik para ksatria, tetapi misalnya ujaran tokoh sampiran. Tokoh Tirillo, pelawak penghibur di Negeri Unawen, berulang kali mengemban tugas menyampaikan perenungan itu. "Seseorang tidak perlu mengusung pedang dan perisai untuk menjadi ksatria" (hal 459). Makna yang terkandung dalam pendapat si badut itu teramat dalam. Atau barangkali yang lebih menarik. Bagian berikut ini tak kalah memikat, saat si pelawak diminta menyanyi untuk menghibur hati, Trililo menolak dan justru mengatakan, "Aku tidak bisa menghilangkan kesedihan hati kalian. Sekali-kali kau harus merasakan kesedihan agar bisa lebih menghargai kegembiraan. Sama seperti hujan yang mesti turun di antara sinar matahari" (hal 449).

Pemenuhan janji yang telah terucap, kentara ditekankan dalam Surat untuk Raja. Berkali-kali dalam cerita disuguhkan bagaimana tokoh utama dan beberapa tokoh lain jungkir balik berupaya memenuhi janji. Bahwa mereka harus mengalahkan rintangan dan berbagi beban dalam menghadapi berbagai kendala yang menghadang, memperkuat pesan yang hendak disampaikan. Dan bila semua rintangan dan kendala terlewati, tugas dan janji terpenuhi, imbalan yang layak menanti. Dus bukanlah lidah tak bertulang, lain di bibir lain di hati.

Makna persahabatan dijunjung tinggi, bersama teman kesulitan lebih mudah dihadapi, kebahagiaan dan kemenangan menjadi jauh lebih bermakna. Nilai seorang teman sejati diungkap dalam kisah ini, berkorban, menimbang rasa, besar artinya dalam sebuah relasi.

Perjalanan yang dilakukan Tiuri sejalan dengan tema yang sering diangkat Dragt. Untuk menyampaikan surat penting, Tiuri menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Di akhir perjalanan Tiuri becermin dan melihat sebuah sosok baru: seorang calon ksatria telah menjadi "ksatria" sesungguhnya, seorang pemuda menjadi lelaki dewasa.


Dua ragam dalam satu kemasan

Sungguh bukan pekerjaan mudah untuk menuturkan kembali kisah petualangan Tiuri yang luar biasa ini ke dalam bahasa Indonesia. Dalam mengalihbahasakan Surat untuk Raja, Laurens Sipahelut menggabungkan dua ragam bahasa. Kentara ada upaya dari penerjemah untuk membuat buku ini terterima di kalangan pembaca muda. Ragam keseharian dipilih dan dihadirkan melalui dialog. Kehadiran kata-kata yang tidak "resmi" seperti enggak, ’lah buset’, ’larinya enggak ada matinya’, tos gambar, ditengarai dapat menjadi "pencair" keseriusan cerita. Sayangnya, terkadang pilihan kata semacam ini mengganggu keasyikan membaca.

Edisi bahasa Indonesia ini juga berhasil menunjukkan kehebatan Dragt bercerita. Di samping ragam keseharian, Sipahelut menghadirkan ragam tinggi, dengan pilihan kata yang elok. Mungkin saja ini untuk memperlihatkan kedahsyatan kisah petualangan Tiuri. Efek kehadiran kata-kata "berdaya" seperti barid, biduanda, juak-juak, sipangkalan sangat mencengangkan. Kata-kata yang tidak "lumrah" dan jarang didengar—untungnya untuk kata semacam itu selalu diberikan penjelasan makna—menimbulkan sensasi keindahan yang luar biasa. Dampak gabungan dua ragam itu menciptakan "kemegahan" yang terasa begitu "membumi".

Sipahelut juga bereksperimen menciptakan kata-kata baru, yang barangkali terasa asing di telinga pengguna bahasa Indonesia, seperti pekuda, mengendala, mencenangkan. Beberapa kata bahkan tidak ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi pemaknaannya mengalir saja. Kenyamanan membaca justru terganggu karena masih banyaknya pekerjaan penyuntingan yang harus dibenahi.

Gembira rasanya menyaksikan bahwa ranah buku anak di Indonesia diperkaya dengan edisi bahasa Indonesia karya Tonke Dragt ini. Di Negeri Belanda, Surat untuk Raja disejajarkan dengan karya besar penulis buku anak kelas dunia seperti CS Lewis The Chronicle of Narnia dan The Lord of the Ring milik JRR Tolkien. Hanya sedikit sekali buku anak karya bahasa Belanda dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Untuk menyebut beberapa di antaranya, Perjalanan Menembus Waktu karya Thea Beckman (Teraju, 2005) dan Minoes karya Annie MG Schmidt (Gramedia, 2006).

Petualangan Tiuri belum berakhir, kisah perjalanannya dapat diikuti dalam buku karya Tonke Dragt lainnya. Siapa tahu Pena Wormer atau penerbit lain masih akan menerbitkan edisi bahasa Indonesia petualangan Tiuri berikutnya. Kita tunggu saja.

CHRISTINA SUPRIHATIN
Pengajar Susastra dan Terjemahan pada Program Studi Belanda FIB Universitas Indonesia

Dimuat dalam harian Kompas, Senin, 25 Februari 2008

Surat untuk Raja tersedia di toko buku Gramedia.

09 Mei 2009

Perang Dunia II: Kronologi

Masa Kanak-kanak Dalam rangka penerbitan Masa Kanak-kanak, edisi bahasa Indonesia buku Kinderjaren karangan fisikawan dan penulis Belanda Jona Oberski, maka berikut adalah garis besar kronologi Perang Dunia II (1939-1945), konflik terakbar dalam sejarah manusia, yang menjadi latar novela tersebut.

1939

  • 23 Agu: Uni Soviet dan Jerman-Nazi menandatangani pakta nonagresi (Pakta Molotov-Von Ribbentrop).
  • 1 Sep: Jerman-Nazi menyerbu Polandia; Perang Dunia II resmi dimulai.
  • 3 Sep: Inggris Raya dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman. Sehari kemudian RAF menyerang armada Jerman.
  • 5 Sep: AS mempertahankan posisi sebagai negara netral.
  • 17 Sep: Uni Soviet memasuki Polandia.
  • 29 Sep: Jerman dan Uni Soviet memulai pembagian Polandia.
  • 8 Nov: Upaya pembunuhan atas Adolf Hitler gagal. Tidak jelas siapa dalangnya.
  • 30 Nov: Uni Soviet menyerbu Finlandia.
  • 14 Des: Uni Soviet mundur dari Liga Bangsa-bangsa.

1940

  • 12 Mar: Finlandia menandatangani gencatan senjata dengan Uni Soviet.
  • 9 Apr: Jerman menyerbu Denmark dan Norwegia.
  • 10 Mei: Di Inggris Raya, Winston Churcill menjadi perdana menteri. Jerman menyerbu Belanda, Belgia, dan Luksemburg.
  • 3 Jun: Bombardemen massal Jerman atas Paris.
  • 10 Jun: Italia –yang bersama Jerman dan Jepang membentuk Kekuatan Poros– menyatakan perang terhadap Prancis dan Inggris Raya.
  • 16 Jun: Di Prancis, Marsekal Philippe Pétain menjadi perdana menteri.
  • 18 Jun: Uni Soviet menduduki 3 negara Balkan (Estlandia, Letlandia, dan Litouwen).
  • 28 Jun: Inggris Raya mengakui Jenderal Charles de Gaulle sebagai pemimpin Prancis merdeka.
  • 5 Jul: Rezim Vichy di bawah Pétain memutuskan hubungan diplomatik dengan London.
  • 10 Jul: ‘Battle of Britain’ dimulai dengan serangan udara massal Jerman atas Inggris.
  • 23/ 24 Agu: Bombardemen massal Jerman atas London.
  • 25/ 26 Agu: Serangan udara Inggris atas Berlin.
  • 5 Nov: Di AS, Franklin D. Roosevelt terpilih kembali sebagai presiden.
  • 20 Nov: Hungaria bergabung dengan Kekuatan Poros.
  • 29/ 30 Des: Serangan udara massal Jerman atas London.

1941

  • 12 Feb: Jenderal Erwin Rommel menjadi Panglima Besar Nazi di Afrika Utara.
  • 27 Mar: Kudeta di Yugoslavia menggulingkan rezim pro-Nazi di Belgrado. Tidak lama kemudian Yugoslavia kembali jatuh ke dalam tangan Kekuatan Poros.
  • 10/ 11 Mei: Jerman membombardir London, Inggris Raya melancarkan serangan udara atas Hamburg.
  • 4-8 Jun: Kekuatan Poros mencaplok sejumlah besar wilayah di Timur Tengah.
  • 22 Jun: ‘Operasi Barbarossa’ digelar: Jerman menyerang Uni Soviet.
  • 12 Jul: Inggris Raya dan Uni Soviet menandatangani pakta kerja sama.
  • 1 Sep: Jerman-Nazi mewajibkan orang Yahudi mengenakan bintang kuning. Dua hari kemudian eksperimen gas pertama dilangsungkan di Auschwitz.
  • 2 Okt: ‘Operasi Badai’ digelar: Jerman mulai bergerak ke Moskowa.
  • 5 Des: Serangan Jerman atas Moskowa gagal. Uni Soviet melancarkan serangan balasan sengit.
  • 7 Des: Jepang menyerang armada AS di Pearl Harbor. Keesokan hari AS dan Inggris Raya menyatakan perang terhadap Jepang.
  • 11 Des: Jerman menyatakan perang terhadap AS.
  • 19 Des: Hitler mengangkat diri sendiri sebagai Panglima Besar Angkatan Bersenjata Jerman.

1942

  • 20 Jan: Di Wannsee, elite Nazi memutuskan membasmi orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi: Nazi mengistilahkan ini sebagai Solusi Pemungkas.
  • Jun: Pembunuhan massal orang Yahudi dimulai di Auschwitz.
  • 1-30 Jul: Pertempuran untuk merebut Al Alamayn.
  • 9 Jul: Jerman bergerak ke arah Stalingrad.
  • 22 Jul: Pendeportasian orang Yahudi dari pemukiman geto Warsawa ke kamp-kamp konsentrasi. Kamp Treblinka dibuka.
  • 7 Agu: Jenderal Montgomery dari Inggris memimpin perlawanan di Afrika Utara. Beberapa bulan kemudian perlawanan Jerman di sana berhasil dipatahkan.
  • 23 Agu: Serangan udara besar-besaran Jerman atas Stalingrad.
  • 18 Okt: Hitler memerintakah eksekusi semua tahanan Inggris.
  • 11 Nov: Jerman dan Italia menyerbu Vichy (Prancis).
  • 17 Des: Berita resmi pertama di barat tentang pembantaian massal orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi.

1943

  • Jan: Penarikan mundur Jerman secara bertahap dari Uni Soviet.
  • 14-24 Jan: Dalam suatu konferensi di Casablanca, Presiden Roosevelt menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk menyudahi perang adalah dengan mengepung Jerman secara menyeluruh.
  • 2 Mar: Jerman menarik diri dari Tunesia.
  • 16-20 Mar: Titik puncak ‘Battle of Atlantic’: 27 kapal selam Jerman dibombardir.
  • 19 Apr: Serangan membabi buta Waffen SS atas geto Warsawa.
  • 11 Jun: Heinrich Himmler memerintahkan pembasmian massal orang Yahudi di pemukiman-pemukiman geto di Polandia.
  • 9/ 10 Jul: Pasukan Sekutu mendarat di Sisilia.
  • 25/ 26 Jul: Penangkapan Benito Mussolini, akhir dari pemerintah fasis di Italia. Marsekal Pietro Badoglio menjadi pemimpin baru di Roma.
  • 23 Sep: Setelah serdadu Jerman membebaskan Mussolini, dia memproklamasikan kembali pemerintahan fasis di Italia.
  • 13 Okt: Pemerintahan sipil di Italia menyatakan perang terhadap Jerman.
  • 28 Nov: Pertemuan antara Roosevelt, Churchill, dan Joseph Stalin di Teheran. Pendaratan massal Sekutu di pantai Eropa Barat ditetapkan untuk musim semi 1944. Soviet Uni berkomitmen mendampingi AS dalam perang melawan Jepang.

1944

  • 6 Jan: Soviet Uni memukul kembali Jerman sampai jauh ke dalam wilayah Polandia.
  • 27 Jan: Pembebasan Leningrad setelah diduduki Jerman selama 900 hari.
  • 8 Apr: Soviet Uni memulai pembebasan semenanjung Krimea.
  • 11 Mei: Pasukan Sekutu bergerak maju dari selatan sampai ke Roma.
  • 6 Jun: D-DAY. Serdadu Amerika, Kanada, dan Inggris mendarat secara massal di pantai Normandia. Pembebasan Eropa Barat dimulai.
  • 27 Jun: Pasukan Amerika membebaskan Cherbourg.
  • 20 Jul: Upaya pembunuhan atas Hitler gagal.
  • 24 Jul: Serdadu Uni Soviet membebaskan kamp konsentrasi Majdanek.
  • 1 Agu: Pemberontakan massal tentara Polandia terhadap pendudukan Jerman.
  • 4 Agu: Gestapo menangkap Anne Frank dan keluarganya yang keturunan Yahudi di Amsterdam.
  • 7 Agu: Jerman-Nazi mulai melancarkan serangan balasan massal.
  • 19/ 20 Agu: Uni Soviet memulai pembebasan Balkan.
  • 25 Agu: Pembebasan Paris.
  • 4 Sep: Gencatan senjata antara Uni Soviet dan Finlandia.
  • 26 Sep: Uni Soviet mencaplok Estlandia. Tidak lama kemudian Letlandia dan Litouwen menyusul.
  • 14 Okt: Pada hari Athena dibebaskan, Jenderal Rommel bunuh diri.
  • 21 Okt: Di dekat Aken, serdadu Jerman dikepung secara massal.
  • 30 Okt: Pembunuhan terakhir dengan gas di Auschwitz.
  • 16-27 Des: Pertempuran untuk merebut Ardennen dimenangi oleh pasukan Sekutu. Pada 17 Desember Waffen SS membantai puluhan serdadu Amerika di Malmédy.

1945

  • 27 Jan: Serdadu Uni Soviet membebaskan kamp konsentrasi Auschwitz di Polandia.
  • 4-11 Feb: Roosevelt, Churchill, dan Stalin bertemu di Yalta untuk membahas keadaan setelah perang.
  • 13-14 Feb: Penghancuran Dresden lewat aksi bombardemen udara Sekutu.
  • 6 Mar: Serangan balasan terakhir Jerman di Hungaria.
  • 1 Apr: Jerman dikepung di wilayah Ruhr. Pembebasan Italia Utara.
  • 12 Apr: Pembebasan kamp konsentrasi Buchenwald dan Belsen. Presiden Roosevelt mangkat dan digantikan oleh Harry Truman.
  • 21 Apr: Pasukan Soviet membebaskan Berlin.
  • 28 Apr: Kelompok partisan menggantung Mussolini.
  • 29 Apr: Serdadu Amerika membebaskan kamp konsentrasi Dachau.
  • 30 Apr: Hitler dan Eva Braun, pasangannya, bunuh diri.
  • 5 Mei: Pembebasan Belanda.
  • 8 Mei: VE-DAY (= Victory Europe Day). Pembebasan Eropa.
  • 9 Mei: Hermann Goering ditangkap oleh serdadu Amerika.
  • 23 Mei: SS Reichsfuehrer Himmler bunuh diri.
  • 5 Jun: Pembagian Jerman dan Berlin oleh AS, Inggris Raya, Prancis, dan Uni Soviet.
  • 26 Jun: Penandatanganan Piagam PBB di San Francisco.
  • 26 Jun: Konferensi Potsdam dimulai.
  • 26 Jun: Clement Attlee menggantikan Churchill sebagai Perdana Menteri Inggris Raya.
  • 6 Agu: AS menjatuhkan bom atom atas Hiroshima.
  • 8 Agu: Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang.
  • 9 Agu: AS menjatuhkan bom atom atas Nagasaki.
  • 2 Sep: Jepang menyerah kalah dan menandatangani perjanjian damai.
  • 24 Okt: Tanggal resmi berdirinya PBB.
  • 20 Nov: Penjahat perang Nazi disidang di Nuerenberg. Goering termasuk di antara yang dihukum mati, namun dia bunuh diri dua jam sebelum eksekusi.

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

04 Mei 2009

Perang Dunia II: Latar Belakang

Masa Kanak-kanak Dalam rangka penerbitan Masa Kanak-kanak, edisi bahasa Indonesia buku Kinderjaren karangan fisikawan dan penulis Belanda Jona Oberski, maka berikut adalah garis besar latar belakang Perang Dunia II (1939-1945), konflik terakbar dalam sejarah manusia, yang menjadi latar novela tersebut.

Perang Dunia I (1914-1918) berakhir dan Jerman yang berhasil ditundukkan itu dipaksa menandatangani Perjanjian Versailles pada 28 Juni 1919, yang mengharuskan negara tersebut membayar pampasan perang yang tidak sedikit. Selain itu, dalam rangka perjanjian tersebut, Jerman juga mesti menyerahkan kembali wilayah yang ia telah rebut kepada Prancis, Polandia, dan Cekoslovakia, dan membatasi angkatan bersenjatanya menjadi maksimal 100.000 serdadu.

Pemerintah Inggris Raya, Prancis, dan Amerika Serikat semua berharap perjanjian ini bakal membawa perdamaian yang lebih mapan di muka bumi, tempat asas demokrasi akan bertumbuh-kembang lebih subur. Akan tetapi, pada 1919, Benito Mussolini mulai mengobarkan fasisme di Italia. Dia mengusung paham nasionalisme ekstrem dan mengecam komunisme yang mulai berkembang dan juga aliran politik lainnya –pascaperang saudara di Rusia, yang berujung dengan terbentuknya Uni Soviet, komunisme memang semakin mengemuka di bawah kepemimpinan Joseph Stalin, suatu perkembangan yang diikuti dengan waswas oleh sejumlah besar kalangan di Jerman dan negara fasis lainnya yang memandang paham tersebut sebagai suatu ancaman. Wacana Mussolini yang vokal itu bersambut dengan baik di banyak kalangan dan tidak lama kemudian, pada 1925, Mussolini, dengan janjinya untuk membangun ‘Kekaisaran Romawi Baru’, menjadi diktator Italia. Di kemudian hari, pemimpin Jerman Adolf Hitler, dan juga diktator Austria serta Spanyol, semufakat dengan gagasan-gagasannya.

Sementara itu, bermodalkan kepandaian berorasi dan suatu wacana politik tertentu, seusai PD I Hitler memutuskan untuk terjun ke dunia politik. Pada 1923 usahanya untuk menggulingkan pemerintah Jerman gagal dan dia berakhir di dalam penjara. Dari balik jeruji dia lantas menulis buku Mein Kampf, yang menyingkapkan perangai Hitler dan cetak biru masa depan Jerman. Begitu terbit pada 1925 buku tersebut kurang diminati. Baru setelah Hitler menjabat Kanselir Jerman Mein Kampf menjadi sangat laris, bukan karena isinya, tetapi karena semua orang merasa wajib memilikinya.

Begitu kembali menghirup udara bebas, Hitler kembali ke dunia politik. Partainya (NSDAP, yang lebih dikenal dengan singkatannya: Nazi) semakin berkembang dan semakin berkuasa, sampai akhirnya pada 1933 Adolf Hitler diangkat menjadi Kanselir Reich. Begitu menjadi kepala pemerintah, Hitler menghapus demokrasi, mengadopsi beleid tata dunia rasialis yang radikal, dan tidak lama kemudian menyelenggarakan kampanye massal persenjataan kembali. Pada 1934, Presiden Jerman Paul von Hindenberg meninggal dan Hitler mengambil alih jabatan kepresidenan dan Angkatan Darat Jerman mengikrarkan sumpah setia kepadanya. Dengan demikian jabatan resmi Hitler menjadi ‘Fuehrer dan Kanselir Reich’: dia adalah Presiden Reich (kepala negara), Kanselir Reich (kepala pemerintah), dan Fuehrer (pemimpin partai Nazi). Kediktatoran Nazi siap bergulir.

Jalan sekarang terbuka lebar bagi Hitler untuk merealisasi visinya seperti dijabarkan di dalam Mein Kampf. Di dalam buku tersebut, Hitler membagi manusia ke dalam dua jenis: ras unggul Uebermensch (bangsa Aryan) dan ras bukan-unggul Untermensch (bangsa Yahudi, Slavia, Cek, Polandia, dan Rusia). Dia menggambarkan perjuangan memperebutkan kekuasaan atas dunia sebagai suatu perjuangan rasialis, budaya, dan politik antara kaum Yahudi dan ras Aryan. Dia menunding bangsa Yahudi berupaya mengendalikan keuangan dunia, mengarahkan media massa, menemukan demokrasi liberal, dan menggalakkan prostitusi. Wacana seperti ini dimasyarakatkan di seluruh Jerman dan di kemudian hari bahkan diajarkan di sekolah-sekolah. Di dalam bukunya, Hitler juga menjelaskan penaklukan kemiliteran yang dia patok demi menyediakan ruang hidup (Lebensraum) dan pangan bagi ras-supernya itu. Dia mencanangkan penaklukan jiran-jiran di timur, terutama Rusia. Akan tetapi, untuk mencapai ini Jerman pertama mesti menundukkan musuh bebuyutan Prancis; yaitu, untuk membalas dendam atas kekalahan di PD I dan sekaligus untuk memperkuat dan melindungi perbatasan di barat. Juga, dia hendak membangun suatu Reich Jerman yang akan berdiri selama 1000 tahun: yaitu Reich Ketiga (sebagai penerus Reich Jerman pada Abad Pertengahan dan Reich Kekaisaran Jerman yang berdiri antara 1871 s/d 1918).

Semua peristiwa tersebut berlangsung saat perekonomian Jerman, dan juga negara-negara lainnya, sedang terpuruk. Pengangguran dan kemiskinan merajalela. Jerman dibekap ketidakpastian dan kekacaubalauan. Hitler memenangkan hati rakyat Jerman karena berjanji akan memberantas kemiskinan, pengangguran, dan kekacaubalauan. Masyarakat pada waktu itu membutuhkan sosok seorang pemimpin yang kuat, dan dalam mata mereka sosok itu adalah Adolf Hitler.

Hitler mengambil langkah-langkah yang secara bertahap membuat Eropa semakin gerah. Setelah dia mengingkari Perjanjian Versailles, mempercepat militerisasi, dan memberlakukan wamil pada 1935; kemudian memiliterisasi kembali Rhineland (wilayah yang pra-PD I menjadi bagian dari Jerman dan langkah tersebut adalah pelanggaran langsung terhadap Perjanjian Versailles) pada 1936; Jerman lantas mencaplok Austria pada 1938. Negara-negara besar Eropa tidak melancarkan banyak protes, yang membuat Hitler semakin berani. Sebagai langkah berikut dia menuntut penyertaan Sudetenland, suatu wilayah di Cekoslovakia yang mayoritas penduduknya bersuku etnis Jerman, ke dalam Jerman. Meskipun pemerintah Cekoslovakia keberatan, Prancis dan Inggris membiarkan Hitler asalkan Jerman tidak menuntut lebih banyak.

Namun, apa yang terjadi kemudian adalah Jerman dan Italia memaksa Cekoslovakia kembali melepaskan wilayah tapi kali ini kepada Hungaria dan Polandia sebelum, pada 1939, Jerman menginvasi Cekoslovakia dan memecah wilayah tersebut menjadi tiga bagian (Bohemia, Moravia, dan Republik Slovak).

Melihat gelagat Jerman yang tidak akan berhenti sampai di sini, Prancis dan Inggris menjamin pemberian dukungan mereka atas kemerdekaan Polandia; ketika Italia menundukkan Albania pada 1939, jaminan yang sama diberikan kepada Rumania dan Yunani. Masih pada 1939, Jerman dan Uni Soviet menandatangani pakta nonagresi, yang memuat protokol rahasia untuk membagi Polandia dan Eropa Timur menjadi dua lingkungan pengaruh yang berbeda. Pada 1 September 1939, Hitler melancarkan invasi ke Polandia. Inggris dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman dan Perang Dunia II dimulai.

Hitler berjanji tidak akan menyerang Belanda, negara tempat tinggal tokoh utama Masa Kanak-kanak. Akan tetapi, pada 10 Mei 1940 tentara Jerman menyerang dan mereka disambut perlawanan sengit tentara Belanda. Ketika Hitler memutuskan untuk membombardir kota Rotterdam untuk mematahkan perlawanan, pemerintah Belanda pun menyerah demi mencegah jatuhnya korban sipil. Jerman merebut Belanda dalam lima hari.

Jumlah korban PD II diprakirakan mencapai sekitar 60 juta jiwa; yaitu sekitar 20 juta serdadu dan 40 juta penduduk sipil. Sejumlah besar penduduk sipil wafat karena penyakit, kelaparan, pembantaian massal, bombardemen, dan genosida. Korban tewas di pihak Uni Soviet mencapai sekitar 27 juta jiwa, yaitu kira-kira setengah dari jumlah korban mati PD II. (berbagai sumber)

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

04 Februari 2009

Nonton bareng 'De brief voor de koning': jepretan kilas

Stan buku di Erasmus Huis.Pada 31 Januari 2009, Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta, dipadati pengunjung yang khusus datang untuk menonton film De brief voor de koning alias Surat untuk Raja karya sutradara Pieter Verhoeff yang diputar dua kali secara maraton. Serbaseru: iya filmnya, iya penontonnya! Pena Wormer melapor lewat jepretan kilas.




Rombongan SMP 5 Jakarta.Rombongan SMP 5 Jakarta yang menonton pemutaran sesi pertama yang start pukul 13.30 WIB. Ada yang kesengsem dengan Yannick van de Velde, aktor ganteng yang memerankan Tiuri?

Menjelang pemutaran sesi kedua.Suasana menjelang pemutaran kedua yang dimulai pada pukul 16.00 WIB: berpose sebelum dilarang, eh, sebelum lampu dipadamkan.

Menjelang pemutaran sesi kedua.Di akhir pemutaran pertama maupun kedua De brief voor de koning mendapat tepuk tangan meriah.

Menjelang pemutaran sesi kedua.Terima kasih kepada Erasmus Huis atas penyelenggaraan acara nonton bareng De brief voor de koning.

Stan buku di Erasmus Huis.Stan buku Surat untuk Raja, edisi bahasa Indonesia De brief voor de koning karangan Tonke Dragt yang diterbitkan oleh Pena Wormer, di Erasmus Huis pada hari pemutaran film. Terima kasih kepada toko buku Gramedia dan distributor BIP atas kerja sama yang mulus.

Stan buku di Erasmus Huis.Seusai menonton: membawa pulang sedikit budaya Belanda.

(foto © hak cipta Pena Wormer, 2009)
Surat untuk Raja tersedia di toko buku Gramedia.