Tampilkan postingan dengan label masa kanak-kanak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masa kanak-kanak. Tampilkan semua postingan

15 Mei 2010

Masa Kanak-kanak seorang Oberski

Judul: Masa Kanak-kanak
Judul Asli: Kinderjaren
Penulis: Jona Oberski
Pengalih Bahasa: Laurens Sipahelut
Penerbit: Pena Wormer
Tahun Terbit: Mei, 2009
Tebal: 93 halaman

harian AnalisaResensi 'Masa Kanak-kanak' dalam harian AnalisaMASA Kanak-kanak (Kinderjaren) merupakan novel karangan fisikawan dan penulis asal Amsterdam Jona Oberski yang ditulis berdasarkan ingatan dan pengalamannya di masa kecil ketika berada di kamp konsentrasi Westerbork (Belanda) dan Bergen-Belsen (Jerman) sewaktu Perang Dunia II.

Jona sendiri lahir pada 20 Maret 1938 di Amsterdam, Belanda. Ia merupakan anak tunggal dari pasangan Siegfried Oberski dan Margaretha Foerder, keduanya merupakan emigran Yahudi Jerman. Tahun 1943, keluarga ini dideportasi ke Bergen-Belsen, Jerman. Kedua orangtua Jona tidak selamat dari kamp kematian itu, tetapi Jona berhasil selamat dan kembali ke Amsterdam dan dibesarkan oleh keluarga angkatnya.

Lewat mata Jona dan ingatannya, kisah-kisah pada saat ia bersama keluarganya tertulis dengan indah di bukunya ini. Walaupun dituturkan dengan bahasa yang sederhana, namun Jona sudah mampu menghipnotis siapa saja yang membaca buku ini. Ia membawa kita untuk melihat bagaimana sebenarnya yang terjadi di sebuah kamp-kamp kematian.

Kasih sayang seorang ayah dan ibu tampak dalam tulisannya ini, di mana dengan penuh optimis ibunya selalu mengajarkan kepada dirinya akan arti hidup dan kebersamaan. Baginya, ibu dan ayah adalah dua orang yang sangat dekat kepadanya, sehingga ketika ia harus menerima takdir menjadi anak angkat seseorang yang harus lebih dahulu beradaptasi dengan keluarga barunya itu.

Tulisan Oberski ini seharusnya menyadarkan kepada anak-anak remaja kita betapa pahitnya arti sebuah penindasan dan peperangan. Kisah sedih juga muncul dalam buku ini takkala sang anak harus melihat ayahnya yang sakit harus menghembuskan nafasnya yang terakhir. (hlm. 62) Lalu ia juga harus mengalami kegetiran lagi takkala sang ibu yang mengalami guncangan berat psikologis juga harus gugur.

Namun, novela ini tidak hanya berbicara tentang sebuah kesedihan dan kepedihan serta kekejaman yang terjadi di salah satu belahan dunia pada saat Perang Dunia II.

Di dalam buku ini juga tersimpan sebuah motivasi hidup yang harus dimiliki siapa saja walaupun berbagai musibah menimpa. Hidup adalah hidup, ia tidak akan berhenti selagi masih hidup.

Buku ini tidak hanya merupakan sebuah karya sastra terbaik tetapi juga merupakan sebuah buku biografi dan sejarah dari sebuah perjalanan kehidupan seorang anak manusia.

Maka tidak heran, jika buku ini mendapat apresiasi dari banyak orang, bahkan buku ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan diterbitkan di Kanada, Denmark, Jerman, Inggris, Finlandia, Prancis, Jepang, Kroasia, Norwegia, Polandia, Spanyol, Amerika Serikat, dan Swedia.

Sebuah buku yang menghentakkan hati nurani siapa saja yang membacanya, bahwa perang tidak hanya berbicara tentang kalah dan menang, tetapi terkadang perang bisa memutuskan sebuah peradaban, memisahkan antara satu keluarga dan memberi kekecewaan dan trauma kepada siapa saja yang mengalaminya.

Buku yang dibagi dalam lima bab ini mencoba melihat sisi-sisi manusiawinya manusia dan sisi lain dari kehidupan sang anak manusia yang harus rela berpisah dengan kedua orangtuanya karena sebuah ambisi dari orang-orang yang serakah.

Untuk itu, buku ini tentu saja sangat baik untuk dibaca bagi mereka yang ingin melihat dunia lewat kacamata sebuah sastra. Peresensi: Ali Murthado
Dimuat dalam harian Analisa edisi Rabu, 31 Maret 2010

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

05 Januari 2010

Holokaus di Mata Anak-anak

Resensi 'Masa Kanak-kanak' (Kinderjaren) dalam harian Media IndonesiaJudul: Masa Kanak-kanak
Judul asli: Kinderjaren
Penulis: Jona Oberski
Pengalih bahasa: Laurens Sipahelut
Penyunting bahasa: Eko Sugiarto
Tebal: 96 hlm
Harga: Rp30.000
Penerbit: Pena Wormer

PEMBANTAIAN orang-orang keturunan Yahudi oleh Nazi Jerman telah melahirkan banyak kisah. Baik itu yang ditulis dalam bentuk novel, biografi maupun film. Sebut saja Buku Harian Anne Frank karya Anne Frank dan film Schlinder List karya sutradara kesohor Steven Spielberg.

Buku berjudul Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) yang ditulis Jona Oberski, seorang matematikawan dan fisikawan Belanda, merupakan kisah nyata sang penulis saat hidup di bawah cengkeraman Nazi Jerman, mulai dari diskriminasi yang dialaminya sampai kamp konsentrasi Nazi yang mengerikan. Oberski berada di kamp konsentrasi sejak berusia 3 tahun sampai 8 tahun.

Sebagai keturunan Yahudi, Oberski telah mengalami diskriminasi sejak bocah. Seiring dengan dikuasainya Belanda oleh pasukan Nazi, beleid anti-Yahudi di ‘Negeri Kincir Angin’ semakin menakutkan. Orang tuanya yang tinggal di Amsterdam kesulitan mencari bahan pangan lantaran warga dilarang menjual pangan kepada keturunan Yahudi. Mereka juga wajib menyematkan cap Bintang Yahudi di baju luar.

Masa-masa mengerikan dalam hidup Oberski dimulai saat ia dan orang tuanya dikirim ke kamp konsentrasi Nazi di Westerbork. Kamp konsentrasi buatan Belanda itu merupakan penampungan sementara sebelum dikirim ke kamp Auschwitz untuk dibantai secara massal dengan dimasukkan paksa ke dalam kamar gas.

Oberski mengingat betul kepanikan dan kegaduhan yang terjadi di kamp menjelang pemilihan siapa yang akan dikirim ke Auschwitz setiap Selasa. Ia pun akhirnya mendapat giliran. Dalam perjalanan yang berjarak ratusan kilometer ke Auschwitz, mereka ditampung dulu di kamp konsentrasi Bergen-Belsen di Jerman. Di kamp itulah banyak pengalaman mengerikan.

Kamp itu digambarkan sangat buruk. Seorang bocah harus berjuang untuk bertahan hidup. Misalnya, saat ia dan ribuan anak Yahudi lain harus membersihkan kuali dengan tangan. Di kamp itu, Oberski juga menyaksikan ayahnya menemui ajal dan ibunya mengalami guncangan berat psikologis. Novela ini berakhir saat Oberski memulai hidup kembali bersama orang tua angkatnya di Amsterdam.

Buku ini dengan gamblang menggambarkan pengalaman mengerikan hidup di kamp. Bahkan setelah lolos dari kamp, butuh waktu untuk kembali hidup normal. Meski kisah nyata, buku ini tidak terjebak ke dalam alur sebuah biografi. Oberski mampu meramu dengan menggunakan pendekatan fiksi. (Heryadi/M-1)

Dimuat dalam harian Media Indonesia edisi Sabtu, 21 November 2009

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

16 Desember 2009

Masa Kecil yang Terindah

Resensi 'Masa Kanak-kanak' dalam harian Kaltim PostSAMARINDA – Masa kecil atau masa kanak-kanak adalah masa-masa yang terindah dalam hidup. Masa penuh kenangan. Sangat sulit dilupakan, karena sangat berkesan. Namun sangat jarang dari kita dapat menuliskan masa kanak-kanak itu. Sementara Jona Oberski dengan gamblang mendeskripsikan kembali masa sejuta kenangan itu dalam buku bertitel Kinderjaren atau Masa Kanak-Kanak.

Seolah-olah Jona Oberski memutar kembali lembaran masa kecilnya sewaktu Perang Dunia II. Baik semasa ia berada di kamp konsentrasi Westerbork (Belanda) maupun ketika berada di Bergen Belsen (Jerman).

Karyanya yang cukup monumental ini, Kinderjaren sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa dan diterbitkan di Kanda, Denmark, Jerman, Inggris, Finlandia, Prancis, Yunani, Hungaria, Israel, Italia, Jepang, Kroasia, Norwegia, Polandia, Spanyol, Amerika Serikat, Swedia dan termasuk Indonesia.

Gaya bahasanya sederhana, mudah dicerna dan sangat deskriptif. Seolah pembaca diajak ke suasana masa kecil di sebuah tempat seperti dalam cerita buku ini.

Penulisnya dapat menyelami perasaan bahagia kanak-kanak yang periang, sangat mendambakan ayah dan ibu seperti seharusnya. Beberapa alenia dibuka dengan kalimat langsung, layaknya seseorang yang tengah bercerita tentang kehidupan di masa kecil. "Kali ini di kamp berbeda keadaannya," ujar ibuku di Puncak Putih halaman 32. "Jangan kaget, semua baik-baik saja, aku di sini bersamamu" dalam Kekeliruan halaman 14. Buku setebal 92 halaman terbitan Pena Wormer Jakarta (2009) ini cukup kaya informasi.

Dalam kata pengantarnya, Dr Lilie Suratminto, Pengajar Bahasa dan Sejarah Sosial Budaya Belanda Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia menyebutkan, penceritaan buku ini bersifat autobiografis. Kendati nama bocah dari awal hingga akhir cerita tak disebutkan, namun dilakukan secara kronologis yang terdiri dari 21 tema dalam 5 bab. Menggunakan bahasa anak usia 8 tahun dengan kalimat pendek-pendek, Ibu berkata... Aku berkata... Aku berseru... Aku berteriak... Aku berujar... ditulis polos. (ar)

Dimuat dalam harian Kaltim Post, Rabu, 2 Desember 2009

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

02 Desember 2009

Resensi 'Tribun Kaltim': Masa Kanak-kanak (Kinderjaren)

Resensi 'Masa Kanak-kanak dalam harian Tribun Kaltim
MASA Kanak-kanak (Kinderjarden) adalah novela karangan fisikawan dan penulis Amsterdam Jona Oberski (1938) yang ditulis berdasarkan ingatan dan pengalaman dia semasa kecil di kamp konsentrasi Westerbork (Belanda) dan Bergen-Belsen (Jerman) sewaktu Perang Dunia II. Oberski dari awal sampai akhir berhasil menciptakan suatu dunia sebagaimana dilihat oleh seorang anak.

Dari usia 3 hingga 8 tahun, Oberski bersama orangtuanya hidup di dalam kamp konsentrasi Jerman. Kedua orangtuanya meninggal di sana. Oberski menuliskan kisah seorang bocah tanpa nama yang harus menghadapi beleid anti-Yahudi Nazi yang menakutkan.

Westerbork adalah kamp konsentrasi yang dibangun Belanda pada 1939 untuk menampung pengungsi-pengungsi Yahudi dari Jerman. Ia menceritakan bagaimana orangtuanya berusaha bertahan dan melindunginya dari berbagai tragedi yang terjadi di sekitar mereka.

Bergen-Belsen lantas menjadi titik pusat buku ini. Di sana si bocah kesulitan memahami hukum bertahan hidup. Misalnya, saat ia dan anak-anak lainnya harus membersihkan kuali dengan jari mereka, atau dia harus bergeming saat orangtuanya bercinta untuk terakhir kali.

Pengkisahan dalam buku yang bersifat autobiografis, dilakukan secara kronologis yang terdiri dari 21 tema dibagi dalam lima bab dengan menggunakan bahasa anak usia 8 tahun, dengan kalimat yang pendek-pendek. Gaya bahasa sederhana dalam pengkisahan tersebut membuat emosi pembaca teraduk-aduk. Kita menjadi gemas, geram, sedih, dan terharu. Buku ini bisa didapat di Toko Buku Gramedia.(*)

Dimuat dalam harian Tribun Kaltim, Sabtu, 17 Oktober 2009

Masa Kanak-kanak tersedia di toko buku Gramedia.

20 November 2009

Sentuhan Batin Seorang Anak

Resensi 'Masa Kanak-kanak' dalam harian Lampung PostJudul: Masa Kanak-kanak
Penulis: Jona Oberski
Penerjemah: Laurens Sipahelut
Penerbit: Pena Wormer, Jakarta, 2009
Tebal: x + 86 Halaman

Dunia batin seseorang dapat berbicara tentang beragaman hal, baik hal personal-transendental, sosial dan budaya, bahkan politik sampai filsafat. Berbagai macam perasaan itu akan hadir "menyentuh" manakala terajut dalam cerita yang menyuguhkan berbagai kemungkinan; di sana dapat ditemukan kualitas cita rasa estetik dari realitas yang diolah lewat kemahiran berbahasa.

Seorang Jona Oberski sangat apik dalam menuangkan cerita masa kanak-kanaknya. Akan tetapi apa yang disajikan Jona sangat kontras dengan dunia anak pada umumnya, di mana sebuah masa kanak-kanak sebagai masa yang sangat menyenangkan, suatu masa yang sangat indah untuk dikenang. Justru apa yang ditampilkan Jona sebaliknya, ia menceritakan pengalaman masa kanak-kanaknya menjelang akhir Perang Dunia II. Terlahir pada 20 Maret 1938 di Amsterdam, kedua orang tuanya adalah pengungsi Yahudi dari Jerman.
Usia 3 sampai 8 tahun Jona kecil bersama orang tuanya hidup di dalam kamp konsentrasi Jerman, hingga akhirnya dalam kehidupan yang penuh dengan penderitaan kedua orang tuanya meninggal dunia. Tentu kebahagiaan dan kerukunan bocah laki-laki dalam kisah hidupnya berubah dengan tiba-tiba; dari kehidupan kanak-kanak yang penuh dengan kehangatan kasih-sayang kedua orang tua menjadi masa suram penuh konflik.
Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis dan masa depan anak. Perlakuan salah yang diterima anak sebagai "korban perang" harus dijalani oleh seorang anak dengan berbagai dampak dan ketakpastian. Masalah psikologis, dari trauma hingga merasa tidak berguna merupakan fakta yang menunjukkan pelanggaran terhadap perlakuan kepada anak.
Buku Masa Kanak-kanak pun hadir di hadapan pembaca lebih merupakan sebuah buku yang bersifat autobiografi dengan menggunakan sudut pandang dan bahasa seorang anak berusia 8 tahun, meski nama si aku lirik dari awal hingga akhir cerita tidak disebutkan, hal ini menurut Dr. Lilie Suratminto, selaku penulis pengantar dalam buku ini, penyajian Jona menggunakan bahasa anak usia 8 tahun, dengan kalimat pendek-pendek: Ibu berkata, aku berkata, aku berseru, aku berteriak, aku berujar, penuh dengan kepolosan tanpa pretensi dan apa adanya.
Beberapa catatan sebagai penagas dalam buku ini seperti ada sebuah kisah yang "melompat", di mana tidak dituliskan oleh Jona, di dalam masa-masa sulit dan sakit, apa yang terjadi selama dua minggu bocah kecil tersebut tertidur lelap. Apa pun yang terjadi pada dirinya selama itu misalnya pipis, lapar, dan lain-lain, tidak disadari. Hal ini disebabkan ibunya telah memberikan pil tidur kepadanya.
Sebagaimana novela, terlebih dalam bahasa anak-anak, pengkisahan Jona membuat emosi pembaca teraduk-aduk, kita membacanya menjadi gemas, geram, sedih, dan haru semuanya menjadi satu dalam menyikapi situasi pada waktu itu. Keadaan demikian dapat menimbulkan traumatis bagi korban kekejaman yang masih hidup, yang telah ditinggalkan oleh orang tua dan saudara-saudara yang dikasihinya.
Begitu tragisnya nasib yang dialami, ternyata hal ini juga berlaku pada Anne Frank, penulis buku harian yang masyhur itu pernah mendekam di kamp konsentrasi Westerbork, yang dalam buku ini kamp konsentrasi Westerbork dikisahkan Jona sebagai asal mula ia merasakan getirnya masa kanak-kanak.
Tri Lestari Sustiyana,pembaca sastra, guru SMPN 3 Jatiagung, Lampung Selatan
Dimuat dalam harian Lampung Post, Minggu, 8 November 2009
Masa Kanak-kanak tersedia di toko buku Gramedia.

11 Oktober 2009

Empat Mata dengan Jona Oberski

Majalah berita Jerman Stern menulis: "Hampir tidak ada laporan autentik tentang pengalaman anak-anak di dalam kamp konsentrasi, tentang penderitaan mereka, dan tentang permainan-permainan mereka... Oberski telah mengalami suatu masa kanak-kanak yang hanya sedikit berhasil melewati dengan selamat... di Bergen-Belsen."
Masa Kanak-kanakJona Oberski lahir di Amsterdam, Belanda, pada 20 Maret 1938. Pada usia lima tahun, saat Perang Dunia II sedang berkecamuk, dia dan kedua orang tuanya diangkut ke kamp Westerbork di Belanda sebelum dibawa ke kamp Bergen-Belsen, Jerman. Oberski sintas dan ia pulang kembali ke Amsterdam, walaupun sebagai anak yatim piatu. Di sana dia menetap dengan keluarga angkat. Antara 1956 sampai dengan 1964 dia mendalami fisika di Universiteit van Amsterdam sampai strata tiga.

Kemudian, pada 1977, dia memutuskan untuk menulis pengalamannya di kamp konsentrasi yang ia tuangkan dalam novela berjudul Kinderjaren, yang selain di Belanda lantas diterbitkan di tujuh belas negara. Pada 2009, karya megah dalam genre sastra perang ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Pena Wormer dengan judul Masa Kanak-kanak.

Oberski menyebut bukunya tersebut, yang terdiri dari dua puluh satu bab singkat, sebagai "suatu cerita pendek". Novela itu ditulis berdasarkan ingatan dia sewaktu berusia lima sampai dengan tujuh tahun, dan pada usia tersebut seorang anak cenderung cepat lupa. Apakah isi novela menggambarkan kejadian-kejadian sebenarnya? "Mungkin ceritanya tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya," ujar Oberski, "tapi kemungkinannya sangat besar bahwa kejadiannya memang seperti itu..."

Berikut wawancara dengan Jona Oberski untuk mengenalnya secara lebih jauh.

Dalam Masa Kanak-kanak (Kinderjaren), Anda menggambarkan dunia kehidupan si bocah dengan begitu hidup. Ambil contoh, misalnya, suasana di dalam kamar utama rumah dalam bab berjudul Tukang pembersih kaca. Komentar Anda.Terima kasih atas komplimennya. Saya berusaha sebisa mungkin untuk membuatnya 'senyata' mungkin.

Apa sebetulnya tugas dari seorang penulis fiksi, apa sesungguhnya yang ingin dicapai olehnya?
Jika ada satu jawaban tunggal atas pertanyaan tersebut, sebaiknya kita berhenti saja membaca. Seorang penulis merasa terdorong untuk menceritakan sesuatu dan, harapannya, sesuatu tersebut bervariasi antarpenulis, dan antarbuku.

Mengapa peristiwa-peristiwa selama Perang Dunia II bisa sampai terjadi?
Dagang sapi di seantero Eropa. Nasionalisme. Ketidakcakapan kemanusiaan. Dan, sayangnya, Perang Dunia II tidak menjadi pembunuhan massal besar yang terakhir di muka bumi ini. Seluruh dunia masih diperhadapkan dengan pelbagai tantangan yang terkait dengan menopang penduduk berjumlah miliaran jiwa agar dapat hidup layak dan memungkinkan orang untuk sekaligus hidup dengan kemerdekaan maksimal.

Buku apa yang Anda baca?Buku terakhir yang saya baca (dalam bahasa Inggris) adalah Castorp (2004) karangan penulis Polandia Pawel Huelle, yang mengisahkan masa-masa kuliah si tokoh utama di Gdansk, sesuatu hal yang, bertahun-tahun sebelumnya, penulis Jerman Thomas Mann singgung sambil lalu dalam sebaris kalimat dalam bukunya The Magic Mountain (1912). Adegan yang paling saya suka dalam buku Huelle ini adalah debat dua laki-laki yang, dari dalam bathtub, berusaha meyakinkan Castorp tentang pendapat mereka.

Film apa yang Anda suka?Film terakhir yang saya sangat suka adalah Mr. Smith Goes To Washington garapan Frank Capra.

Warna iPod Anda?
Saya punya telepon genggam Samsung U800 berwarna keperakan yang saya pakai untuk memutar MP3, merekam catatan lisan, membuat foto dan video, dsb.

Pemanasan global hanya mitos?Bisa jadi penyetopan pemanasan global yang justru mitos.

Hidangan favorit Anda?
Keik berbahan almon giling, parutan kulit lemon, sari lemon, gula, dan telur yang dipanggang pada suhu 160°C selama kurang lebih 35 menit.

Andai kata Anda sedang bersantap malam dengan Einstein. Apa kira-kira topik obrolannya?
Apakah Einstein bisa menjelaskan kepada kita cara mengukur keganjilan yang dia dalilkan ada antara alam semesta kuantum dan gravitasi.

Pada tahun 3000...
Pada tahun 3000 secara sah dan meyakinkan akan terbukti bahwa pertumbuhan ekonomi adalah sesuatu yang sama sekali tidak relevan. A) Pada tahun 3000 masyarakat zaman itu akan menertawakan bagaimana kita menganggap diri kita begitu arif. B) Pada tahun 3000 tidak akan ada manusia lagi, jadi sebetulnya kita tidak bisa membayangkan mereka seperti apa. C) Pada tahun 3000 populasi manusia telah menipis dan masyarakat dunia yang berjumlah beberapa ratus juta jiwa telah belajar untuk hidup berdampingan secara saling menguntungkan. (pena wormer)

Jika ada pertanyaan langsung untuk Jona Oberski, silakan tuliskan sebagai komentar.
Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

04 Oktober 2009

Jonah Who Lived In the Whale (1993)

rottentomatoes.com
"Look to the sky, and never ever hate."
Novela Jona Oberski Kinderjaren (Masa Kanak-kanak, 2009) ternyata pernah diadaptasi ke layar lebar. Sesuai versi buku, film ini menyorot holokaus lewat mata seorang bocah Yahudi Belanda (dengan nama Jonah) yang bersama kedua orang tuanya dideportasi dari Amsterdam ke kamp konsentrasi Bergen-Belsen di Jerman. Di sana dia mencoba untuk tetap berpengharapan demi bisa sintas dari kekejaman kamp.

Film arahan Roberto Faenza ini pertama dirilis di Italia pada 1993 dan menggondol penghargaan UNICEF di Moskowa dan tiga penghargaan David di Donatello di Italia.

Di Amerika Serikat, Jonah Who Lived In the Whale dirilis dalam format DVD dengan judul Look to the Sky.


comingofagemovies.comJenis Film: Drama, Sejarah, Perang
Produser: Elda Ferri, Gianna Bellavia
Produksi: Jean Vigo International, French Productions, Focus Films
Durasi: 100 menit
Cast & Crew
Pemain:
Jenner Del Vecchio, Jean-Hugues Anglade, Juliet Aubrey
Sutradara: Roberto Faenza
Penulis: Roberto Faenza, Filippo Ottoni

Trailer


30 September 2009

International Acclaim for 'MASA KANAK-KANAK'

Masa Kanak-kanakMasa Kanak-kanak (Kinderjaren) adalah novela karangan fisikawan dan penulis asal Amsterdam Jona Oberski (1938) yang ditulis berdasarkan ingatan dan pengalaman dia semasa kecil di kamp konsentrasi Westerbork (Belanda) dan Bergen-Belsen (Jerman) sewaktu Perang Dunia II. Oberski dari awal sampai akhir berhasil menciptakan suatu dunia sebagaimana dilihat oleh seorang anak.

Terjemahan Kinderjaren telah diterbitkan di Kanada, Denmark, Jerman, Inggris, Finlandia, Prancis, Yunani, Hungaria, Israel, Italia, Jepang, Kroasia, Norwegia, Polandia, Spanyol, Amerika Serikat, dan Swedia.

Dengan kata pengantar Dr. Lilie Suratminto, Pengajar Bahasa dan Sejarah Sosial Budaya Belanda, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.


Belanda

Belanda


“Buku seperti MASA KANAK-KANAK menjadikan Anda berpikir tentang keadaan dunia, tentang keadilan dan ketidakadilan, tentang pertanyaan-pertanyaan universal – dan bukankah itu inti dari karya sastra bagus? Itulah mengapa Perang Dunia II tetap layak untuk diangkat, bagi semua generasi.”

--De Tijd



Austria

Austria


“Hanya sedikit laporan yang mengangkat nasib anak-anak Yahudi di dalam kamp dan gheto Reich Ketiga [...] (MASA KANAK-KANAK) merupakan dokumen tentang masa tersebut yang memiliki dampak dahsyat.”

--Salzburger Nachrichten



Finlandia

Finlandia


“Ternyata, pertanyaan penting susastra kamp konsentrasi bukanlah apa yang diceritakan, tapi bagaimana ia diceritakan. Zaman sekarang, masyarakat sudah mati rasa terhadap kisah pembunuhan massal, sementara kisah pengalaman pribadi masih mampu mengejutkan, mengguncang, dan menggugah mereka [...] (Oberski) terutama berhasil menyampaikan kekonkretan dari ingatan seorang bocah: pelbagai detail dan peristiwa kecil yang mungkin terkesan kurang signifikan bagi orang dewasa. Bahasanya [...] seperti kanak-kanak tapi tidak ‘kekanak-kanakan’.”

--Kansan Tahto



Italia

Italia


“Sebuah permata kecil yang berkilauan.”

--Sette Giorni Libro



Jerman

Jerman


“[...] kengerian dikisahkan secara subtil dan sedemikian rupa sehingga tidak membuat perasaan Anda merosot. Di dalamnya terkandung suatu kemurnian yang menjadikan Anda terkelu, suatu humanitas yang senantiasa menghantui Anda [...] Ini merupakan buku yang bermakna penting.”

--Die Zeit



“Hampir tidak ada laporan autentik mengenai pengalaman anak-anak di dalam kamp konsentrasi, mengenai penderitaan mereka dan permainan-permainan mereka [...] Oberski telah mengalami suatu masa kanak-kanak yang hanya sedikit berhasil melewati dengan selamat [...] di Bergen-Belsen.”

--Stern



(sumber: Liepman AG)

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

05 Agustus 2009

Hai, kaWanku, Femina Meresensi 'Masa Kanak-kanak'!

Resensi 'Hai'

Hai edisi No. 28/XXXIII

Sejarah kelam yang dikisahkan dengan santun.
Ya, kekejaman Nazi Jerman, pada masa Perang Dunia ke II coba dimunculkan. Tapi, sudut pandang ceritanya diambil dari sisi petualangan seorang bocah.
Dari sana, kita dapat merasakan betapa getirnya kehidupan kala itu. Mencicipi kepedihan, sentuhan rasa iba mendalam, perjuangan pahit dan banyak lagi keterpurukan-keterpurukan dari sebuah bangsa.
Bahasanya khas anak-anak. Kalimat demi kalimat yang terangkat dalam ceritanya selalu singkat, padat dan mengena. Namun sayang, spasinya terlalu rapat dan font tulisannya kecil. Sehingga, dimaklum saja kalau bacanya nanti kita mesti sambil mengerutkan dahi. (edi)

7 / 10

Resensi 'kaWanku'

kaWanku edisi No. 51/2009

Kita semua pasti tahu siapa itu Hitler. Selama dia berkuasa, Hitler membangun beberapa kamp konsentrasi di berbagai negara untuk menyekap orang-orang Yahudi atau siapa pun yang menjadi musuhnya. Nah, pengarang buku ini, Jona Oberski, menceritakan pengalaman masa kecilnya saat dia tinggal di kamp konsentrasi Westerbork (Belanda) dan Bergen-Belsen (Jerman) pada masa Perang Dunia II. Lewat buku ini, kita diajak untuk melihat masa-masa kejam itu lewat mata seorang anak kecil.

Resensi 'Femina'

Femina edisi No. 29/XXXVII

Di saat dunia sedang memperingati 70 tahun pembebasan korban Holocaust, buku ini seperti menguak kembali tragedi kemanusiaan itu. Ditulis oleh Jona tentang masa kecilnya, saat berusia 3 tahun, bersama ayah ibunya diculik masuk ke kamp Westerbork, Belanda. Ia menceritakan tentang bagaimana kedua orang tuanya berusaha bertahan, dan melindunginya dari berbagai tragedi yang terjadi di sekitar mereka. Cerita haru dari kacamata seorang bocah.

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

06 Juli 2009

Masa Kanak-kanak: Sebuah Novela

Masa Kanak-kanakAtas permintaan Pena Wormer dan dalam rangka penerbitan Masa Kanak-kanak, edisi bahasa Indonesia novela Kinderjaren karangan fisikawan dan penulis Belanda Jona Oberski, Liepman AG, kantor agen penulis tersebut yang bermarkas di Zuerich, mengirimkan via pos sejumlah materi pers berbahasa Belanda dan Inggris ihwal Kinderjaren. Ini lantas digabung dengan uraian tentang Kinderjaren dalam Holocaust Literature. An Encyclopedia of Writers and Their Work, Vol. II (New York: Routledge Press, 2003) untuk memberi gambaran tentang salah satu karya megah dalam kategori sastra perang ini.

Jona Oberski (1938-)

Jona Oberski lahir pada 20 Maret 1938 di Amsterdam, Belanda. Dia anak tunggal pasangan Siegfried Oberski dan Margaretha Foerder; keduanya emigran Yahudi Jerman. Pada 1943, keluarga ini dideportasi ke Bergen-Belsen, Jerman. Ayah ibu Jona tidak selamat dari kamp kematian tersebut, akan tetapi Jona sintas dan kembali ke Amsterdam tempat dia dibesarkan oleh keluarga angkat. Antara 1956 sampai dengan 1964 dia mendalami matematika dan fisika di Universiteit van Amsterdam tempat dia menerima gelar doktor di bidang fisika sebelum berkarier sebagai seorang profesor. Dia menikah dan pasangan ini dikarunia tiga anak.

Pada 1978, seusai mengasisteni pujangga Belanda Judith Herzberg di suatu lokakarya kesusasteraan, Herzberg menyarankan dia untuk menulis tentang pengalamannya di zaman perang. Hasilnya adalah novela berjudul Kinderjaren (Masa Kanak-kanak, 2009). Karya kecil ini yang menggambarkan Holokaus secara gamblang telah diterbitkan di 17 negara –18 dengan Indonesia. Penulis ternama macam Harold Pinter, Heinrich Boell, Chaim Potok, Alan Sillitoe, dan Isaac Bashevis Singer menyanjung buku ini. Pinter menyebutkan kisah Oberski ini –yang menceritakan tentang Bergen-Belsen lewat mata seorang bocah Yahudi Belanda– sebagai “mencengangkan” yang, begitu menurut Pinter, “memberikan pemandangan yang mengerikan. Nada cerita senantiasa sederhana dan ringkas, tapi ia menggambarkan suatu dunia penuh keheranan dan derita.”

Masa Kanak-kanak

Unsur-unsur yang membangun kisah Oberski ini, yang terdiri dari dua puluh satu bab singkat yang dikelompokkan ke dalam lima bagian, sudah dikenal dengan cukup akrab. Seorang bocah tanpa nama harus merasakan beleid anti-Yahudi Nazi yang kian lama kian menakutkan. Pertama keluar keputusan itu bahwa warga keturunan Yahudi wajib menyematkan Bintang Kuning pada baju luar: “Tuh lihat,” ujar ibu si bocah, “sekarang kau mempunyai bintang indah yang sama seperti papi.” “Aku betul menyukainya,” batin si bocah, “tetapi aku lebih suka kalau tidak diberi bintang” (Masa Kanak-kanak, Jakarta: Pena Wormer, 2009, hlm. 26. Semua kutipan diambil dari edisi ini.). Ini disusul dengan kilasan-kilasan peristiwa deportasi; koper yang dikemas buru-buru, kamp transit Westerbork, gerbong kereta api yang penuh sesak, harapan tipis keluarga itu bahwa mereka sedang menuju Palestina. Bergen-Belsen lantas menjadi titik pusat buku ini. Di sana si bocah kesulitan memahami hukum bertahan hidup. Misal, saat dia dan anak-anak lain harus membersihkan kuali dengan jari mereka, atau saat dia harus bergeming saat orang tuanya diam-diam bercinta untuk terakhir kali. Setelah menyaksikan ayahnya yang sakit mengembuskan napas terakhir, dia kemudian mencari-carinya di “rumah ketel”:

Aku berjalan ke dalam dan melangkahi tubuh yang paling depan. Aku menaiki tumpukan itu dan memandang ke dalam bungkusan paling atas. Aku hanya bisa melihat sebuah lengan. Aku mulai membuka seprai itu. [...] Aku menarik lengan itu keluar. Tangan itu mirip dengan tangan ayahku. Aku menyentak seprai sampai aku bisa melihat bagian kepala. Kepala itu hitam karena jenggot. Aku turun dari tumpukan dan dari samping melihat sebuah tubuh. Hampir tidak ada cahaya yang menyinarinya. Aku memandangi bagian wajah. Sepasang mata itu berwarna hitam. Pipi kempot. Jenggot pendek, seperti punya ayahku. Hidungnya juga mirip. Aku memandangi kedua tangannya. Tangan itu mirip punya ayahku. Akan tetapi, tubuh itu sama sekali tidak mirip dengan punya ayahku (hlm. 62).
Penghuni Bergen-Belsen kemudian kembali dibawa pergi dengan kereta api, suatu perjalanan yang berakhir di Troebitz, tempat si bocah dan banyak Yahudi Belanda lainnya dibebaskan oleh tentara Rusia. Beberapa di antara mereka, termasuk ibu si bocah, yang mengalami guncangan berat psikologis, gugur tidak lama kemudian karena sakit atau murni karena kelelahan. Novela ini berakhir saat si bocah memulai kembali hidup bersama orang tua angkat di Amsterdam.

Oberski dengan gamblang menggambarkan betapa sulitnya bagi si anak di novela ini untuk beradaptasi dengan kehidupan barunya bersama orang tua angkatnya, yang telah membawanya kembali dari kegelapan: “Muntahan memenuhi mulutku. Aku hampir mati tercekik. Kemudian muntahan itu mengucur ke lantai. Muntahan itu memerciki tungkainya. Ujarnya: ‘Lihat sekarang. Silakan kau bersihkan. Kau bukan anak-anak lagi.’ Dia memberikan sehelai kain kepadaku. Aku mulai membersihkan” (hlm. 92). Pembaca mungkin lantas akan menerka bahwa adegan tersebut bersifat autobiografis, terutama karena Oberski mempersembahkan buku ini kepada orang tua angkatnya, “yang telah kubuat kerepotan membesarkanku.”

“Bagi saya buku ini utamanya bukan suatu karya susastra, tetapi ia juga jangan dianggap sebagai suatu buku biografi atau sejarah. Ia terutama merupakan ikhtiar bagi saya untuk menjelaskan apa yang saya maksudkan dalam percakapan-percakapan tentang masa lalu saya. Saya selalu berperasaan bahwa saya kurang bisa menjelaskan apa yang sebetulnya ingin saya utarakan. Saya bukan seseorang yang bisa menjalin pikiran dengan runut. Malah, saya [cenderung menjelaskan] asal-asalan saja. Dengan segala akibatnya: Anda tidak mengutarakan sesuatu dengan pas, Anda membuat kekeliruan, dan nasi pun menjadi bubur,” komentar Oberski.

Artefak kesusasteraan

Kisah Oberski berbeda dari kisah Anne Frank sebab Buku Harian Anne Frank merupakan dokumen aktual; karya Oberski merupakan artefak kesusasteraan (yang ditekankan dengan kata Novela di sampul depan buku). Oberski berterus terang bahwa dia memang telah memakai pengalaman-pengalamannya untuk menciptakan suatu karya fiksi, tidak seperti, misalnya, Binjamin Wilkomirski, yang karyanya yang bertajuk Fragments: Memories of a Wartime Childhood, yang pada 1995 diterbitkan pertama dalam bahasa aslinya, bahasa Jerman, dan lantas dalam waktu singkat diterjemahkan ke dalam 12 bahasa, pada 1999 ternyata terbukti palsu. Wilkomirski –nama asli Bruno Grosjean, seorang pemain klarinet asal Swiss yang selama perang tidak pernah meninggalkan negara itu– dan Oberski sama-sama menulis sebuah karya tipis tentang kekejian luar biasa yang dilihat lewat mata seorang anak. Pertanyaan apakah tulisan Oberski tentang masa kanak-kanaknya sebagai seorang anak Yahudi Belanda di kamp konsentrasi Nazi Bergen-Belsen adalah akurat hampir tidak relevan. Pendekatan fiksi telah memberikan Oberski lebih banyak ruang (dan teknik) daripada yang dapat ditawarkan oleh pendekatan realisme dokumenter. Kisah di Bergen-Belsen memakan relatif sedikit halaman di dalam buku ini, walaupun tempat tersebut senantiasa menjadi jantung novela ini. Yang lebih penting adalah bagaimana Oberski telah menghidupkan kembali pengalaman dia tersebut –setelah 30 tahun berlalu– dengan kembali menjadi dirinya sewaktu kecil.

Dia menulis memakai kalimat-kalimat singkat yang kita anggap adalah khas kanak-kanak. Hasilnya, dia mengontraskan gaya bahasa yang polos ini dengan kengerian yang berkembang di sekitar dia dan dengan begitu menghubungkan kejadian-kejadian Holokaus ke dunia seorang bocah yang berusia empat tahun di awal dan hampir delapan tahun di akhir buku.

Anak itu masih terlalu muda untuk bisa menyebutkan apa yang dia rasakan; sedang seperti apa suasana hatinya mesti disimpulkan dari persepsi indranya: “Udara di dalam hidungku dingin. Di bawah selimut juga dingin. Aku merapatkan diri kepada ibuku yang hangat dan udaranya yang hangat memasuki hidungku” (hlm. 15). Kepolosan yang mencuat dari Masa Kanak-kanak ini mengemukakan penderitaan akibat penindasan dengan cara yang lebih efektif daripada deskripsi langsung. Kejadian-kejadian pada waktu itu, yang dilihat lewat mata seorang anak, menjadi hidup kembali tanpa berkurang kadar kengeriannya.

Kejadian-kejadian diceritakan apa adanya, dalam arti bahwa hanya kulit luar yang disentuh, yang menjadikan novela ini suatu laporan pengamatan langsung. Oberski urung menguraikan sebab-sebab sebenarnya atau yang dipersepsikan dalam kalimat kompleks; dia sekadar merangkai fakta tok.

Dalam bahasa sederhana, dengan menggunakan kalimat-kalimat pendek, si bocah menceritakan apa yang dia dengar dan lihat. Tentang dunia perasaannya, rasa takutnya, khalayan-khalayannya, kita tidak membaca apa pun. Bahkan, informasi yang paling dasar diberikan secara tidak langsung, dan sering kali itu juga baru belakangan. Cara bertutur ini makin menguatkan karakter cerita yang bersahaja. Ketika si bocah dan ayahnya naik kapal penyeberang, ayahnya berujar kepada pengemudi kapal penyeberang bahwa putranya pandai berbahasa Belanda karena dia memang lahir di negara itu. “Kami sebisa mungkin berbicara dalam bahasa Belanda dengannya” (hlm. 25). Baru setelah membaca itu kita menjadi sadar bahwa mereka adalah suatu keluarga yang berasal dari luar Belanda. Namun, pendekatan yang lugas dan simpel ini bukan, seperti yang diduga, sebagai akibat dari sudut pandang yang dipakai: yaitu, dunia seorang anak. Seorang anak justru cenderung menjadikan suatu fakta lebih menjelimet daripada sebenarnya. Seorang anak cenderung menambahkan khayalan-khayalan pada suatu fakta dan senang memberikan aneka ragam penjelasan. Tidak, dalam Masa Kanak-kanak kita menyaksikan gambaran dunia dari seseorang yang telah mengalami banyak hal mengerikan, dan yang bisa mengangkat hal-hal tersebut hanya jika dia boleh menafikan semua perasaan yang membelenggu. Dia dengan sengaja menciptakan jarak di antara si bocah yang, sebagai seorang anak-anak, tidak menyadari kedahsyatan malapetaka, dan si orang dewasa yang di kemudian hari tidak bisa menyadarinya dan tidak bisa memahaminya lagi.

“Saya tidak bakal bisa menulis [buku ini] dengan cara lain. Pemakaian bentuk sudut pandang orang pertama (yaitu si bocah) tidak saya rencanakan di muka. Itu keluar begitu saja,” jelas Oberski. Akan tetapi, dia menampik bahwa menulis Kinderjaren menjadi suatu bentuk terapi. “Justru sebaliknya. Saya selalu meyakini bahwa: pertama saya harus mengatasi masa lalu, dalam arti bahwa saya bisa membahasnya. Tahu-tahu buku itu sudah jadi. Pikir saya: karena telah menulis semuanya, saya tidak perlu lagi berbicara tentangnya. Itu tentu saja bodoh. Lagian, sama naifnya untuk berpikir bahwa pengalaman-pengalaman itu bisa dilupakan.” (pena wormer)

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

22 Juni 2009

Masa Kanak-kanak

Masa Kanak-kanakJudul: Masa Kanak-kanak
Judul asli: Kinderjaren
Penulis: Jona Oberski
Pengalih bahasa: Laurens Sipahelut
Penyunting bahasa: Eko Sugiarto
Tebal: 96 hlm
Ukuran: 14 cm x 21 cm
ISBN: 978-979-15417-2-5
Harga: Rp 30.000

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) adalah novela karangan fisikawan dan penulis asal Amsterdam Jona Oberski (1938) yang ditulis berdasarkan ingatan dan pengalaman dia semasa kecil di kamp konsentrasi Westerbork (Belanda) dan Bergen-Belsen (Jerman) sewaktu Perang Dunia II. Oberski dari awal sampai akhir berhasil menciptakan suatu dunia sebagaimana dilihat oleh seorang anak.

Terjemahan Kinderjaren telah diterbitkan di Kanada, Denmark, Jerman, Inggris, Finlandia, Prancis, Yunani, Hungaria, Israel, Italia, Jepang, Kroasia, Norwegia, Polandia, Spanyol, Amerika Serikat, dan Swedia.

Dengan kata pengantar Dr. Lilie Suratminto, Pengajar Bahasa dan Sejarah Sosial Budaya Belanda, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

20 Mei 2009

Perang Dunia II: Kamp Konsentrasi

Masa Kanak-kanak Dalam rangka penerbitan Masa Kanak-kanak, edisi bahasa Indonesia buku Kinderjaren karangan fisikawan dan penulis Belanda Jona Oberski, maka berikut adalah uraian singkat tentang kamp konsentrasi semasa Perang Dunia II (1939-1945), termasuk Bergen-Belsen, tempat tokoh utama dalam novela ditahan.

31 Juli 1941. Berdasarkan arahan Adolf Hitler, pejabat Nazi Hermann Goering memerintahkan Jenderal SS Reinhard Heydrich untuk “selekas mungkin serahkan kepada saya suatu rencana umum tentang materi administratif dan langkah keuangan yang diperlukan untuk secara sukses menyelenggarakan Endloesung atas orang Yahudi.”

Endloesung, atau Solusi Pemungkas, adalah sebutan untuk rencana Nazi untuk mengatasi “masalah Yahudi” melalui relokasi sistematis dan, di kemudian hari, pemusnahan lewat genosida. Istilah Endloesung dicetuskan oleh Adolf Eichmann, seorang pejabat teras Nazi yang mengawasi kampanye genosida tersebut. Heinrich Himmler tampil sebagai arsitek utama rencana pembantaian ini, yang bakal memusnahkan tiga perempat orang Yahudi di Eropa. Nazi sengaja memakai istilah ‘Solusi Pemungkas’ untuk mengecoh dunia luas dari beleid pembunuhan massal tersebut.

20 Januari 1942. Lima belas pejabat teras partai Nazi dan pemerintah Jerman bertemu di suatu vila di pinggir Danau Wannsee, Berlin. Pertemuan tersebut, yang sekarang dikenal sebagai Konferensi Wannsee, diadakan oleh Heydrich, yang menjabat sebagai Kepala Deputi Ketua SS (Schutzstaffel alias eselon pelindung) Himmler. Mereka bertemu untuk membahas Solusi Pemungkas, yang di kemudian hari oleh dunia lebih dikenal dengan sebutan Holokaus.

Akan tetapi, Konferensi Wannsee bukan menandai start dari Solusi Pemungkas. Sesungguhnya regu-regu pembunuh (Einsatzgruppen) sudah mulai membantai orang Yahudi di wilayah Uni Soviet pendudukan Jerman semenjak Juni 1941. Alih-alih, Konferensi Wannsee adalah tempat Solusi Pemungkas secara resmi dibeberkan kepada kalangan elite bukan-Nazi yang akan membantu pengangkutan orang Yahudi dari seluruh wilayah Eropa pendudukan Jerman ke, pertama, pemukiman geto dan kemudian ke kamp konsentrasi tempat Nazi memusatkan orang Yahudi untuk memudahkan pengeksploitasian dan kemudian pemusnahan mereka.

Tidak seorang pun di antara mereka yang hadir di Wannsee yang mengajukan keberatan. Baru kali itu ada negara modern yang berkomitmen melakukan pembunuhan atas satu bangsa secara menyeluruh.

Di Wannsee, semua sepakat untuk memusnahkan semua orang Yahudi di Eropa. Semua sepakat bahwa cara yang paling tepat untuk melakukan hal itu dengan cepat adalah dengan menggunakan gas yang dilanjutkan dengan pengabuan. Alasannya: metode ini menimbulkan kematian secara paling tidak menyakitkan. Auschwitz, yang berlokasi di selatan Polandia, menjadi terkenal sebagai lokasi tempat hal ini dilangsungkan paling cepat dan efektif.

Lagi-lagi, eksperimen pembunuhan dengan menggunakan gas telah dilangsungkan sebelum Konferensi Wannsee, yaitu pada September 1941 di Auschwitz I, kamp utama Auschwitz. Enam ratus tahanan perang Uni Soviet dan 250 tahanan yang sakit atau lemah digiring ke dalam kamar gas eksperimental tempat Nazi menguji coba Zyklon B, gas yang lazim digunakan sebagai insektisida.

Nazi mengirim ribuan orang Yahudi ke kamp-kamp konsentrasi tempat banyak di antara mereka dibunuh atau bekerja sampai mati. Mereka hampir selalu diangkut dalam gerbong ternak atau gerbong barang yang tertutup; terkadang satu gerbong memuat 100 sampai 150 orang. Mereka yang pertama dideportasi berasal dari Polandia.

Kepada dunia luar Nazi mengaku bahwa kamp konsentrasi adalah kamp kerja. Oleh karena itu, mereka yang tiba di kamp konsentrasi dikecoh dan tidak percaya bahwa sebetulnya mereka sedang menjadi korban upaya pemusnahan. Begitu tiba, mayoritas tahanan dikirim langsung ke kamar gas; perempuan dan laki-laki dipisahkan. Di peron mereka sudah harus berbaris untuk seleksi. Yang paling kuat berdiri di barisan kerja paksa; yang lemah berdiri di barisan kamar gas. Mereka yang diseleksi untuk kerja paksa dicukur gundul dan pada lengan ditato sebuah nomor.

Banyak perempuan, terutama yang bukan-Yahudi, bekerja sebagai buruh kerja paksa di pabrik-pabrik di sekitar kamp. Salah satu tugas mereka adalah memilah-milah barang pribadi milik tahanan yang baru tiba.

Kamp dijaga oleh SS. Akan tetapi, banyak pengawas juga direkrut dari lingkungan sekitar. Mereka ditempatkan di pos-pos menara jaga dan diperintahkan untuk menembak setiap tahanan yang berusaha kabur. Perwira-perwira SS yang menyelenggarakan kamp memanfaatkan sejumlah tahanan untuk membantu menyeleksi tahanan yang baru tiba. Mereka ini disebut Kapo dan bisa dikenali dari seragam bergaris mereka yang khas. Para pesintas Auschwitz mengisahkan bahwa mereka dibantu oleh para Kapo ini, yang meminta mereka untuk mengaku umur mereka lebih tua dari sebenarnya, atau mengaku memiliki keahlian tertentu. Lewat bentuk perlawanan seperti ini para Kapo berhasil menyelamatkan sejumlah nyawa.

Westerbork, Belanda

Masyarakat Yahudi di Belanda secara sistematis dipusatkan di kamp transit Westerbork. Sebagian besar orang Yahudi yang dikirim ke Westerbork berada di sana hanya sebentar sebelum mereka dideportasi ke pusat-pusat pembantaian di timur.

Pada 15 Juli 1942, Jerman mulai mendeportasi hampir 100.000 orang Yahudi dari Westerbork: sekitar 60.000 ke Auschwitz, lebih dari 34.000 ke Sobibor, hampir 5.000 ke geto Theresienstadt, dan hampir 4.000 ke kamp konsentrasi Bergen-Belsen. Sebagian besar dari mereka yang dideportasi dibunuh begitu tiba di kamp.

Bergen-Belsen, Jerman

Bergen-Belsen adalah salah satu kamp konsentrasi Perang Dunia II terparah tempat sekitar 70.000 orang tewas dibunuh. Ia merupakan kamp konsentrasi terbesar di dalam Jerman dan berlokasi di negara bagian Nedersaksen, sekitar lima puluh kilometer sebelah utara Hannover dan sebelah barat-daya kota Bergen.

Kamp tersebut didirikan pada 1940 untuk menampung tawanan perang. Per 1941, sekitar 20.000 serdadu Rusia mengalami penyiksaan dan menemui ajal di sana. SS mengambil alih kamp pada 1943; Bergen-Belsen dikepalai oleh SS-Hauptsturmfuehrer Adolf Haas pada 1943/ 44 dan Josef Kramer pada 1944/ 45. Walaupun kamp tersebut tidak dilengkapi kamar gas, ribuan orang Yahudi, homoseks, Roma (Gipsi), dan Sinti mengalami penyiksaan dan kelaparan di sana.

Bergen-Belsen dilengkapi lima kamp yang beroperasi secara mandiri:
* Haeftlingslager (kamp tahanan) yang sampai Februari 1944 menampung sekitar 500 tahanan keturunan Yahudi yang ditugaskan membangun kamp.
* Sonderlager tempat ditampungnya orang keturunan Yahudi yang memegang dokumen-dokumen khusus, dan kebanyakan berasal dari Amerika Selatan. Dari 2.400 tahanan, 1.050 dibunuh di Auschwitz.
* Neutralenlager tempat ditampungnya sekitar 350 orang keturunan Yahudi dari negara netral.
* Sternenlager (kamp bintang Yahudi), kamp terbesar Bergen-Belsen. Sebanyak 4.100 tahanan sementara ditampung di sini pada Juli 1944.
* Ungarnlager, tempat ditampungnya 1.684 orang Yahudi asal Hungaria.

Per Maret 1944 Bergen-Belsen beralih fungsi menjadi kamp konsentrasi. Tempat tersebut dihuni oleh sejumlah besar orang Yahudi yang tidak mampu bekerja lagi, buruh kerja paksa, dan di kemudian hari juga tahanan yang dievakuasi dari kamp-kamp konsentrasi di wilayah timur. Situasi kelebihan penduduk memperparah angka kematian lantaran penyakit, malagizi, dan kelelahan; sekitar 35.000 orang wafat antara Januari dan April 1945 saja. Saat pembebasan Bergen-Belsen oleh pasukan Inggris pada 15 April 1945, mereka mendapati ribuan mayat tergeletak begitu saja. Waktu itu ada sekitar 60.000 pesintas, namun 13.000 meninggal pada hari-hari dan minggu-minggu setelahnya. Di sana juga ditemukan sejumlah kuburan massal.

Anne Frank dan kakaknya Margot termasuk di antara para korban. Mereka gugur tidak lama sebelum pembebasan pada Maret 1945; Anne karena tifus, Margot karena terjatuh dari tempat tidur di barak. (berbagai sumber)

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

09 Mei 2009

Perang Dunia II: Kronologi

Masa Kanak-kanak Dalam rangka penerbitan Masa Kanak-kanak, edisi bahasa Indonesia buku Kinderjaren karangan fisikawan dan penulis Belanda Jona Oberski, maka berikut adalah garis besar kronologi Perang Dunia II (1939-1945), konflik terakbar dalam sejarah manusia, yang menjadi latar novela tersebut.

1939

  • 23 Agu: Uni Soviet dan Jerman-Nazi menandatangani pakta nonagresi (Pakta Molotov-Von Ribbentrop).
  • 1 Sep: Jerman-Nazi menyerbu Polandia; Perang Dunia II resmi dimulai.
  • 3 Sep: Inggris Raya dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman. Sehari kemudian RAF menyerang armada Jerman.
  • 5 Sep: AS mempertahankan posisi sebagai negara netral.
  • 17 Sep: Uni Soviet memasuki Polandia.
  • 29 Sep: Jerman dan Uni Soviet memulai pembagian Polandia.
  • 8 Nov: Upaya pembunuhan atas Adolf Hitler gagal. Tidak jelas siapa dalangnya.
  • 30 Nov: Uni Soviet menyerbu Finlandia.
  • 14 Des: Uni Soviet mundur dari Liga Bangsa-bangsa.

1940

  • 12 Mar: Finlandia menandatangani gencatan senjata dengan Uni Soviet.
  • 9 Apr: Jerman menyerbu Denmark dan Norwegia.
  • 10 Mei: Di Inggris Raya, Winston Churcill menjadi perdana menteri. Jerman menyerbu Belanda, Belgia, dan Luksemburg.
  • 3 Jun: Bombardemen massal Jerman atas Paris.
  • 10 Jun: Italia –yang bersama Jerman dan Jepang membentuk Kekuatan Poros– menyatakan perang terhadap Prancis dan Inggris Raya.
  • 16 Jun: Di Prancis, Marsekal Philippe Pétain menjadi perdana menteri.
  • 18 Jun: Uni Soviet menduduki 3 negara Balkan (Estlandia, Letlandia, dan Litouwen).
  • 28 Jun: Inggris Raya mengakui Jenderal Charles de Gaulle sebagai pemimpin Prancis merdeka.
  • 5 Jul: Rezim Vichy di bawah Pétain memutuskan hubungan diplomatik dengan London.
  • 10 Jul: ‘Battle of Britain’ dimulai dengan serangan udara massal Jerman atas Inggris.
  • 23/ 24 Agu: Bombardemen massal Jerman atas London.
  • 25/ 26 Agu: Serangan udara Inggris atas Berlin.
  • 5 Nov: Di AS, Franklin D. Roosevelt terpilih kembali sebagai presiden.
  • 20 Nov: Hungaria bergabung dengan Kekuatan Poros.
  • 29/ 30 Des: Serangan udara massal Jerman atas London.

1941

  • 12 Feb: Jenderal Erwin Rommel menjadi Panglima Besar Nazi di Afrika Utara.
  • 27 Mar: Kudeta di Yugoslavia menggulingkan rezim pro-Nazi di Belgrado. Tidak lama kemudian Yugoslavia kembali jatuh ke dalam tangan Kekuatan Poros.
  • 10/ 11 Mei: Jerman membombardir London, Inggris Raya melancarkan serangan udara atas Hamburg.
  • 4-8 Jun: Kekuatan Poros mencaplok sejumlah besar wilayah di Timur Tengah.
  • 22 Jun: ‘Operasi Barbarossa’ digelar: Jerman menyerang Uni Soviet.
  • 12 Jul: Inggris Raya dan Uni Soviet menandatangani pakta kerja sama.
  • 1 Sep: Jerman-Nazi mewajibkan orang Yahudi mengenakan bintang kuning. Dua hari kemudian eksperimen gas pertama dilangsungkan di Auschwitz.
  • 2 Okt: ‘Operasi Badai’ digelar: Jerman mulai bergerak ke Moskowa.
  • 5 Des: Serangan Jerman atas Moskowa gagal. Uni Soviet melancarkan serangan balasan sengit.
  • 7 Des: Jepang menyerang armada AS di Pearl Harbor. Keesokan hari AS dan Inggris Raya menyatakan perang terhadap Jepang.
  • 11 Des: Jerman menyatakan perang terhadap AS.
  • 19 Des: Hitler mengangkat diri sendiri sebagai Panglima Besar Angkatan Bersenjata Jerman.

1942

  • 20 Jan: Di Wannsee, elite Nazi memutuskan membasmi orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi: Nazi mengistilahkan ini sebagai Solusi Pemungkas.
  • Jun: Pembunuhan massal orang Yahudi dimulai di Auschwitz.
  • 1-30 Jul: Pertempuran untuk merebut Al Alamayn.
  • 9 Jul: Jerman bergerak ke arah Stalingrad.
  • 22 Jul: Pendeportasian orang Yahudi dari pemukiman geto Warsawa ke kamp-kamp konsentrasi. Kamp Treblinka dibuka.
  • 7 Agu: Jenderal Montgomery dari Inggris memimpin perlawanan di Afrika Utara. Beberapa bulan kemudian perlawanan Jerman di sana berhasil dipatahkan.
  • 23 Agu: Serangan udara besar-besaran Jerman atas Stalingrad.
  • 18 Okt: Hitler memerintakah eksekusi semua tahanan Inggris.
  • 11 Nov: Jerman dan Italia menyerbu Vichy (Prancis).
  • 17 Des: Berita resmi pertama di barat tentang pembantaian massal orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi.

1943

  • Jan: Penarikan mundur Jerman secara bertahap dari Uni Soviet.
  • 14-24 Jan: Dalam suatu konferensi di Casablanca, Presiden Roosevelt menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk menyudahi perang adalah dengan mengepung Jerman secara menyeluruh.
  • 2 Mar: Jerman menarik diri dari Tunesia.
  • 16-20 Mar: Titik puncak ‘Battle of Atlantic’: 27 kapal selam Jerman dibombardir.
  • 19 Apr: Serangan membabi buta Waffen SS atas geto Warsawa.
  • 11 Jun: Heinrich Himmler memerintahkan pembasmian massal orang Yahudi di pemukiman-pemukiman geto di Polandia.
  • 9/ 10 Jul: Pasukan Sekutu mendarat di Sisilia.
  • 25/ 26 Jul: Penangkapan Benito Mussolini, akhir dari pemerintah fasis di Italia. Marsekal Pietro Badoglio menjadi pemimpin baru di Roma.
  • 23 Sep: Setelah serdadu Jerman membebaskan Mussolini, dia memproklamasikan kembali pemerintahan fasis di Italia.
  • 13 Okt: Pemerintahan sipil di Italia menyatakan perang terhadap Jerman.
  • 28 Nov: Pertemuan antara Roosevelt, Churchill, dan Joseph Stalin di Teheran. Pendaratan massal Sekutu di pantai Eropa Barat ditetapkan untuk musim semi 1944. Soviet Uni berkomitmen mendampingi AS dalam perang melawan Jepang.

1944

  • 6 Jan: Soviet Uni memukul kembali Jerman sampai jauh ke dalam wilayah Polandia.
  • 27 Jan: Pembebasan Leningrad setelah diduduki Jerman selama 900 hari.
  • 8 Apr: Soviet Uni memulai pembebasan semenanjung Krimea.
  • 11 Mei: Pasukan Sekutu bergerak maju dari selatan sampai ke Roma.
  • 6 Jun: D-DAY. Serdadu Amerika, Kanada, dan Inggris mendarat secara massal di pantai Normandia. Pembebasan Eropa Barat dimulai.
  • 27 Jun: Pasukan Amerika membebaskan Cherbourg.
  • 20 Jul: Upaya pembunuhan atas Hitler gagal.
  • 24 Jul: Serdadu Uni Soviet membebaskan kamp konsentrasi Majdanek.
  • 1 Agu: Pemberontakan massal tentara Polandia terhadap pendudukan Jerman.
  • 4 Agu: Gestapo menangkap Anne Frank dan keluarganya yang keturunan Yahudi di Amsterdam.
  • 7 Agu: Jerman-Nazi mulai melancarkan serangan balasan massal.
  • 19/ 20 Agu: Uni Soviet memulai pembebasan Balkan.
  • 25 Agu: Pembebasan Paris.
  • 4 Sep: Gencatan senjata antara Uni Soviet dan Finlandia.
  • 26 Sep: Uni Soviet mencaplok Estlandia. Tidak lama kemudian Letlandia dan Litouwen menyusul.
  • 14 Okt: Pada hari Athena dibebaskan, Jenderal Rommel bunuh diri.
  • 21 Okt: Di dekat Aken, serdadu Jerman dikepung secara massal.
  • 30 Okt: Pembunuhan terakhir dengan gas di Auschwitz.
  • 16-27 Des: Pertempuran untuk merebut Ardennen dimenangi oleh pasukan Sekutu. Pada 17 Desember Waffen SS membantai puluhan serdadu Amerika di Malmédy.

1945

  • 27 Jan: Serdadu Uni Soviet membebaskan kamp konsentrasi Auschwitz di Polandia.
  • 4-11 Feb: Roosevelt, Churchill, dan Stalin bertemu di Yalta untuk membahas keadaan setelah perang.
  • 13-14 Feb: Penghancuran Dresden lewat aksi bombardemen udara Sekutu.
  • 6 Mar: Serangan balasan terakhir Jerman di Hungaria.
  • 1 Apr: Jerman dikepung di wilayah Ruhr. Pembebasan Italia Utara.
  • 12 Apr: Pembebasan kamp konsentrasi Buchenwald dan Belsen. Presiden Roosevelt mangkat dan digantikan oleh Harry Truman.
  • 21 Apr: Pasukan Soviet membebaskan Berlin.
  • 28 Apr: Kelompok partisan menggantung Mussolini.
  • 29 Apr: Serdadu Amerika membebaskan kamp konsentrasi Dachau.
  • 30 Apr: Hitler dan Eva Braun, pasangannya, bunuh diri.
  • 5 Mei: Pembebasan Belanda.
  • 8 Mei: VE-DAY (= Victory Europe Day). Pembebasan Eropa.
  • 9 Mei: Hermann Goering ditangkap oleh serdadu Amerika.
  • 23 Mei: SS Reichsfuehrer Himmler bunuh diri.
  • 5 Jun: Pembagian Jerman dan Berlin oleh AS, Inggris Raya, Prancis, dan Uni Soviet.
  • 26 Jun: Penandatanganan Piagam PBB di San Francisco.
  • 26 Jun: Konferensi Potsdam dimulai.
  • 26 Jun: Clement Attlee menggantikan Churchill sebagai Perdana Menteri Inggris Raya.
  • 6 Agu: AS menjatuhkan bom atom atas Hiroshima.
  • 8 Agu: Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang.
  • 9 Agu: AS menjatuhkan bom atom atas Nagasaki.
  • 2 Sep: Jepang menyerah kalah dan menandatangani perjanjian damai.
  • 24 Okt: Tanggal resmi berdirinya PBB.
  • 20 Nov: Penjahat perang Nazi disidang di Nuerenberg. Goering termasuk di antara yang dihukum mati, namun dia bunuh diri dua jam sebelum eksekusi.

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.

04 Mei 2009

Perang Dunia II: Latar Belakang

Masa Kanak-kanak Dalam rangka penerbitan Masa Kanak-kanak, edisi bahasa Indonesia buku Kinderjaren karangan fisikawan dan penulis Belanda Jona Oberski, maka berikut adalah garis besar latar belakang Perang Dunia II (1939-1945), konflik terakbar dalam sejarah manusia, yang menjadi latar novela tersebut.

Perang Dunia I (1914-1918) berakhir dan Jerman yang berhasil ditundukkan itu dipaksa menandatangani Perjanjian Versailles pada 28 Juni 1919, yang mengharuskan negara tersebut membayar pampasan perang yang tidak sedikit. Selain itu, dalam rangka perjanjian tersebut, Jerman juga mesti menyerahkan kembali wilayah yang ia telah rebut kepada Prancis, Polandia, dan Cekoslovakia, dan membatasi angkatan bersenjatanya menjadi maksimal 100.000 serdadu.

Pemerintah Inggris Raya, Prancis, dan Amerika Serikat semua berharap perjanjian ini bakal membawa perdamaian yang lebih mapan di muka bumi, tempat asas demokrasi akan bertumbuh-kembang lebih subur. Akan tetapi, pada 1919, Benito Mussolini mulai mengobarkan fasisme di Italia. Dia mengusung paham nasionalisme ekstrem dan mengecam komunisme yang mulai berkembang dan juga aliran politik lainnya –pascaperang saudara di Rusia, yang berujung dengan terbentuknya Uni Soviet, komunisme memang semakin mengemuka di bawah kepemimpinan Joseph Stalin, suatu perkembangan yang diikuti dengan waswas oleh sejumlah besar kalangan di Jerman dan negara fasis lainnya yang memandang paham tersebut sebagai suatu ancaman. Wacana Mussolini yang vokal itu bersambut dengan baik di banyak kalangan dan tidak lama kemudian, pada 1925, Mussolini, dengan janjinya untuk membangun ‘Kekaisaran Romawi Baru’, menjadi diktator Italia. Di kemudian hari, pemimpin Jerman Adolf Hitler, dan juga diktator Austria serta Spanyol, semufakat dengan gagasan-gagasannya.

Sementara itu, bermodalkan kepandaian berorasi dan suatu wacana politik tertentu, seusai PD I Hitler memutuskan untuk terjun ke dunia politik. Pada 1923 usahanya untuk menggulingkan pemerintah Jerman gagal dan dia berakhir di dalam penjara. Dari balik jeruji dia lantas menulis buku Mein Kampf, yang menyingkapkan perangai Hitler dan cetak biru masa depan Jerman. Begitu terbit pada 1925 buku tersebut kurang diminati. Baru setelah Hitler menjabat Kanselir Jerman Mein Kampf menjadi sangat laris, bukan karena isinya, tetapi karena semua orang merasa wajib memilikinya.

Begitu kembali menghirup udara bebas, Hitler kembali ke dunia politik. Partainya (NSDAP, yang lebih dikenal dengan singkatannya: Nazi) semakin berkembang dan semakin berkuasa, sampai akhirnya pada 1933 Adolf Hitler diangkat menjadi Kanselir Reich. Begitu menjadi kepala pemerintah, Hitler menghapus demokrasi, mengadopsi beleid tata dunia rasialis yang radikal, dan tidak lama kemudian menyelenggarakan kampanye massal persenjataan kembali. Pada 1934, Presiden Jerman Paul von Hindenberg meninggal dan Hitler mengambil alih jabatan kepresidenan dan Angkatan Darat Jerman mengikrarkan sumpah setia kepadanya. Dengan demikian jabatan resmi Hitler menjadi ‘Fuehrer dan Kanselir Reich’: dia adalah Presiden Reich (kepala negara), Kanselir Reich (kepala pemerintah), dan Fuehrer (pemimpin partai Nazi). Kediktatoran Nazi siap bergulir.

Jalan sekarang terbuka lebar bagi Hitler untuk merealisasi visinya seperti dijabarkan di dalam Mein Kampf. Di dalam buku tersebut, Hitler membagi manusia ke dalam dua jenis: ras unggul Uebermensch (bangsa Aryan) dan ras bukan-unggul Untermensch (bangsa Yahudi, Slavia, Cek, Polandia, dan Rusia). Dia menggambarkan perjuangan memperebutkan kekuasaan atas dunia sebagai suatu perjuangan rasialis, budaya, dan politik antara kaum Yahudi dan ras Aryan. Dia menunding bangsa Yahudi berupaya mengendalikan keuangan dunia, mengarahkan media massa, menemukan demokrasi liberal, dan menggalakkan prostitusi. Wacana seperti ini dimasyarakatkan di seluruh Jerman dan di kemudian hari bahkan diajarkan di sekolah-sekolah. Di dalam bukunya, Hitler juga menjelaskan penaklukan kemiliteran yang dia patok demi menyediakan ruang hidup (Lebensraum) dan pangan bagi ras-supernya itu. Dia mencanangkan penaklukan jiran-jiran di timur, terutama Rusia. Akan tetapi, untuk mencapai ini Jerman pertama mesti menundukkan musuh bebuyutan Prancis; yaitu, untuk membalas dendam atas kekalahan di PD I dan sekaligus untuk memperkuat dan melindungi perbatasan di barat. Juga, dia hendak membangun suatu Reich Jerman yang akan berdiri selama 1000 tahun: yaitu Reich Ketiga (sebagai penerus Reich Jerman pada Abad Pertengahan dan Reich Kekaisaran Jerman yang berdiri antara 1871 s/d 1918).

Semua peristiwa tersebut berlangsung saat perekonomian Jerman, dan juga negara-negara lainnya, sedang terpuruk. Pengangguran dan kemiskinan merajalela. Jerman dibekap ketidakpastian dan kekacaubalauan. Hitler memenangkan hati rakyat Jerman karena berjanji akan memberantas kemiskinan, pengangguran, dan kekacaubalauan. Masyarakat pada waktu itu membutuhkan sosok seorang pemimpin yang kuat, dan dalam mata mereka sosok itu adalah Adolf Hitler.

Hitler mengambil langkah-langkah yang secara bertahap membuat Eropa semakin gerah. Setelah dia mengingkari Perjanjian Versailles, mempercepat militerisasi, dan memberlakukan wamil pada 1935; kemudian memiliterisasi kembali Rhineland (wilayah yang pra-PD I menjadi bagian dari Jerman dan langkah tersebut adalah pelanggaran langsung terhadap Perjanjian Versailles) pada 1936; Jerman lantas mencaplok Austria pada 1938. Negara-negara besar Eropa tidak melancarkan banyak protes, yang membuat Hitler semakin berani. Sebagai langkah berikut dia menuntut penyertaan Sudetenland, suatu wilayah di Cekoslovakia yang mayoritas penduduknya bersuku etnis Jerman, ke dalam Jerman. Meskipun pemerintah Cekoslovakia keberatan, Prancis dan Inggris membiarkan Hitler asalkan Jerman tidak menuntut lebih banyak.

Namun, apa yang terjadi kemudian adalah Jerman dan Italia memaksa Cekoslovakia kembali melepaskan wilayah tapi kali ini kepada Hungaria dan Polandia sebelum, pada 1939, Jerman menginvasi Cekoslovakia dan memecah wilayah tersebut menjadi tiga bagian (Bohemia, Moravia, dan Republik Slovak).

Melihat gelagat Jerman yang tidak akan berhenti sampai di sini, Prancis dan Inggris menjamin pemberian dukungan mereka atas kemerdekaan Polandia; ketika Italia menundukkan Albania pada 1939, jaminan yang sama diberikan kepada Rumania dan Yunani. Masih pada 1939, Jerman dan Uni Soviet menandatangani pakta nonagresi, yang memuat protokol rahasia untuk membagi Polandia dan Eropa Timur menjadi dua lingkungan pengaruh yang berbeda. Pada 1 September 1939, Hitler melancarkan invasi ke Polandia. Inggris dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman dan Perang Dunia II dimulai.

Hitler berjanji tidak akan menyerang Belanda, negara tempat tinggal tokoh utama Masa Kanak-kanak. Akan tetapi, pada 10 Mei 1940 tentara Jerman menyerang dan mereka disambut perlawanan sengit tentara Belanda. Ketika Hitler memutuskan untuk membombardir kota Rotterdam untuk mematahkan perlawanan, pemerintah Belanda pun menyerah demi mencegah jatuhnya korban sipil. Jerman merebut Belanda dalam lima hari.

Jumlah korban PD II diprakirakan mencapai sekitar 60 juta jiwa; yaitu sekitar 20 juta serdadu dan 40 juta penduduk sipil. Sejumlah besar penduduk sipil wafat karena penyakit, kelaparan, pembantaian massal, bombardemen, dan genosida. Korban tewas di pihak Uni Soviet mencapai sekitar 27 juta jiwa, yaitu kira-kira setengah dari jumlah korban mati PD II. (berbagai sumber)

Masa Kanak-kanak (Kinderjaren) tersedia di toko buku Gramedia.