Tampilkan postingan dengan label surat untuk raja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surat untuk raja. Tampilkan semua postingan

23 Agustus 2009

Empat Mata dengan Tonke Dragt

Tonke Dragt (foto: Mark Sassen)

Mengidolakan JRR Tolkien

Berkaitan peluncuran buku De brief voor de koning terjemahan bahasa Indonesia, Pustakaloka Kompas berkesempatan melakukan wawancara dengan penulisnya, Tonke Dragt. Wawancara jarak jauh ini difasilitasi Liesbeth ten Houten dari penerbit Leopold Belanda.
Berikut petikan wawancara tersebut:


Apa yang mendorong Bu Tonke untuk menulis buku cerita anak-anak, bukan buku cerita untuk dewasa atau yang lain?Tonke tidak melakukan pembedaan antara pembaca dewasa dan anak-anak. Ia sering memulai dengan suatu citra, dan suatu ilustrasi. Kebetulan tidak seperti buku orang dewasa, tetapi lebih seperti buku anak-anak berilustrasi. Tonke pernah berprofesi sebagai guru menggambar. Sebagian besar bukunya adalah untuk semua umur.

Apa yang menarik dari dunia anak-anak atau remaja menurut Bu Tonke sehingga banyak menulis buku cerita untuk kalangan anak-anak dan remaja ini? Apakah terkait dengan pengalaman masa lalu atau sebab yang lain?Tonke menulis buku tentang membuat pilihan, dan kemudian tokoh utamanya menjadi terlibat dalam petualangan. Yang ia tanyakan adalah “what happens if...”. Dan petualangan pun terjadi.

Apakah dorongan menulis buku cerita anak juga didorong oleh situasi eksternal atau kondisi buku cerita anak yang ada waktu itu di Belanda? Misalnya ingin memberi warna lain terhadap buku-buku cerita anak yang sudah ada waktu itu?Tidak, ia tidak berpikir ke arah sana. Ia menyukai cerita yang mengambil tempat di abad pertengahan, tetapi menulis buku tentang membuat pilihan dan akibat-akibat dari pilihan itu juga bisa menjadi buku fiksi ilmiah.

Apakah pengalaman masa kecil di Jakarta berpengaruh terhadap tulisan atau cerita-cerita yang dibuat Bu Tonke? Apakah ada buku yang ber-setting Jakarta atau Indonesia?Iya, masa remajanya di Indonesia amat sangat penting. Lingkungan tropis sering kali menjadi latar belakang, dan Tonke mulai bercerita dan membuat buku (bersama seorang teman) pada masa perang di kamp pengungsi di Indonesia. Di tempat pengungsian itu ia menjadi tahu bahwa ia pandai membuat cerita; di sana ia mulai menggunakan daya imajinasi. Di sana ia ternyata bisa membuat orang-orang lain melupakan keadaan susah yang dihadapi, rasa lapar mereka: semua cerita memiliki happy ending, penuh acara makan-makan besar, dan tokoh-tokohnya selalu bisa kabur melarikan diri.

Bagaimana pendapat Bu Tonke terhadap perkembangan buku cerita anak masa kini di Belanda?Bagus! Dan sungguh luar biasa bahwa efek Harry Potter menjadikan buku-buku tebal digandrungi!

Siapa pengarang buku idola dan paling dikagumi Bu Tonke?Banyak sekali, salah satunya JRR Tolkien, pengarang The Lord of the Rings.

Apa buku cerita anak paling disukai, paling hebat, menurut Bu Tonke?Sulit untuk mengatakannya. Tonke menyukai banyak sekali buku.

Hingga saat ini Surat untuk Raja sudah dicetak hingga berapa eksemplar?Di Belanda, sekitar 400.000 eksemplar.

Yang terakhir, obsesi yang belum terlaksana saat ini terutama berkaitan dengan buku yang ingin ditulis?Tonke ingin menulis dan menyelesaikan sekuel buku Aan de andere kant van de deur (The other side of the door). Saat ini 75 persen telah rampung dan semua ilustrasi telah siap. (WEN/Litbang Kompas)

Dikutip dari harian Kompas edisi Senin, 25 Februari 2008.

Surat untuk Raja (De brief voor de koning) tersedia di toko buku Gramedia.

13 Mei 2009

Nilai Janji yang Terucap

Resensi 'Surat untuk Raja' dalam harian KompasSebagai penggambar dan penulis, saya gemar membuat peta dan tulisan mengenai negeri-negeri yang saya karang atau, tepatnya, saya temukan. Barangkali karena saya menjadi bagian dari dua negara yang berbeda, yang dua-duanya saya cintai, namun yang di satu pun saya tidak pernah benar-benar merasa betah….

Demikian bunyi penggalan surat yang dikirimkan Tonke Dragt kepada pembaca di Indonesia terkait dengan peluncuran salah satu bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. De brief voor de koning, karya Tonke Dragt, yang terbit tahun 1962 akhirnya dapat dinikmati publik Indonesia. Penerbit Pena Wormer, yang mengkhususkan diri pada karya penulis Belanda, meluncurkan edisi bahasa Indonesia dengan judul Surat untuk Raja, awal Desember 2007.

Pada tahun 1963—setahun setelah penerbitannya—anugerah buku anak terbaik disabet Surat untuk Raja. Empat puluh tahun kemudian karya itu belum kehilangan geregetnya. Cetakan ke-19 terbit pada tahun 2002. Capaian tertinggi diraih dua tahun kemudian saat buku anak itu dinobatkan sebagai Buku Anak Terbaik di Belanda sepanjang lima puluh tahun terakhir (1955-2004). Suatu pencapaian yang luar biasa dari sebuah karya yang seolah tak lekang dimakan usia. Oplahnya tidak boleh dipandang sebelah mata: sejak 1962, jutaan eksemplar telah terjual dan berbagai toko buku di Belanda setiap tahun menjual lebih dari 15.000 buku.

Cerita dalam Surat untuk Raja berlatar waktu saat para ksatria masih berjaya. Tokoh utamanya adalah seorang pemuda berusia enam belas tahun bernama Tiuri, seorang calon ksatria yang harus menempuh ujian terakhir sebelum diangkat menjadi ksatria. Pada malam menjelang pengangkatan, bersama empat calon ksatria lainnya, Tiuri bertirakat dan menyepi di sebuah kapel di wilayah kerajaan Baginda Dagonaut. Dua puluh empat jam lamanya dia harus menahan kantuk, lapar, dan keinginan berinteraksi dengan orang lain.

Pada malam yang menentukan itu, dia mendengar ketukan di pintu kapel. Seorang lelaki tua misterius meminta pertolongannya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Ksatria Hitam Laskar Perisai Putih. Si lelaki tua menyerahkan surat dan mengatakan bahwa seekor kuda hitam akan membawa Tiuri menemui ksatria yang dimaksudkan. Mengikuti kata hatinya, Tiuri menafikan semua larangan dan mempertaruhkan nasibnya. Menembus gelapnya malam, calon ksatria itu berkuda mengantarkan surat.

Suatu tugas yang teramat berat dan penuh bahaya untuk dilaksanakan. Dalam sekejap dia menjadi barid, seorang pengantar surat. Jalan panjang ditempuh menuju Kerajaan Unawen. Dalam perjalanan Tiuri harus menghadapi Laskar Pusu Pengendara Merah dari negeri Eviellan yang sedang berperang dengan Kerajaan Unawen. Laskar itu berkepentingan mencegah surat itu sampai di tangan Raja Unawen. Tiuri juga harus berhadapan dengan ksatria yang tergabung dalam Pusu Ksatria Kelabu, yang menuntut balas kematian Ksatria Hitam laskar Perisai Putih. Nantinya terbukti bahwa Ksatria Kelabu berada di pihak yang sama seperti Tiuri, mereka membela kepentingan Raja Unawen. Para Ksatria Kelabu menuturkan bahwa Ksatria Hitam Perisai Putih yang terbunuh adalah Edwinem dari Forestera, ksatria Raja Unawen yang paling setia dan digdaya, yang gugur karena dijebak Laskar Pusu Pengendara Merah.

Di pertapaan Menaures, sang petapa memperkenalkannya pada Piak, penunjuk jalan di pegunungan. Pada Piak, Tiuri menemukan sosok seorang sahabat. Rintangan demi rintangan dilalui kedua pemuda dalam melaksanakan tugas mengantar surat rahasia itu.

Resensi 'Surat untuk Raja' dalam harian Kompas

Nilai kebajikan dalam kemasan sederhana

Kisah Tiuri yang berlatar negeri antah berantah dan bermain di masa yang mengingatkan orang pada Abad Pertengahan patut mendapat acungan jempol. Pendapat pemerhati buku anak di Belanda—yang menilai buku ini sebagai karya abadi yang memiliki semua hal yang semestinya dipenuhi sebuah buku anak yang baik—dapat dibenarkan. Setelah lebih dari dua puluh enam tahun, tidak ada satu nilai kebajikan yang diusung dalam cerita ini ketinggalan zaman.

Unsur fiksi yang dihadirkan menjadikan kejadian dalam cerita tetap terterima sampai saat ini. Dragt berhasil menggabungkan fantasi dan kenyataan, dunia yang diciptakannya terasa begitu nyata. Penggambaran latar tempatnya membuat pembacanya terseret dan mulai membayangkan keindahan hutan dan bengawan, pekatnya malam di hutan atau sulitnya perjalanan melalui pegunungan. Kepiawaiannya menggambar—dia membuat sendiri ilustrasi buku-bukunya—barangkali berperan dalam pembentukan gambaran latar yang memikat. Penggambaran latar bersifat universal sehingga memudahkan pembaca menghayatinya. Struktur cerita yang jelas dengan alur maju pastinya tidak akan menyulitkan pembaca muda menangkap benang merah kisah petualangan ini.

Buku ini mengusung nilai-nilai kebajikan dalam kemasan sederhana. Terkadang pesan yang penuh perenungan diungkap, bukan lewat tindakan heroik para ksatria, tetapi misalnya ujaran tokoh sampiran. Tokoh Tirillo, pelawak penghibur di Negeri Unawen, berulang kali mengemban tugas menyampaikan perenungan itu. "Seseorang tidak perlu mengusung pedang dan perisai untuk menjadi ksatria" (hal 459). Makna yang terkandung dalam pendapat si badut itu teramat dalam. Atau barangkali yang lebih menarik. Bagian berikut ini tak kalah memikat, saat si pelawak diminta menyanyi untuk menghibur hati, Trililo menolak dan justru mengatakan, "Aku tidak bisa menghilangkan kesedihan hati kalian. Sekali-kali kau harus merasakan kesedihan agar bisa lebih menghargai kegembiraan. Sama seperti hujan yang mesti turun di antara sinar matahari" (hal 449).

Pemenuhan janji yang telah terucap, kentara ditekankan dalam Surat untuk Raja. Berkali-kali dalam cerita disuguhkan bagaimana tokoh utama dan beberapa tokoh lain jungkir balik berupaya memenuhi janji. Bahwa mereka harus mengalahkan rintangan dan berbagi beban dalam menghadapi berbagai kendala yang menghadang, memperkuat pesan yang hendak disampaikan. Dan bila semua rintangan dan kendala terlewati, tugas dan janji terpenuhi, imbalan yang layak menanti. Dus bukanlah lidah tak bertulang, lain di bibir lain di hati.

Makna persahabatan dijunjung tinggi, bersama teman kesulitan lebih mudah dihadapi, kebahagiaan dan kemenangan menjadi jauh lebih bermakna. Nilai seorang teman sejati diungkap dalam kisah ini, berkorban, menimbang rasa, besar artinya dalam sebuah relasi.

Perjalanan yang dilakukan Tiuri sejalan dengan tema yang sering diangkat Dragt. Untuk menyampaikan surat penting, Tiuri menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Di akhir perjalanan Tiuri becermin dan melihat sebuah sosok baru: seorang calon ksatria telah menjadi "ksatria" sesungguhnya, seorang pemuda menjadi lelaki dewasa.


Dua ragam dalam satu kemasan

Sungguh bukan pekerjaan mudah untuk menuturkan kembali kisah petualangan Tiuri yang luar biasa ini ke dalam bahasa Indonesia. Dalam mengalihbahasakan Surat untuk Raja, Laurens Sipahelut menggabungkan dua ragam bahasa. Kentara ada upaya dari penerjemah untuk membuat buku ini terterima di kalangan pembaca muda. Ragam keseharian dipilih dan dihadirkan melalui dialog. Kehadiran kata-kata yang tidak "resmi" seperti enggak, ’lah buset’, ’larinya enggak ada matinya’, tos gambar, ditengarai dapat menjadi "pencair" keseriusan cerita. Sayangnya, terkadang pilihan kata semacam ini mengganggu keasyikan membaca.

Edisi bahasa Indonesia ini juga berhasil menunjukkan kehebatan Dragt bercerita. Di samping ragam keseharian, Sipahelut menghadirkan ragam tinggi, dengan pilihan kata yang elok. Mungkin saja ini untuk memperlihatkan kedahsyatan kisah petualangan Tiuri. Efek kehadiran kata-kata "berdaya" seperti barid, biduanda, juak-juak, sipangkalan sangat mencengangkan. Kata-kata yang tidak "lumrah" dan jarang didengar—untungnya untuk kata semacam itu selalu diberikan penjelasan makna—menimbulkan sensasi keindahan yang luar biasa. Dampak gabungan dua ragam itu menciptakan "kemegahan" yang terasa begitu "membumi".

Sipahelut juga bereksperimen menciptakan kata-kata baru, yang barangkali terasa asing di telinga pengguna bahasa Indonesia, seperti pekuda, mengendala, mencenangkan. Beberapa kata bahkan tidak ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi pemaknaannya mengalir saja. Kenyamanan membaca justru terganggu karena masih banyaknya pekerjaan penyuntingan yang harus dibenahi.

Gembira rasanya menyaksikan bahwa ranah buku anak di Indonesia diperkaya dengan edisi bahasa Indonesia karya Tonke Dragt ini. Di Negeri Belanda, Surat untuk Raja disejajarkan dengan karya besar penulis buku anak kelas dunia seperti CS Lewis The Chronicle of Narnia dan The Lord of the Ring milik JRR Tolkien. Hanya sedikit sekali buku anak karya bahasa Belanda dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Untuk menyebut beberapa di antaranya, Perjalanan Menembus Waktu karya Thea Beckman (Teraju, 2005) dan Minoes karya Annie MG Schmidt (Gramedia, 2006).

Petualangan Tiuri belum berakhir, kisah perjalanannya dapat diikuti dalam buku karya Tonke Dragt lainnya. Siapa tahu Pena Wormer atau penerbit lain masih akan menerbitkan edisi bahasa Indonesia petualangan Tiuri berikutnya. Kita tunggu saja.

CHRISTINA SUPRIHATIN
Pengajar Susastra dan Terjemahan pada Program Studi Belanda FIB Universitas Indonesia

Dimuat dalam harian Kompas, Senin, 25 Februari 2008

Surat untuk Raja tersedia di toko buku Gramedia.

04 Februari 2009

Nonton bareng 'De brief voor de koning': jepretan kilas

Stan buku di Erasmus Huis.Pada 31 Januari 2009, Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta, dipadati pengunjung yang khusus datang untuk menonton film De brief voor de koning alias Surat untuk Raja karya sutradara Pieter Verhoeff yang diputar dua kali secara maraton. Serbaseru: iya filmnya, iya penontonnya! Pena Wormer melapor lewat jepretan kilas.




Rombongan SMP 5 Jakarta.Rombongan SMP 5 Jakarta yang menonton pemutaran sesi pertama yang start pukul 13.30 WIB. Ada yang kesengsem dengan Yannick van de Velde, aktor ganteng yang memerankan Tiuri?

Menjelang pemutaran sesi kedua.Suasana menjelang pemutaran kedua yang dimulai pada pukul 16.00 WIB: berpose sebelum dilarang, eh, sebelum lampu dipadamkan.

Menjelang pemutaran sesi kedua.Di akhir pemutaran pertama maupun kedua De brief voor de koning mendapat tepuk tangan meriah.

Menjelang pemutaran sesi kedua.Terima kasih kepada Erasmus Huis atas penyelenggaraan acara nonton bareng De brief voor de koning.

Stan buku di Erasmus Huis.Stan buku Surat untuk Raja, edisi bahasa Indonesia De brief voor de koning karangan Tonke Dragt yang diterbitkan oleh Pena Wormer, di Erasmus Huis pada hari pemutaran film. Terima kasih kepada toko buku Gramedia dan distributor BIP atas kerja sama yang mulus.

Stan buku di Erasmus Huis.Seusai menonton: membawa pulang sedikit budaya Belanda.

(foto © hak cipta Pena Wormer, 2009)
Surat untuk Raja tersedia di toko buku Gramedia.

14 Januari 2009

Pemutaran Film ‘De brief voor de koning’ di Erasmus Huis

De brief voor de koning Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta, akan menayangkan film keluarga De brief voor de koning (Surat untuk Raja) secara gratis pada Sabtu, 31 Januari 2009. Film berbahasa Belanda dengan teks bahasa Inggris ini ditayangkan dua kali pada pukul 13.30 WIB dan 16.00 WIB.

De brief voor de koning, yang di Belanda diperdanakan di bioskop pada 13 Juli 2008, mengisahkan calon kesatria Tiuri berusia 16 tahun yang diperintahkan oleh seorang kesatria yang menghadapi sakratulmaut untuk menggantikannya mengantarkan sepucuk surat yang sangat penting kepada raja di negeri jiran. Bersama Piak, kawan seperjalanan yang berusia setahun lebih muda darinya, ia lantas mengalami petualangan yang seru dan menegangkan. Film yang disutradarai Pieter Verhoeff ini merupakan adaptasi novel remaja dengan judul yang sama yang lahir dari pena penulis Tonke Dragt.

Buku De brief voor de koning, yang berlatar belakang Abad Pertengahan fantasi, terbit pertama kali pada 1962. Pada 1963 buku ini di Belanda dinobatkan sebagai “Buku Anak Terbaik 1962” sebelum melejit sebagai salah satu buku favorit pembaca Belanda; setidaknya tiga generasi masyarakat Negeri Kincir Angin akrab dengan karya Dragt, yang kelahiran Tjikini di kota Batavia (Jakarta tempo dulu) pada 1930, yang sarat ketegangan itu. Pada 2004, novel ini di Belanda ditetapkan sebagai “Buku Anak Terbaik Periode 1955-2004”.

Edisi bahasa Indonesia De brief voor de koning, dengan judul Surat untuk Raja, diterbitkan oleh Pena Wormer pada November 2007 dan diluncurkan di acara Open House Erasmus Huis, Jakarta, pada 1 Desember 2007. Dragt secara khusus menulis surat kepada para calon pembaca di Indonesia yang dibacakan saat acara peluncuran dan mengisahkan masa remajanya di Indonesia. Dalam wawancara dengan Dragt yang terbit di Kompas edisi 25 Februari 2008, ia mengaku bahwa masa remajanya di Indonesia sangat berpengaruh terhadap karya tulisannya; lingkungan tropis sering menjadi latar belakang cerita.

Majalah Hai edisi 1/XXXII/7 Januari 2008 menyebutkan dinginnya malam, angkernya hutan belantara dan kewaspadaan, amat jelas tergambar dalam Surat untuk Raja, yang, menurut pengajar susastra dan terjemahan pada Program Studi Belanda FIB Universitas Indonesia Christina Suprihatin dalam ulasannya di Kompas edisi 25 Februari 2008, juga mengusung nilai-nilai kebajikan dalam kemasan sederhana. Piak dan Tiuri di salah satu adegan dalam 'De brief voor de koning'.

Robin Hood Belanda

Hal senada diucapkan Verhoeff. “De brief voor de koning adalah buku remaja kesayangan saya,” ujarnya kepada movie-alert.nl. “Dulu saya membacakannya kepada putra saya. Buku itu merupakan kisah petualangan indah yang menghanyutkan; semacam Robin Hood-nya Belanda.”

Daya tarik utama buku itu bagi Verhoeff (70) terletak pada tema dan abstraksi yang diangkat. Tokoh utama, Tiuri, harus belajar mewawas.

“Itu yang hebat,” lanjut Verhoeff. “Di awal Tiuri terlalu percaya sama orang, terlalu lugu. Ia melakukan perjalanan menuju kedewasaan, ia belajar untuk melihat keadaan sekeliling, untuk menilai orang. Ia belajar membedakan antara kebaikan dan kejahatan, siapa yang bisa ia percaya dan siapa tidak. Hal seperti itu jarang ditemui di dalam buku remaja.”

Versi film buku ini, yang pembuatannya menelan biaya 7,5 juta euro, mengangkat antara lain tema persahabatan, yaitu antara Tiuri dan Piak dan antara Tiuri dan Lavinia (tokoh putri bangsawan).

Tokoh utama Tiuri diperankan oleh Yannick van de Velde (19), satu-satunya aktor Belanda yang pernah memenangi penghargaan Young Artist Award, yaitu untuk film bertema sepak bola In Oranje (2004).

Dalam mengadaptasi buku ke layar lebar Verhoeff, yang sebelum film ini telah menyutradarai lima film layar lebar, berusaha untuk setidaknya menciptakan kembali atmosfir yang menjadikan buku itu istimewa.

Untuk mendukung itu, pengambilan gambar, yang dikebut dalam 47 hari, dilakukan di kastel dan hutan yang berlokasi di Jerman, Luksemburg, Belgia, Prancis, Skotlandia, dan Belanda, sementara dunia yang menjadi latar petualangan Tiuri dan Piak didominasi warna abu-abu kebiruan yang misterius.

De brief voor de koning berdurasi 110 menit.


Jenis Film: Laga & Petualangan
Produser: Hans De Weers, Pieter Klapwijk, Hubert Nieuwendijk, Reinout Oerlemans
Produksi: Armytrucks, BDF, Eyeworks Egmond, Film & Television Facilities
Homepage:
www.debriefvoordekoningdefilm.nl

Cast & Crew
Pemain:
Yannick van de Velde, Quinten Schram, Victor Reinier, Daan Schuurmans, Monic Hendrickx, Derek de Lint
Sutradara:
Pieter Verhoeff
Penulis:
Tonke Dragt, Maarten Lebens, Pieter Verhoeff


Trailer

Surat untuk Raja tersedia di toko buku Gramedia.

22 November 2008

Surat dari Tonke Dragt

Tonke Dragt (foto © Mark Sassen)Surat untuk Raja diluncurkan di acara Open Huis Erasmus Huis, Jakarta, pada 1 Desember 2007. Tonke Dragt menulis surat kepada para hadirin dan calon pembaca bukunya di Indonesia yang dibacakan pada saat peluncuran.

Pena Wormer mengucapkan banyak terima kasih kepada Yang Mulia Duta Besar Belanda untuk Indonesia Dr Nikolaos van Dam, Direktur Pusat Bahasa Belanda Erasmus Paul Peters, dan Koordinator Pusat Bahasa Belanda Erasmus Kees Groeneboer atas kesempatan yang telah diberikan, dan
last but not least kepada Kak Seto atas kehadirannya di acara peluncuran.

Untuk acara pelucuran buku, Tonke Dragt secara khusus menulis surat yang dibacakan pada saat peluncuran, yang bisa dibaca di bawah ini.


Sungguh kejutan yang menyenangkan bahwasanya buku saya De brief voor de koning diluncurkan (di sini) di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta.

Kebetulan saya mempunyai kisah tersendiri dengan yang namanya kedutaan besar, tetapi itu berkaitan dengan buku saya yang lain (Aan de andere kant van de deur), sekarang saya mau sedikit menulis tentang Jakarta.

Sebab di Jakarta ini saya menghabiskan sebagian besar masa remaja saya, walaupun waktu itu Jakarta masih bernama Batavia. Zaman itu ia juga masih jauh dari kota dengan berjuta-juta penduduk, sebuah kota metropolitan, seperti sekarang ini.

Saya lahir di Batavia kira-kira tiga perempat abad yang lalu. Ada yang mengatakan bahwa tempat itu telah tiada, kecuali dalam kenangan. Itu tidak benar. Saya kumpulkan beberapa denah, satu denah tua Batavia dan satu denah baru Jakarta, dimana yang terakhir itu saya dapatkan dari buku panduan bagi pelancong dan wisatawan.

Sungguh, rasanya ingin sekali saya mengunjungi kembali tanah kelahiran saya, tetapi sampai sekarang hal itu belum kesampaian dan sekarang saya sudah terlalu berumur untuk bepergian jauh-jauh. Namun, kenangan yang terus hidup dalam ingatan barang tentu berharga juga. Pada denah Jakarta saya masih bisa menemukan beberapa lokasi yang bisa saya kenali.

Saya lahir pada 1930 di Rumah Sakit Tjikini, dan Kecamatan Cikini rupanya masih ada, walaupun dengan ejaan yang berbeda, dan selain itu juga ada bangunan rumah sakit, tetapi kemungkinan itu bukanlah rumah sakit yang sama.

Bahwasanya lapangan besar itu –dengan luas kira-kira satu kilometer– masih ada, itu saya tahu; namun, namanya bukan lagi Koningsplein, tetapi Lapangan Merdeka, pusat kota yang cukup penting tempat banyak hal yang bisa dilihat yang sudah tidak saya kenali lagi.

Termasuk bangunan-bangunan yang sudah ada pada masa saya. Tetapi kalau saya memerhatikan keseluruhannya, semua jalan dan bangunan penting itu, batin saya: Saya bakal kesasar di sana.

Saya juga mencari Kedutaan Besar Belanda, yang kalau tidak salah terletak agak di selatan, di suatu lokasi tempat kota semasa remaja saya belum berkembang sampai ke sana. Kadang kami jalan-jalan naik sepeda dan setibanya di selatan Banjir Kanal langsung kami sampai keluar kota. Namun, pertama kami mesti menyeberangi kanal lewat jembatan gantung yang kecil dan sedikit membuat waswas itu...

YM Dubes Belanda untuk Indonesia, Dr Nikolaos van Dam, dengan buku 'Surat untuk Raja'. (foto © Pena Wormer)Di Batavia, dengan diselingi beberapa kali di Surabaya dan Belanda, saya hidup sangat bahagia bersama orang tua dan dua adik perempuan saya. Beberapa jalan masih ada, seperti Jalan Pekalongan (kami dulu tinggal di No. 6) dan Jalan Besuki tempat berdirinya sekolah kami. Jalan Tosari, alamat rumah terakhir saya sebelum perang, sekarang bernama lain; Jalan Dr Kusuma Atmaja. Saat mempelajari denah Jakarta masa kini, saya tentu membayangkan jalan-jalan yang sama sekali lain dari yang ada sekarang: di mana-mana bangunan rendah dan banyak perkarangan besar dan kecil, tanpa ada bangunan apartemen dan pencakar langit. Dua taman umum di Jalan Dr Kusumu Atmaja (atau Tosariweg 13 bagi saya) masih ada. Lantas, betulkah gereja di denah itu Gereja Nassau saya yang dulu itu?

Dari Selatan ke Utara, mengikuti jalan yang panjang ke Priok dan Klub Marina di pesisir.

Saya masih ingat dengan laut dan juga tamasya sekolah ke salah satu pulau di teluk.

Di antara Utara dan Selatan saya berjumpa tempat-tempat yang membangkitkan kenangan yang kurang menyenangkan –di dalam daerah-daerah pemukiman yang saat zaman perang dipagari gedek dan kawat, kamp pengasingan Jepang. Saya, bersama ibu dan kedua saudari saya, pertama menghuni kamp Kramat. Rumah yang kami tempati bersama banyak keluarga lainnya cukup nyaman karena dilengkapi kebun yang indah, yang berbatasan dengan Sungai Ciliwung di Kramatlaan 15 –kalau tidak salah jalan itu sekarang bernama Kramat 5. Tidak lama kemudian kami dipindahkan ke kamp yang jauh lebih buruk. Tanpa dinyana di denah Jakarta saya menemukan jalan tempat kami dulu tinggal, yaitu Ciudjung No. 10 dekat Cideng Barat dan sejajar dengan Tanah Abang 2 (zaman saya, Laan Trivelli).

Di Kamp Jepang di Cideng saya, waktu itu 13 tahun, menulis cerita saya yang pertama –sebetulnya bukan cerita lagi, tetapi satu buku yang utuh! Bersama-sama dengan teman perempuan yang sepantaran. Kami menulis berdua. Dan saya yang menggambar ilustrasinya. Kami berdua doyan sekali membaca, tetapi karena di kamp bukunya sedikit sekali, kami memutuskan untuk membuat saja buku sendiri. Ternyata, itu memakan banyak waktu dan tenaga!
Kertasnya kami mengais di sana sini. Buku tulis sekolah yang lembar-lembarnya sudah kami tulisi dengan pensil kami hapus bersih. Yang cukup luar biasa adalah bahwa buku kami benar-benar RAMPUNG. Ceritanya sendiri biasa-biasa saja alias tidak orisinal. Namun, ia sarat petualangan dan jauh di kemudian hari saya menjadi sadar bahwa jika para jagoannya tertangkap mereka selalu bisa lolos. Terus, setiap santapan ditulis panjang lebar.

Jadi di Kamp Cideng, Batavia, artinya di kota Jakarta, saya memulai perjalanan saya sebagai penulis. Walaupun pada saat itu saya belum tahu bahwa itu akan menjadi profesi saya. Namun, saya menyadari betapa asyiknya mengisahkan cerita, secara lisan atau pun tulisan, dan dengan cara itu memikat perhatian orang. Salah satu negeri khayalan saya pada zaman itu –Babina– bahkan bisa ditemukan kembali dalam buku 'benaran' saya yang pertama, Verhalen van de tweelingbroers (Hikayat si Kembar) yang terbit pada 1961. Lebih banyak negeri khayalan menyusul setelah itu seperti Kerajaan Baginda Dagonaut dan Unauwen.

Tiga tahun di kamp konsentrasi. Ibu saya, saudari-saudari saya, dan saya sendiri di kamp perempuan, ayah saya di tempat lain, sebagai tawanan perang, entah di mana.
Kak Seto memberikan kata sambutan. (foto © Pena Wormer)
Alangkah bahagianya kami ketika kami berjumpa kembali dengan ayah pada 1945 sehingga keluarga kami lengkap kembali. Tahun-tahun di kamp itu tidak menodai kenangan indah masa remaja saya.

Soal kenangan masa remaja saya, maka perlu juga saya menyebutkan acara jalan-jalan keluar Batavia, ke kebun raya di Bogor (Buitenzorg) dan terus lagi ke pegunungan, ke Puncak dan Situgunung

Pun setelah perang usai, setelah sempat hijrah ke Belanda sebentar, saya beserta keluarga menetap di Batavia. Waktu itu kami tahu bahwa Batavia akan berganti nama. Jalan tempat rumah kami berdiri –Jalan Jawa 102, dengan pohon-pohon cemara sepanjang jalan setapak perkarangan– untuk zaman itu cukup ramai dilalui lalu lintas. Hari ini, jalan itu pastinya amat sangat padat, panjang dan lebar, sebuah jalan arteri tulen, yang di foto-foto tampil cukup mengesankan dan tidak bisa dikenali lagi: Jalan HOS Cokroaminoto!

Namun, Jalan Besuki masih menjadi cabang jalan dari Jalan HOS Cokroaminoto, tetapi sekolah lama saya kemungkinan sudah tidak ada. Zaman itu saya bersekolah di HBS (sekolah menengah) di Koningsplein/ Lapangan Merdeka Timur.

Di kemudian hari, pada 1950, ketika saya kembali di Belanda, saya menulis surat-surat ke Jakarta. Ayah masih bekerja di sana dan ia tinggal di sana selama beberapa tahun lagi. Saya juga mengirimkan gambar-gambar sebab saat itu saya kuliah di Academie van Beeldende Kunsten (Akademi Seni Rupa) di Den Haag. Masih acap kali dengan rasa rindu kepada negeri masa remaja saya itu.

Sebagai penggambar dan penulis saya gemar membuat peta dan tulisan dari negeri-negeri yang saya karang atau, yang lebih tepat, yang saya temukan. Barangkali karena saya menjadi bagian dari dua negara yang berbeda, yang dua-duanya saya cintai, namun yang di satu pun saya tidak pernah benar-benar merasa betah...

Akan tetapi, dalam khayalan-khayalan saya, saya tidak pernah menyangka bahwa anak muda di kota dan negara kelahiran saya berkesempatan untuk berkenalan dengan beberapa dari negeri fantasi saya (yang sesungguhnya cukup riil), dan juga dengan Tiuri, yang bertolak menempuh perjalanan yang penuh petualangan dari negeri Raja Dagonaut ke Kerajaan Baginda Unauwen.

Dan sekarang saya telah kembali di titik awal, di mana De brief voor de koning dalam versi Bahasa Indonesia diluncurkan di Kedutaan Besar Belanda. Saya mengucapkan pembaca-pembaca baru saya, muda dan tua, banyak keasyikan penuh ketegangan.

Dan salam hangat dari saya kepada Anda semua di sini.

Tonke Dragt

Surat untuk Raja tersedia di toko buku Gramedia.

Surat untuk Raja

Surat untuk RajaJudul: Surat untuk Raja
Judul Asli: De brief voor de koning
Penulis: Tonke Dragt
Alih Bahasa: Laurens Sipahelut
Tebal: 526 hlm
Ukuran: 14 cm x 21 cm
Umur: +11
ISBN: 978-979-15417-1-8
Harga: Rp 59.500


"Buku ini mengusung nilai-nilai kebajikan dalam kemasan sederhana." -Christina Suprihatin, harian Kompas

"Dinginnya malam, angkernya hutan belantara dan kewaspadaan, amat jelas tergambar dalam novel terbitan Pena Wormer ini." -Majalah HAI


'Banyak bahaya akan mengancammu...'


Tiuri terduduk dengan tegak dan memandang ke jendela. Ia tidak melihat apa pun, tidak ada bayangan orang. Jadi, bisa saja tadi hanya khayalannya. Coba itu betul! Ia tidak mungkin menuruti permintaan suara itu, sekalipun terdengar begitu mendesak. Ia menutup wajah dengan kedua tangan dan berusaha mengusir pergi semua pemikiran dari dalam hatinya. Namun, sekali lagi ia mendengar suara itu. Sangat jelas, walaupun hanya berupa bisikan: 'Dalam nama Tuhan, bukakan pintu!'


Tiuri melanggar peraturan, yang menyatakan ia tidak boleh berbicara dengan siapa pun pada malam menjelang pelantikannya menjadi kesatria. Ia membuka pintu. Permintaan yang diajukan kepadanya ternyata tugas penuh mara bahaya. Tiuri diburu Pusu Pengendara Merah yang bermaksud jahat yang mengancam akan membunuhnya. Namun, ia bertekad mengantar surat yang sangat penting itu kepada Raja Unauwen. Pengorbanan Kesatria Hitam Laskar Perisai Putih yang melepas nyawa demi surat itu tidak akan sia-sia....


Di Belanda, De brief voor de koning telah dicetak ulang 28 kali sejak pertama kali terbit pada 1962.
Kalangan pengamat buku anak menilai buku ini sebagai karya abadi yang memiliki semua hal yang mesti dimiliki sebuah buku anak yang bagus. Kisah menegangkan yang menghanyutkan pembacanya, tua maupun muda.

Surat untuk Raja tersedia di toko buku Gramedia.