Tampilkan postingan dengan label erasmus huis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label erasmus huis. Tampilkan semua postingan

03 November 2009

Empat Mata dengan Henk Kraima

Henk Kraima (sumber: www.cpnb.nl) Pada 7 Oktober 2009, di Jakarta, berkat kerja sama dengan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dan dukungan Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI), pusat kebudayaan Belanda Erasmus Huis menyelenggarakan seminar dan diskusi panel bertajuk Kenapa Penampilan Buku Harus Baik.

Panel beranggotakan Henk Kraima (ketua Stichting De Best Verzorgde Boeken atau Yayasan Desain Buku Belanda Terbaik), Dharma Hutauruk (penerbit Erlangga), Sulaiman Budiman (Store Manager Toko Buku Gramedia), dan Hermawan Tanzil (desainer grafis). Sementara panelis terdiri dari kalangan penerbit (termasuk Pena Wormer), desainer grafis, dan pemerhati desain grafis buku.

Selesai diskusi, masih di Erasmus Huis, berlangsung acara pembukaan Pameran Desain Buku Belanda Terbaik. Pameran tersebut, yang diselenggarakan Erasmus Huis bekerja sama dengan Yayasan Desain Buku Belanda Terbaik, berlangsung dari 8 Oktober s/d 12 November 2009.

Berikut obrolan ringan dengan Henk Kraima untuk mengenalnya lebih jauh.

Bisa dijelaskan sedikit mengenai Yayasan Desain Buku Belanda Terbaik?
Ini adalah suatu yayasan yang didirikan kalangan penerbit, toko buku, desainer grafis, dan percetakan [di Belanda]. Tujuannya adalah meningkatkan animo terhadap desain grafis buku serta merangsang kualitas desain dengan saban tahun memilih dan mempertunjukkan 33 buku berdesain terbaik.

Belanda punya reputasi tinggi di dunia desain buku. Faktor apa saja yang berada di balik ini?
Pendidikan berkualitas yang diselenggarakan sejumlah perguruan tinggi; penerbit yang mengapresiasi desain; desainer yang berwawasan internasional.

Sampul buku yang baik mesti...menyentuh hati.

Saya paling tidak tahan melihat sampul buku yang...mirip dengan tetangganya. (jawaban Kraima dalam bahasa Inggris: looks like its neighbour.)

Desain sampul terfavorit sepanjang masa versi Anda pribadi?
Sampul Metropolitan World Atlas (sedang dipamerkan di Erasmus Huis Jakarta) karya desainer grafis Joost Grootens.

Apa kira-kira dampak e-book terhadap dunia desain buku?Peraturan perundang-undangan yang mengatur dunia digital akan berpengaruh pada desain cetak. Pasal, desain buku yang baik senantiasa berinteraksi dengan tren desain penting lainnya.

Masyarakat Belanda gemar membaca buku. Mitos atau fakta?
Fakta. Belanda masuk peringkat 10 besar dalam setiap kategori perbukuan internasional: jumlah toko buku terbanyak per jiwa penduduk, perpustakaan umum, judul baru buku, dsb.

Buku terakhir yang Anda baca?What I talk about when I talk about running karangan Haruki Murakami.

Anda tinggal di Amsterdam. Bagi yang akan mengunjungi kota tersebut untuk pertama kali, pantangan dan anjuran apa yang bisa Anda sarankan?
Kunjungi museum Van Gogh dan ikuti tur wisata lintas kanal. Jangan sewa sepeda. Jangan beli narkoba.

Lagu (atau gubahan instrumental) apa yang menurut Anda paling mewakili Amsterdam?
Tulips from Amsterdam, yang dimainkan seorang pemain organ jalanan. Dan bagi yang bisa bahasa Prancis: Amsterdam oleh Jacques Brel. (pena wormer)




Jika ada pertanyaan langsung untuk Henk Kraima, silakan tuliskan sebagai komentar.

04 Februari 2009

Nonton bareng 'De brief voor de koning': jepretan kilas

Stan buku di Erasmus Huis.Pada 31 Januari 2009, Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta, dipadati pengunjung yang khusus datang untuk menonton film De brief voor de koning alias Surat untuk Raja karya sutradara Pieter Verhoeff yang diputar dua kali secara maraton. Serbaseru: iya filmnya, iya penontonnya! Pena Wormer melapor lewat jepretan kilas.




Rombongan SMP 5 Jakarta.Rombongan SMP 5 Jakarta yang menonton pemutaran sesi pertama yang start pukul 13.30 WIB. Ada yang kesengsem dengan Yannick van de Velde, aktor ganteng yang memerankan Tiuri?

Menjelang pemutaran sesi kedua.Suasana menjelang pemutaran kedua yang dimulai pada pukul 16.00 WIB: berpose sebelum dilarang, eh, sebelum lampu dipadamkan.

Menjelang pemutaran sesi kedua.Di akhir pemutaran pertama maupun kedua De brief voor de koning mendapat tepuk tangan meriah.

Menjelang pemutaran sesi kedua.Terima kasih kepada Erasmus Huis atas penyelenggaraan acara nonton bareng De brief voor de koning.

Stan buku di Erasmus Huis.Stan buku Surat untuk Raja, edisi bahasa Indonesia De brief voor de koning karangan Tonke Dragt yang diterbitkan oleh Pena Wormer, di Erasmus Huis pada hari pemutaran film. Terima kasih kepada toko buku Gramedia dan distributor BIP atas kerja sama yang mulus.

Stan buku di Erasmus Huis.Seusai menonton: membawa pulang sedikit budaya Belanda.

(foto © hak cipta Pena Wormer, 2009)
Surat untuk Raja tersedia di toko buku Gramedia.

14 Januari 2009

Pemutaran Film ‘De brief voor de koning’ di Erasmus Huis

De brief voor de koning Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta, akan menayangkan film keluarga De brief voor de koning (Surat untuk Raja) secara gratis pada Sabtu, 31 Januari 2009. Film berbahasa Belanda dengan teks bahasa Inggris ini ditayangkan dua kali pada pukul 13.30 WIB dan 16.00 WIB.

De brief voor de koning, yang di Belanda diperdanakan di bioskop pada 13 Juli 2008, mengisahkan calon kesatria Tiuri berusia 16 tahun yang diperintahkan oleh seorang kesatria yang menghadapi sakratulmaut untuk menggantikannya mengantarkan sepucuk surat yang sangat penting kepada raja di negeri jiran. Bersama Piak, kawan seperjalanan yang berusia setahun lebih muda darinya, ia lantas mengalami petualangan yang seru dan menegangkan. Film yang disutradarai Pieter Verhoeff ini merupakan adaptasi novel remaja dengan judul yang sama yang lahir dari pena penulis Tonke Dragt.

Buku De brief voor de koning, yang berlatar belakang Abad Pertengahan fantasi, terbit pertama kali pada 1962. Pada 1963 buku ini di Belanda dinobatkan sebagai “Buku Anak Terbaik 1962” sebelum melejit sebagai salah satu buku favorit pembaca Belanda; setidaknya tiga generasi masyarakat Negeri Kincir Angin akrab dengan karya Dragt, yang kelahiran Tjikini di kota Batavia (Jakarta tempo dulu) pada 1930, yang sarat ketegangan itu. Pada 2004, novel ini di Belanda ditetapkan sebagai “Buku Anak Terbaik Periode 1955-2004”.

Edisi bahasa Indonesia De brief voor de koning, dengan judul Surat untuk Raja, diterbitkan oleh Pena Wormer pada November 2007 dan diluncurkan di acara Open House Erasmus Huis, Jakarta, pada 1 Desember 2007. Dragt secara khusus menulis surat kepada para calon pembaca di Indonesia yang dibacakan saat acara peluncuran dan mengisahkan masa remajanya di Indonesia. Dalam wawancara dengan Dragt yang terbit di Kompas edisi 25 Februari 2008, ia mengaku bahwa masa remajanya di Indonesia sangat berpengaruh terhadap karya tulisannya; lingkungan tropis sering menjadi latar belakang cerita.

Majalah Hai edisi 1/XXXII/7 Januari 2008 menyebutkan dinginnya malam, angkernya hutan belantara dan kewaspadaan, amat jelas tergambar dalam Surat untuk Raja, yang, menurut pengajar susastra dan terjemahan pada Program Studi Belanda FIB Universitas Indonesia Christina Suprihatin dalam ulasannya di Kompas edisi 25 Februari 2008, juga mengusung nilai-nilai kebajikan dalam kemasan sederhana. Piak dan Tiuri di salah satu adegan dalam 'De brief voor de koning'.

Robin Hood Belanda

Hal senada diucapkan Verhoeff. “De brief voor de koning adalah buku remaja kesayangan saya,” ujarnya kepada movie-alert.nl. “Dulu saya membacakannya kepada putra saya. Buku itu merupakan kisah petualangan indah yang menghanyutkan; semacam Robin Hood-nya Belanda.”

Daya tarik utama buku itu bagi Verhoeff (70) terletak pada tema dan abstraksi yang diangkat. Tokoh utama, Tiuri, harus belajar mewawas.

“Itu yang hebat,” lanjut Verhoeff. “Di awal Tiuri terlalu percaya sama orang, terlalu lugu. Ia melakukan perjalanan menuju kedewasaan, ia belajar untuk melihat keadaan sekeliling, untuk menilai orang. Ia belajar membedakan antara kebaikan dan kejahatan, siapa yang bisa ia percaya dan siapa tidak. Hal seperti itu jarang ditemui di dalam buku remaja.”

Versi film buku ini, yang pembuatannya menelan biaya 7,5 juta euro, mengangkat antara lain tema persahabatan, yaitu antara Tiuri dan Piak dan antara Tiuri dan Lavinia (tokoh putri bangsawan).

Tokoh utama Tiuri diperankan oleh Yannick van de Velde (19), satu-satunya aktor Belanda yang pernah memenangi penghargaan Young Artist Award, yaitu untuk film bertema sepak bola In Oranje (2004).

Dalam mengadaptasi buku ke layar lebar Verhoeff, yang sebelum film ini telah menyutradarai lima film layar lebar, berusaha untuk setidaknya menciptakan kembali atmosfir yang menjadikan buku itu istimewa.

Untuk mendukung itu, pengambilan gambar, yang dikebut dalam 47 hari, dilakukan di kastel dan hutan yang berlokasi di Jerman, Luksemburg, Belgia, Prancis, Skotlandia, dan Belanda, sementara dunia yang menjadi latar petualangan Tiuri dan Piak didominasi warna abu-abu kebiruan yang misterius.

De brief voor de koning berdurasi 110 menit.


Jenis Film: Laga & Petualangan
Produser: Hans De Weers, Pieter Klapwijk, Hubert Nieuwendijk, Reinout Oerlemans
Produksi: Armytrucks, BDF, Eyeworks Egmond, Film & Television Facilities
Homepage:
www.debriefvoordekoningdefilm.nl

Cast & Crew
Pemain:
Yannick van de Velde, Quinten Schram, Victor Reinier, Daan Schuurmans, Monic Hendrickx, Derek de Lint
Sutradara:
Pieter Verhoeff
Penulis:
Tonke Dragt, Maarten Lebens, Pieter Verhoeff


Trailer

Surat untuk Raja tersedia di toko buku Gramedia.

22 November 2008

Surat dari Tonke Dragt

Tonke Dragt (foto © Mark Sassen)Surat untuk Raja diluncurkan di acara Open Huis Erasmus Huis, Jakarta, pada 1 Desember 2007. Tonke Dragt menulis surat kepada para hadirin dan calon pembaca bukunya di Indonesia yang dibacakan pada saat peluncuran.

Pena Wormer mengucapkan banyak terima kasih kepada Yang Mulia Duta Besar Belanda untuk Indonesia Dr Nikolaos van Dam, Direktur Pusat Bahasa Belanda Erasmus Paul Peters, dan Koordinator Pusat Bahasa Belanda Erasmus Kees Groeneboer atas kesempatan yang telah diberikan, dan
last but not least kepada Kak Seto atas kehadirannya di acara peluncuran.

Untuk acara pelucuran buku, Tonke Dragt secara khusus menulis surat yang dibacakan pada saat peluncuran, yang bisa dibaca di bawah ini.


Sungguh kejutan yang menyenangkan bahwasanya buku saya De brief voor de koning diluncurkan (di sini) di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta.

Kebetulan saya mempunyai kisah tersendiri dengan yang namanya kedutaan besar, tetapi itu berkaitan dengan buku saya yang lain (Aan de andere kant van de deur), sekarang saya mau sedikit menulis tentang Jakarta.

Sebab di Jakarta ini saya menghabiskan sebagian besar masa remaja saya, walaupun waktu itu Jakarta masih bernama Batavia. Zaman itu ia juga masih jauh dari kota dengan berjuta-juta penduduk, sebuah kota metropolitan, seperti sekarang ini.

Saya lahir di Batavia kira-kira tiga perempat abad yang lalu. Ada yang mengatakan bahwa tempat itu telah tiada, kecuali dalam kenangan. Itu tidak benar. Saya kumpulkan beberapa denah, satu denah tua Batavia dan satu denah baru Jakarta, dimana yang terakhir itu saya dapatkan dari buku panduan bagi pelancong dan wisatawan.

Sungguh, rasanya ingin sekali saya mengunjungi kembali tanah kelahiran saya, tetapi sampai sekarang hal itu belum kesampaian dan sekarang saya sudah terlalu berumur untuk bepergian jauh-jauh. Namun, kenangan yang terus hidup dalam ingatan barang tentu berharga juga. Pada denah Jakarta saya masih bisa menemukan beberapa lokasi yang bisa saya kenali.

Saya lahir pada 1930 di Rumah Sakit Tjikini, dan Kecamatan Cikini rupanya masih ada, walaupun dengan ejaan yang berbeda, dan selain itu juga ada bangunan rumah sakit, tetapi kemungkinan itu bukanlah rumah sakit yang sama.

Bahwasanya lapangan besar itu –dengan luas kira-kira satu kilometer– masih ada, itu saya tahu; namun, namanya bukan lagi Koningsplein, tetapi Lapangan Merdeka, pusat kota yang cukup penting tempat banyak hal yang bisa dilihat yang sudah tidak saya kenali lagi.

Termasuk bangunan-bangunan yang sudah ada pada masa saya. Tetapi kalau saya memerhatikan keseluruhannya, semua jalan dan bangunan penting itu, batin saya: Saya bakal kesasar di sana.

Saya juga mencari Kedutaan Besar Belanda, yang kalau tidak salah terletak agak di selatan, di suatu lokasi tempat kota semasa remaja saya belum berkembang sampai ke sana. Kadang kami jalan-jalan naik sepeda dan setibanya di selatan Banjir Kanal langsung kami sampai keluar kota. Namun, pertama kami mesti menyeberangi kanal lewat jembatan gantung yang kecil dan sedikit membuat waswas itu...

YM Dubes Belanda untuk Indonesia, Dr Nikolaos van Dam, dengan buku 'Surat untuk Raja'. (foto © Pena Wormer)Di Batavia, dengan diselingi beberapa kali di Surabaya dan Belanda, saya hidup sangat bahagia bersama orang tua dan dua adik perempuan saya. Beberapa jalan masih ada, seperti Jalan Pekalongan (kami dulu tinggal di No. 6) dan Jalan Besuki tempat berdirinya sekolah kami. Jalan Tosari, alamat rumah terakhir saya sebelum perang, sekarang bernama lain; Jalan Dr Kusuma Atmaja. Saat mempelajari denah Jakarta masa kini, saya tentu membayangkan jalan-jalan yang sama sekali lain dari yang ada sekarang: di mana-mana bangunan rendah dan banyak perkarangan besar dan kecil, tanpa ada bangunan apartemen dan pencakar langit. Dua taman umum di Jalan Dr Kusumu Atmaja (atau Tosariweg 13 bagi saya) masih ada. Lantas, betulkah gereja di denah itu Gereja Nassau saya yang dulu itu?

Dari Selatan ke Utara, mengikuti jalan yang panjang ke Priok dan Klub Marina di pesisir.

Saya masih ingat dengan laut dan juga tamasya sekolah ke salah satu pulau di teluk.

Di antara Utara dan Selatan saya berjumpa tempat-tempat yang membangkitkan kenangan yang kurang menyenangkan –di dalam daerah-daerah pemukiman yang saat zaman perang dipagari gedek dan kawat, kamp pengasingan Jepang. Saya, bersama ibu dan kedua saudari saya, pertama menghuni kamp Kramat. Rumah yang kami tempati bersama banyak keluarga lainnya cukup nyaman karena dilengkapi kebun yang indah, yang berbatasan dengan Sungai Ciliwung di Kramatlaan 15 –kalau tidak salah jalan itu sekarang bernama Kramat 5. Tidak lama kemudian kami dipindahkan ke kamp yang jauh lebih buruk. Tanpa dinyana di denah Jakarta saya menemukan jalan tempat kami dulu tinggal, yaitu Ciudjung No. 10 dekat Cideng Barat dan sejajar dengan Tanah Abang 2 (zaman saya, Laan Trivelli).

Di Kamp Jepang di Cideng saya, waktu itu 13 tahun, menulis cerita saya yang pertama –sebetulnya bukan cerita lagi, tetapi satu buku yang utuh! Bersama-sama dengan teman perempuan yang sepantaran. Kami menulis berdua. Dan saya yang menggambar ilustrasinya. Kami berdua doyan sekali membaca, tetapi karena di kamp bukunya sedikit sekali, kami memutuskan untuk membuat saja buku sendiri. Ternyata, itu memakan banyak waktu dan tenaga!
Kertasnya kami mengais di sana sini. Buku tulis sekolah yang lembar-lembarnya sudah kami tulisi dengan pensil kami hapus bersih. Yang cukup luar biasa adalah bahwa buku kami benar-benar RAMPUNG. Ceritanya sendiri biasa-biasa saja alias tidak orisinal. Namun, ia sarat petualangan dan jauh di kemudian hari saya menjadi sadar bahwa jika para jagoannya tertangkap mereka selalu bisa lolos. Terus, setiap santapan ditulis panjang lebar.

Jadi di Kamp Cideng, Batavia, artinya di kota Jakarta, saya memulai perjalanan saya sebagai penulis. Walaupun pada saat itu saya belum tahu bahwa itu akan menjadi profesi saya. Namun, saya menyadari betapa asyiknya mengisahkan cerita, secara lisan atau pun tulisan, dan dengan cara itu memikat perhatian orang. Salah satu negeri khayalan saya pada zaman itu –Babina– bahkan bisa ditemukan kembali dalam buku 'benaran' saya yang pertama, Verhalen van de tweelingbroers (Hikayat si Kembar) yang terbit pada 1961. Lebih banyak negeri khayalan menyusul setelah itu seperti Kerajaan Baginda Dagonaut dan Unauwen.

Tiga tahun di kamp konsentrasi. Ibu saya, saudari-saudari saya, dan saya sendiri di kamp perempuan, ayah saya di tempat lain, sebagai tawanan perang, entah di mana.
Kak Seto memberikan kata sambutan. (foto © Pena Wormer)
Alangkah bahagianya kami ketika kami berjumpa kembali dengan ayah pada 1945 sehingga keluarga kami lengkap kembali. Tahun-tahun di kamp itu tidak menodai kenangan indah masa remaja saya.

Soal kenangan masa remaja saya, maka perlu juga saya menyebutkan acara jalan-jalan keluar Batavia, ke kebun raya di Bogor (Buitenzorg) dan terus lagi ke pegunungan, ke Puncak dan Situgunung

Pun setelah perang usai, setelah sempat hijrah ke Belanda sebentar, saya beserta keluarga menetap di Batavia. Waktu itu kami tahu bahwa Batavia akan berganti nama. Jalan tempat rumah kami berdiri –Jalan Jawa 102, dengan pohon-pohon cemara sepanjang jalan setapak perkarangan– untuk zaman itu cukup ramai dilalui lalu lintas. Hari ini, jalan itu pastinya amat sangat padat, panjang dan lebar, sebuah jalan arteri tulen, yang di foto-foto tampil cukup mengesankan dan tidak bisa dikenali lagi: Jalan HOS Cokroaminoto!

Namun, Jalan Besuki masih menjadi cabang jalan dari Jalan HOS Cokroaminoto, tetapi sekolah lama saya kemungkinan sudah tidak ada. Zaman itu saya bersekolah di HBS (sekolah menengah) di Koningsplein/ Lapangan Merdeka Timur.

Di kemudian hari, pada 1950, ketika saya kembali di Belanda, saya menulis surat-surat ke Jakarta. Ayah masih bekerja di sana dan ia tinggal di sana selama beberapa tahun lagi. Saya juga mengirimkan gambar-gambar sebab saat itu saya kuliah di Academie van Beeldende Kunsten (Akademi Seni Rupa) di Den Haag. Masih acap kali dengan rasa rindu kepada negeri masa remaja saya itu.

Sebagai penggambar dan penulis saya gemar membuat peta dan tulisan dari negeri-negeri yang saya karang atau, yang lebih tepat, yang saya temukan. Barangkali karena saya menjadi bagian dari dua negara yang berbeda, yang dua-duanya saya cintai, namun yang di satu pun saya tidak pernah benar-benar merasa betah...

Akan tetapi, dalam khayalan-khayalan saya, saya tidak pernah menyangka bahwa anak muda di kota dan negara kelahiran saya berkesempatan untuk berkenalan dengan beberapa dari negeri fantasi saya (yang sesungguhnya cukup riil), dan juga dengan Tiuri, yang bertolak menempuh perjalanan yang penuh petualangan dari negeri Raja Dagonaut ke Kerajaan Baginda Unauwen.

Dan sekarang saya telah kembali di titik awal, di mana De brief voor de koning dalam versi Bahasa Indonesia diluncurkan di Kedutaan Besar Belanda. Saya mengucapkan pembaca-pembaca baru saya, muda dan tua, banyak keasyikan penuh ketegangan.

Dan salam hangat dari saya kepada Anda semua di sini.

Tonke Dragt

Surat untuk Raja tersedia di toko buku Gramedia.